Suara Hati Seorang Perempuan

Monday, April 21, 2008

Perempuan Menggugat

Peringatan Hari Kartini dirayakan setiap tanggal 21 April. Kartini simbol pergerakan perempuan di Indonesia. Kartini berhasil menyuarakan ketidakadilan sistem yang dulu tengah dihadapinya. Dulu, Kartini melawan sistem penjajahan Belanda melalui tulisan surat-suratnya. Surat-surat Kartini dikirim ke temannya menyebar ke dunia. Tulisan-tulisannya menceritakan semangatnya melawan penindasan saat itu. Tulisan Kartini menyuarakan semangat, gugatan dan perlawanan sikap Kartini sebagai pahlawan yang dikenal dengan tulisan “habis gelap terbitlah terang”. Lalu, apa refleksi untuk kita?

***

Perempuan Menggugat

Oleh : Najlah Naqiyah


Peringatan Hari Kartini dirayakan setiap tanggal 21 April. Kartini simbol pergerakan perempuan di Indonesia. Kartini berhasil menyuarakan ketidakadilan sistem yang dulu tengah dihadapinya. Dulu, Kartini melawan sistem penjajahan Belanda melalui tulisan surat-suratnya. Surat-surat Kartini dikirim ke temannya menyebar ke dunia. Tulisan-tulisannya menceritakan semangatnya melawan penindasan saat itu. Tulisan Kartini menyuarakan semangat, gugatan dan perlawanan sikap Kartini sebagai pahlawan yang dikenal dengan tulisan “habis gelap terbitlah terang”. Di era globalisasi dan kapitalisme telah membuat harga-harga kebutuhan pokok mahal. Sistem monopoli dagang kapitalisme memihak pemodal dan mencekik masyarakat miskin.

Keadilan peran bagi perempuan belum sepenuhnya terwujud. Banyak perempuan mengalami peran ganda dalam wilayah domestik dan publik. Banyak pula perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, seperti cerai, perselingkuhan, dan pemukulan. Perempuan mengurus pekerjaan rumah tangga dengan segala beban kewajiban mereka merawat anak-anak, juga mencari nafkah. Ketika laki-laki tidak memiliki gaji yang cukup, atau ketika laki-laki tidak menceraikan dan emmbiarkan perempuan tanpa nafkah, maka banyak perempuan yang terjun sebagai penyangga ekonomi keluarga. Kesejahteraan yang diimpikan perempuan, kadang mesti dikorbankan untuk kehidupan keluarga. Perempuan seringkali mengorbankan kepentingan mereka demi kepentingan anak, keluarga dan orang lain. Ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan selayaknya dilawan oleh perempuan.

Kini, saatnya perempuan menggugat sistem yang tidak adil di negeri ini, perempuan mempertanyakan kembali, apakah kouta 30 % yang tercantum dalam UU no 12/2003 tentang keterwakilan perempuan di kekuasaan telah membawa perubahan nasib perempuan lebih baik? Tidak, ketika menteri keuangan perempuan dan para anggota legislatif ada perwakilan perempuan, justru harga-harga bahan pokok makin melambung. Dimana ada kesejahteraan bagi kaum perempuan, jika harga-harga kebutuhan rumah tangga selalu naik? Bagaimana mewujudkan kesejahteraan anak dan perempuan, jika tidak ada sistem yang melindungi kaum miskin? Eksploitasi anak dan perempuan makin merajalela, kemiskinan dan kemelaratan dibiarkan. Anak dan perempuan terjebak trafficking, kurir narkoba, pekerja seks. Siapa yang paling dikorbankan atas sistem yang diskriminatif, eksploitatif ? Anak dan perempuan yang paling menderita. Banyak ibu-ibu frustasi akibat tidak punya biaya untuk merawat anak-anak mereka. Kekerasan yang mendera kaum perempuan berupa (1) stres (2) bergantung pada orang lain (3) miskin ekonomi (4) harga diri rendah (5) tidak memiliki akses informasi dan teknologi (6) kecemasan berlebihan (7) terisolir dari lingkungan (8) putus asa dan frustasi. Bentuk frustasi perempuan miskin yang mengambil jalan pintas seperti perilaku seorang ibu yang meninggalkan anak-anak balita mereka di rumah sakit begitu saja.


Kesetaraan gender di Indonesia belum terjadi. Peran gender yang berlaku di masyarakat masih bertumpu pada perempuan sebagai pemeran domestik sekaligus publik. Kini, perempuan di era globalisasi makin kompleks perannya. Disatu sisi, belum ada kesepahaman antara pasangan mereka tentang kesetaraan gender, sementara disisi lain, perempuan harus bekerja memenuhi nafkah diri dan anak-anak mereka. Akibatnya, perempuan bertumpu pada dua tugas besar yang mesti mereka pikul, peran domestik dan publik. Bertambahnya peran perempuan sebagai sumber penghasilan dapat di lihat dari bertambahnya angka partisipasi angkatan kerja perempuan 55 % pada tahun 1999. maka, dampak langsung dari krisis adalah bertambah panjangnya jam kerja dan jam ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidup. (UNICEF 2000).

Perempuan mengurus kebutuhan rumah tangga, mulai dari urusan dapur, rumah, anak serta kantor. Semestinya, peran domestik bisa dilakukan juga oleh laki-laki. Tetapi masyarakat masih tabu jika melihat laki-laki menggendong balita, laki-laki memasak di dapur atau laki-laki mencuci baju dan menyapu rumah. Padahal, peran domestik tersebut bisa dipergantikan antara laki-laki dan perempuan. Sementara perempuan, selain mereka bekerja sebagai ibu rumah tangga, mereka dituntut untuk bekerja dan beraktualisasi di luar rumah.

Perempuan yang terlalu berkorban akan merasakan sakit secara psikologis dan fisiologisnya. Perempuan makin stres menghadapi dua pekerjaan besar (urusan rumah dan urusan kantor). Urusan rumah tangga dimulai dari bangun tidur sampai larut malam. Perempuan bekerja mulai dari membuka mata dari subuh, memasak, menyiapkan anak-anak ke sekolah, lalu menyiapkan diri berangkat ke tempat kerja. Pulang kerja, perempuan masih harus mengerjakan urusan rumah tangga, mulai memasak dan menjaga anak-anak mereka sampai larut malam.. Ritme pekerjaan perempuan berlangsung 24 jam bagi perempuan yang mengorbankan diri secara berlebihan. Mereka stres di rumah dan di kantor. Perempuan selalu cekcok dengan pasangan mereka akibat desakan ekonomi yang tidak bisa mereka penuhi.

Ibu rumah tangga menghadapi problem pelik. Harga kebutuhan pokok yang melambung, membuat asap dapur tidak mengepul. Indikasi melonjaknya harga kebutuhan sehari-hari dilihat dari langkanya minyak tanah, gas elpiji, dan BBM mulai terasa. Kenaikan bahan pokok sembako setiap waktu tidak stabil. Harga minyak goreng, minyak tanah dan ikan di pasar membuat para ibu-ibu gelisah. Banyak minyak goreng bekas yang dicampur zak kimia beredar di pasaran dengan murah. Masyarakat bingung dan tidak bisa menjangkau harga yang mahal. Harga tahu dan tempe juga tidak luput dari kenaikan harga, bahan kedelai langka di pasaran. Harga tepung terigu naik 100 %. Ditambah lagi, kebijakan pembatasan pembelian minyak tanah, membuat kebutuhan rumah tangga meningkat. Naiknya harga gas elpiji di pasar meresahkan masyarakat. Naiknya harga BBM juga menyebabkan naiknya tiket alat-alat transportasi. Orang miskin yang tidak memiliki penghasilan cukup, tentu merasakan susahnya menikmati transportasi umum yang mahal. Jumlah orang miskin bertambah sedang kesejahteraan makin hilang.

Anak-anak juga merasakan dampak secara tidak langsung dari kurangnya asupan gizi dan perawatan mereka. Ketika harga BBM naik, otomatis harga susu, daging, sayur dan makanan balita melaju naik. Orang tua akan mengurangi anggaran balita mereka, karena mahal. Jeritan anak balita kurang gizi mulai bertambah, seiring bencana. Data gizi buruk balita di tiap daerah bertambah. Ibu rumah tangga penanggung beban dapur, harus belanja kebutuhan keluarga dengan uang yang tidak menentu. Kebijakan menaikkan harga BBM tanpa disertai oleh persiapan menyengsarakan masyarakat miskin. Ibu rumah tangga mesti bisa menyiasati kebutuhan rumah tangga dengan cerdas. Para ibu perlu menyiapkan uang tambahan menomboki belanja di pasar karena mahal. Ibu-ibu perlu terampil membelanjakan uang yang pas-pasan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Peringatan hari Kartini menjadi momentum bagi perempuan merefleksi diri, bagaimana menghadapi masa depan dengan cara lebih baik? Perempuan perlu berjuang meraih hidup lebih baik. Perempuan membutuhkan energi yang kuat meraih keadilan dan kesetaraan. Perempuan perlu bersemangat menciptakan perubahan kearah yang lebih sejahtera.

Perlawanan itu dengan cara memperbaiki sistem, bersaing secara kompetitif merebut akses ekonomi, sosial, politik bagi perempuan. Perayaan Kartini memberi inspirasi bagi perempuan saat ini untuk merefleksi ketidakadilan sistem, melawan sistem kapitalisme yang membawa kemiskinan dan keterbelakangan.

Selengkapnya...


Sunday, January 20, 2008

Menjadi Juri pada 'Religion and Society: Dialogue'




Lombok Senggigi,

Senin sore, 17 Desember 2007, penulis terbang ke Lombok Mataram bersama dengan rombongan juri CCE (Civic Of Center Education). Penulis bermalam di Hotel Shangrilla Senggigi Lombok Mataram. Juri CCE tersebut terdiri dari: Wiliam Ryan (ketua), Tia, dan ketiga dewan juri lain, yaitu Syukron Hamid (UIN Ciputat, Jakarta) dan Najlah Naqiyah serta Jefry Loe. Penulis bersyukur dipercaya sebagai salah satu juri oleh CCE untuk menyeleksi peserta pada program Dialog Agama dan Masyarakat (Religion and Society: Dialogue) ke Amerika Serikat untuk kali ini. Pelajaran apa saja yang dapat penulis peroleh?

Penulis, sebagai pelaku pendidikan di Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani Rangkang Kraksaan Probolinggo, berbesar hati memperoleh kesempatan terlibat menyeleksi peserta delegasi program kunjungan Religion and Society: A Dialogue. Program ini adalah program pertukaran yang ditujukan untuk cendikiawan muslim, alim ulama, dan tokoh masyarakat di Indonesia dan Amerika. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Legacy International dan Center for Civic Education, didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Dalam kesempatan itu, Penulis menguji para peserta yang bergelar Master atau Doktor dari berbagai perguruan tinggi di Mataram. Peserta berasal dari pasca sarjana Teologi, Filsafat Agama, Perbandingan Agama, atau sedang melanjutkan program Doktor (S3) pada bidang ilmu lainnya. Sebagian besar peserta yang ikut berprofesi sebagai dosen yang telah mengajar di universitas atau Perguruan Tinggi. Ketika penulis berhadapan dengan peserta, ada rasa tersanjung bisa menguji para tokoh agama dari Mataram. Sebuah kesempatan yang langka. Seluruh peserta berumur lebih tua dari penulis. Mereka mayoritas punya pengalaman sekolah ke luar negeri dan bertahun-tahun berkecimpung pada pemberdayaan ummat. Usia penulis tidak membatasi untuk menjadi juri mereka. Kesempatan ini, membuat penulis dapat lebih banyak belajar berdialog, berdiskusi, dan bertanya kepada para Master dan Doktor dari kalangan kampus Mataram.

Penulis banyak belajar dari pengalaman berharga ini, terutama sejak mengikuti program Community Leader setahun lalu. Refleksi penulis antara lain:

Pertama, kesempatan "belajar" ke Amerika Serikat tidak dimiliki oleh setiap orang. Pengalaman kunjungan sebulan di Amerika dalam program Community leader telah memberi penulis bahan belajar yang berlimpah. Dan, kesempatan berkunjung ke Amerika Serikat sulit terlupakan dari ingatan. Budaya Amerika dalam disiplin waktu, orang-orang Amerika yang ramah dan suka meminta maaf serta berterima kasih adalah budaya unik yang penulis lihat di Amerika. Pengalaman hidup di Amerika telah mampu mengurangi prasangka penulis tentang Amerika yang menakutkan. Penulis belajar bertoleransi ke orang yang berbeda agama, bebas menjalankan ibadah sesuai kepercayaan mereka dan menghargai perbedaan kulit, etnik dan ras. Pengalaman itulah yang penulis diskusikan dengan para peserta bagaimana mereka nanti akan beradaptasi dengan orang asing yang memiliki perbedaan agama, bangsa dan budaya? Dari dialog itu, muncul berbagai pandangan peserta bagaimana mereka memandang Amerika.

Kedua, Kemajuan peradaban Amerika mendorong penulis untuk meniru dan mempraktekkan pada kehidupan sehari-hari. Misalnya budaya tepat waktu dan hidup mandiri. Di Indonesia, masyaraktnya sangat pelan dan lamban. Terlebih di desa penulis terasa sangat slow (lambat). Nampak dari jalan mereka yang pelan, banyak tinggal di rumah, nganggur dan mengerjakan sesuatu dengan cara biasa-biasa aja. Hal ini berbeda dengan apa yang penulis lihat sewaktu tinggal di Amerika. Orang Amerika selalu sibuk dan bekerja serba cepat. Berjalanpun sangat cepat seperti diburu oleh waktu. Tidak ada makan siang gratis, semua orang mesti bekerja sendiri untuk memiliki uang. Mereka memiliki jadwal kegiatan yang padat dan teratur. Penulis merasakan manfaat yang besar dari kebiasaan yang penulis tiru, seperti bagaimana mengatur jadwal keseharian agar bisa melakukan aktifitas tepat waktu. Bagaimana mengatur jadwal agar tepat waktu dan melakukan dengan cara cepat, tepat banyak menolong penulis. Penulis sangat terbantu melakukan kegiatan rumah tangga dan karier dengan berusaha menyelesaikan secara cepat dan tepat. Maklumlah, kesibukan penulis mengurus anak balita usia 10 bulan membutuhkan ekstra waktu untuk berbagi, disamping juga membagi jadwal untuk sekolah S3 dan bekerja sebagai dosen.


Ketiga, Perjumpaan penulis dengan orang Amerika dan lembaga CCE mendorong Penulis ingin sekolah ke Amerika. Sebuah keinginan dan mimpi untuk go international. Hidup di Amerika Serikat seperti mimpi saja. Hidup dengan suasana multicultural dan kompetisi yang tinggi adalah keinginan penulis. Karena bagaimanapun lingkungan akan menentukan tumbuh kembang penulis secara maksimal. Penulis sangat mengagumi orang-orang besar yang bisa menempuh study pascasarjana di Amerika dengan beasiswa. Kegigihan mereka belajar bahasa Inggris dan kemauan untuk belajar yang kebanyakan lulusan Amerika menjadi orang besar di tanah air. Hal tersebut, bisa dipahami karena fasilitas sekolah di Amerika sangat lengkap. Akses perpustakaan dan metode pembelajaran yang maju membuat lulusan Amerika diperhitungkan oleh perusahaan, atau lembaga penampung lainnya. Penulis mengakui, tidak mudah memperoleh beasiswa pascadoktoral ke Amerika, tetapi juga tidak mustahil kesempatan itu ada bagi siapapun yang berusaha keras. Perjumpaan penulis dengan orang-orang terkenal membuat semangat penulis hadir kembali untuk segera menuntaskan desertasi tentang self-efficacy di kampus Universitas Negeri Malang. Semoga.
Selengkapnya...


Saturday, January 19, 2008

Memuliakan TKW: Belajar dari Hongkong

Penulis sedang bergambar bersama Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Hongkong, 6 Oktober 2007


Banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia bekerja di Hongkong. Lebih dari 100.000 wanita Indonesia mengais rizki di negeri bekas jajahan Inggris. Sebagian besar TKW tinggal di Hongkong bertahun-tahun. Apa yang membuat mereka betah?


***


Memuliakan TKW: Belajar dari Hongkong

Oleh : Najlah Naqiyah



Banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia bekerja di Hongkong. Lebih dari 100.000 wanita Indonesia mengais rizki di negeri bekas jajahan Inggris. Mengapa TKW betah di Hongkong selama bertahun-tahun? Mereka merasa aman dan comfortable bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Gaji yang diperoleh cukup besar dan terjamin keselamatan kerja.

Penulis menghadiri acara buka bersama dengan 700 wanita TKW Indonesia di Hongkong pada bulan Oktober 2007, ada kesan unik nampak dari kehidupan para TKW Hongkong. Lontaran kegelisahan mereka terekam agar jadi upaya kritik membangun bagi pengelolaan TKW di Indonesia.

Rasa aman sangat nampak dari wajah ceria TKW Indonesia di Hongkong. TKW itu merasa enjoy bekerja di Hongkong. Kebanyakan mereka betah tinggal bertahun-tahun di negeri itu. Mereka sangat menikmati pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Pada mulanya, kabar gembira terlontar saat membicaran masalah upah yang mereka terima dari majikan. Umumnya, mereka mendapatkan gaji sekitar 2700 dolar hongkong, atau berkisar 3 juta rupiah setiap bulan. Jumlah yang fantastis ukuran gaji pembantu rumah tangga orang Indonesia. Jika dibanding gaji PRT di Indonesia jauh lebih rendah. Di Indonesia, menjadi pembantu rumah tangga di gaji menurut kepantasan dan kebaikan majikan. Kisaran gaji PRT hanya 300.000,- sampai 500.000,- perbulan. Jumlah itu berbeda tiga kali lipat dengan TKW di Hongkong yang mencapai 3.000.000,- rupiah perbulan. Gaji PRT di Hongkong jauh lebih tinggi. Di Indonesia, tidak ada undang-undang yang mengatur upah minimal bagi PRT. Berbeda dengan di Hongkong, pemberian upah TKW diatur oleh Negara dan ditegakkan oleh aparat hukum. Bagi siapapun orang yang melanggar dari aturan, maka akan di hukum baik pekerja ataupun majikan.

Libur kerja juga diberikan pada TKW sehari selama seminggu. Hari minggu adalah hari libur mereka. Para TKW bebas melakukan apapun kegiatan saat hari minggu. Mereka menikmati libur dengan berbagai aktivitas di luar rumah, kebanyakan para TKW Indonesia berkumpul di taman untuk bertemu dengan teman-teman sesama warga Indonesia. Inilah yang menarik dari solidaritas yang ada di Hongkong. Negara melindungi hak-hak TKW untuk refresing dan beristirahat setelah seminggu bekerja. Sebuah upaya memuliakan TKW. TKW menikmati haknya untuk berlibur. Sementara, di Indonesia tidak ada libur bagi pembantu rumah tangga setiap minggunya, karena memang tidak ada aturan Negara yang melindungi pembantu rumah tangga.

Ketika penulis mulai mendengarkan problem pribadi dan keluarga TKW, sebagian tersingkap demikian suram. TKW mengeluhkan kehidupan mereka yang cerai berai. Mengapa mereka memutuskan untuk memilih pekerjaan menjadi TKW ? Berbagai faktor yang melatarbelakangi mereka sampai ke Hongkong, mulai dari faktor kemiskinan, perceraian, poligami, ditinggal mati oleh suami. Kegagalan pernikahan adalah pemicu utama mereka menjadi TKW. Disatu sisi mereka harus menghidupi anak-anak mereka dan orang tua serta keluarga yang miskin, disisi lain mereka merasa malu akibat gagal dalam perkawinan mereka. Akhirnya memilih untuk lari ke negeri orang mencari kerja agar aman secara ekonomi dan status sosial.

Kemana hasil keringat TKW? Uang hasil mereka bekerja sebagai PRT sebagian besar dikirimkan ke keluarga mereka di tanah air. Uang TKW itu dikirimkan ke rekening suami mereka untuk menghidupi anak-anak dan suami serta orang tuanya. Ironinya, uang tersebut kadang menghadapi masalah. Seperti, kiriman uang tidak sampai ke anak-anak mereka, tetapi diterima oleh suami dan dipergunakan untuk biaya kawin lagi dengan perempuan lain. Kadang juga, uang tersebut digunakan sebagai biaya menikah lagi oleh suaminya di tanah air. Tragis sekali, nasib para wanita yang dikhianati dan didlalimi haknya oleh suami. Sementara wanitanya itu berjuang mengumpulkan rupiah dengan keringat mereka di tempat jauh, berpisah dengan anak-anak, kemudian uangnya digunakan untuk kawin lagi oleh suami. Memang, di Indonesia budaya kawin sirri (tersembunyi) masih marak. Sedemikian gampang laki-laki dan perempuan menikah lagi tanpa memperhatikan status perkawinan mereka. Adanya dalil agama yang memperbolehkan laki-laki beristri sampai empat, menjadi pemicu longgarnya hukum perkawinan poligami.

Menjaga keutuhan perkawinan bagi TKW tidaklah mudah. Jarak jauh dan berpisah dalam keadaan cukup lama bahkan sampai bertahun-tahun, membuat salah satu pasangan mereka tidak sabar. Kadang suaminya kawin lagi, atau si istri menemukan pasangan baru di luar negeri. Bagaimana mengatasi masalah status perkawinan bagi para TKW ? Sebuah dilema bukan …..ketika kesabaran sudah diambang batas, saat suami TKW menikah lagi dengan perempuan lain, kadang resiko cerai mesti dilakukan. Sebuah pilihan yang kadang membuat masgul banyak TKW di Hongkong. Mereka menginginkan agar ada upaya pemerintah untuk memberikan penyuluhan bagi para suami agar setia pada janji perkawinannya. Upaya itu mereka sampaikan langsung kepada Ibu Dra. Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum sebagai ketua PUAN Amal Hayati. Mereka ingin para tokoh agama dan masyarakat serta pemerintah memberikan aturan yang ketat bagi suami yang akan menikah lagi sementara istrinya bekerja di luar negeri. Para TKW ingin rumah tangga mereka tetap utuh saat mereka berjuang di luar negeri. Permintaan itu disampaikan oleh wakil dari TKW dan diberikan applause panjang oleh teman-teman TKW. Tepuk tangan itu seperti jeritan yang memekakkan ruangan KJRI Hongkong. Tepuk tangan 700 TKW diiringi harapan mereka. Harapan untuk mempertahankan keutuhan keluarga ditengah jarak yang jauh dan penantian panjang. Ada keinginan menjaga keutuhan rumah tangga dengan cara mereka sendiri, seperti mengirimkan uang setiap bulan ke suami dan anak-anak mereka, menelpon anak-anak dan suami setiap minggu dan beragam cara yang tengah mereka usahakan. Akankah pemerintah kita diam dan menutup mata?

Hiruk pikuk kekerasan yang tengah dialami oleh TKW Indonesia masih banyak lagi, adanya kasus erminal tiga kerap menjadi keluhan sebagian besar TKW saat pulang ke tanah air. Mereka mengeluhkan adanya diskriminasi pada TKW yang harus melalui pintu khusus di bandara Soekarno hatta. Mereka juga mengeluhkan banyaknya pungli yang harus dibayarkan. Mereka ingin menghapuskan terminal tiga. Mereka ingin sejajar dan setara seperti orang lain yang dating dari luar negeri. Banyak lagi harapan mereka yang samara-samar dihembuskan oleh angina malam. Oleh doa-doa mereka ditengah malam, saat mereka tidur jauh dari keluarga, jauh dari negerinya, jauh dari mimpinya. Semoga ada usaha nyata mengatur TKW secara mulia. Amin.
Selengkapnya...


Saturday, March 03, 2007

Perceraian

Setiap pasangan menginginkan keutuhan dalam membangun rumah tangga. Namun realitas menunjukkan angka perceraian kian meningkat. Adanya tekanan sosial di masyarakat (social pressure) bahwa bercerai bukan merupakan hal yang tabu atau aib di masyarakat, bercerai sudah menjadi hal yang biasa. Bercerai adalah hal yang halal tetapi di benci oleh Allah SWT. Bercerai menimbulkan masalah sosial bagi kelangsungan hidup anak-anak dan orang tua. Perceraian merobohkan tiang rumah tangga. Lalu bagaimana?


***


Perceraian

Oleh: Najlah Naqiyah


Tulisan ini terinspirasi dari laporan Marzuqi A. haris (wartawan Radar Bromo) tentang maraknya perceraian di Kabupaten Probolinggo hari selasa, 20 Pebruari 2007. Tulisan tersebut memuat data dan latar belakang peristiwa yang memicu tingginya kasus perceraian, hingga sehari PA bisa menggelar 15 sidang perceraian. Tulisan ini diharapkan menjadi ruang dialog untuk membicarakan kasus perceraian yang merisaukan penulis.

Setiap pasangan menginginkan keutuhan dalam membangun rumah tangga. Namun realitas menunjukkan angka perceraian kian meningkat. Adanya tekanan sosial di masyarakat (social pressure) bahwa bercerai bukan merupakan hal yang tabu atau aib di masyarakat, bercerai sudah menjadi hal yang biasa. Bercerai adalah hal yang halal tetapi di benci oleh Allah SWT. Bercerai menimbulkan masalah sosial bagi kelangsungan hidup anak-anak dan orang tua. Perceraian merobohkan tiang rumah tangga. Kepercayaan antar pasangan semakin rapuh dan rusak.

Angka perceraian di kabupaten Probolinggo tergolong tinggi, angka perceraian tercatat di PA Kabupaten Probolinggo pada Desember 2006, terdapat 123 kasus perceraian. Sedangkan januari 2007 mencapai 120 kasus. Untuk bulan pebruari 2007 angka perceraian tetap tinggi. (Radar Bromo, 20/02/2007). Penelitian Goleman di Amerika, menyebutkan dari 10 orang pasangan menikah, hanya 3 pasangan saja yang mampu mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka. Dari bukti tersebut, krisis perkawinan berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hal yang ditengarahi menjadi polemik yang memicu keretakan rumah tangga adalah tidak adanya kecerdasan emosi dalam memahami perasaan pasangan.

Menurut Herani, seorang panitera, setiap hari PA menggelar sidang cerai. Biasanya setiap senin, PA menggelar 15 kasus sidang cerai. Sedangkan hari-hari lain, sidang cerai dibawah angka sepuluh. (radar bromo, 20/02/2007). Masih menurut Panitera tersebut, paling banyak yang mengajukan perceraian, pasangan usia dibawah umur 30 tahun. Penyebab perceraian dilatarbelakangi karena pernikahan di bawah umur dan persoalan ekonomi. Fakta tingginya angka perceraian merupakan rapuhnya pondasi rumah tangga di masyarakat. Mengapa masyarakat sedemikian mudah mengajukan gugatan cerai, setelah mereka mengadakan perjanjian suci dengan Tuhan (baca: akad nikah) ?. Pertanyaan ini menggelitik penulis untuk sejenak merenungi fenomena perceraian yang kian marak terjadi.

Pembajakan Emosi (Hijacking)

Melongok penyebab maraknya gugatan cerai kebanyakan dipicu oleh persoalan sepele, kemudian dibesar-besarkan. Misalnya seorang suami menggugat cerai istrinya hanya karena si istri menggunakan HP milik suami tanpa ijin, kemudian suami menuduh istri menelpon laki-laki bukan muhrim tanpa sepengetahuan suami, Suami marah dan melakukan gugatan cerai ke PA. Contoh ini, adalah sebagian kecil masalah emosi yang menimbulkan prasangka buruk secara terus menerus menyebabkan perceraian. Pasangan tersebut dibajak emosi. Masalah emosi pasangan antara laki-laki dan perempuan berbeda, dikarenakan oleh akar pada masa kanak-kanak.

Akar masa kanak-kanak laki-laki dan perempuan tidak sama. Anak-anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan dalam hal permainan yang mereka sukai, pola pendidikan emosi, hal bermain, rasa bangga, dan pokok pembicaraan. Anak laki-laki menyukai permaian yang berhubungan dengan ketangkasan, kemandirian, saling bersaing, bertahan sedangkan perempuan cenderung bekerjasama, pokok pembicaraan perempuan berhubungan dengan emosi, keterampilan bahasa. Sedangkan laki-laki banyak membicarakan tentang kemandirian, dan rasa bangga pada hal-hal yang berhubungan dengan ketangkasan, kompetisi, dan kekuatan yang dimiliki.

Laki-laki dan perempuan berbeda dalam menghendel masalah emosi masing-masing. Hal yang rawan bagi laki-laki ialah laki-laki cenderung mempertahankan ego dan harga diri mereka, dan tidak kuat dikritik istri secara terus menerus, bersikap membisu atau defensif. Hal yang rawan bagi perempuan cenderung emosional, suka mengkritik dan menangis. Sikap yang berbeda tersebut kerapkali memicu pertengkaran apabila tidak memiliki kecerdasan emosi untuk mengerti perasaan masing-masing pasangan.

Perbedaan pendapat, pertengkaran, percekcokan, perselisihan yang terus menerus menyebabkan hilangnya rasa cinta dan kasih sayang. Pertengkaran hanya menyebabkan bersemainya rasa benci dan buruk sangka terhadap pasangan. Pertengkaran yang meluap-luap akan menyebabkan hilangnya rasa percaya dan terus memicu perceraian. Sementara perselisihan yang berakhir dengan baik dengan menyadari dan mengetahui perasaan masing-masing, bersikap empati dan mau memaafkan kesalahan pasangannya.


Penyebab perceraian juga dipicu maraknya pernikahan di bawah umur. Pernikahan di bawah umur membuat mereka belum siap mengatasi pernik-pernik pertikaian yang mereka jumpai. Pernikahan adalah memerlukan kesatuan tekad, kepercayaan dan penerimaan dari setiap pasangan menjalani mahligai perkawinan. Ketidaksiapan pasangan tentu berhubungan dengan tingkat kedewasaan, mengatasi persoalan yang terkait dengan kehidupan, seperti keuangan, hubungan kekeluargaan, pekerjaan setiap pasangan. Cara mereka berpikir, bertindak menentukan cara mereka mengambil keputusan dalam hidup. Menikah di bawah umur yang disertai pendidikan rendah menyebabkan tidak dewasa.

Mengatasi Perselisihan

Bagaimana mengelola perselisian yang berakhir dengan baik?. Setiap pasangan bagaikan musuh dalam selimut (intimate enemous). Suami istri adalah dua pribadi yang berbeda, dan berusaha hidup selaras dalam keutuhan rumah tangga. Untuk itu dibutuhkan banyak rasa saling mengerti perasaan pasangan. Hal ini dilakukan dengan cara :

Pertama, menenangkan diri dilakukan guna meredam emosi impulsif. Menenangkan diri dilakukan dengan cara, misalnya relaksasi, yoga, bersilaturrahmi, mendatangi tempat-tempat rekreasi, mengheningkan diri dalam doa-doa, berdzikir (mengingat Allah SWT), melakukan shalat sunnah, dan membaca al-Qur’an (kitab suci). Menenangkan diri juga akan menenangkan jiwa-jiwa yang gelisah, membersihkan racun-racun emosi yang membajak hati. Dengan menenangkan diri membuat orang sejenak merenung dan mencari inspirasi serta mendengarkan kata hati. Orang yang tenang tidak akan mudah terbawa emosi pertengkaran. Sebaliknya, dengan menenagkan diri, akan mengakhirkan perselisihan dengan menyadari kesalahan masing-masing.

Kedua, dilaog batin dilakukan dengan berbicara dengan batin, mengenai apa yang diinginkan dan mengapa keinginan itu tidak terpenuhi serta bagaimana mengatasi realitas menurut diri. Dialog batin perlu dilakukan guna membersihkan pikiran-pikiran irasional. Dialog batin dengan mendengarkan hati nurani dan akal pikiran akan menemukan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh pasangan.

Ketiga, mintalah nasehat perkawinan. Setiap pasangan perlu mencari penasehat untuk membantu mengatasi persolan rumah tangga yang sudah akut. Mendatangi para tokoh agamawan, para guru, atau para konselor perkawinan akan membantu mencari alternatif dari perselisihan yang dihadapi. Nasehat perkawinan juga bisa dilakukan dengan membaca buku-buku yang berguna tentang hakekat perkawinan dan tujuan hidup pasangan. Nasehat perkawinan juga diperoleh dari contoh atau teladan para keluarga sejahtera, misalnya dengan cara saling berkunjung dan bertukar pengalaman dengan sesama teman atau sahabat dalam mengatasi konflik rumah tangga. Nasehat perkawinan yang diperoleh dari teman, sahabat atau ahli akan menguatkan kembali jiwa yang krisis. Nasehat perkawinan bisa menjadikan tempat konsultasi para pasangan yang tengah berkonflik.

Keempat, mendengar dan berbicara secara terbuka dengan pasangan. Saling mendengarkan keluhan pasangan, mencoba memahami jalan pikiran masing-masing akan membuat saling pengertian. Mendengarkan pasangan adalah perlu dalam sebuah relasi keluarga. Setiap orang ingin didengarkan oleh pasangan tentang kerisauan-kerisauan mereka yang bergejolak. Saling berbicara secara terbuka tentang masalah yang jumpai oleh setiap pasangan, bukan membicarakan tentang kepribadian. Karena kepribadian tidak bisa di rubah. Membicarakan kepribadian negatif masing-masing hanya akan memicu setiap pasangan menjadi merasa ditolak, tidak dicintai dan dipersalahkan. Untuk itu dalam membicarakan perlu mempertimbangkan, apakah hal yang dibicarakan tidak menyinggung kepribadian (baca:bawaan) pasangan?. Bagaimana perasaan pasangan apabila saya mengatakan hal ini?. Jika setiap pasangan mampu menimbang rasa maka akan terjadi pembicaraan yang terbuka, penuh rasa percaya dan meningkatkan rasa cinta. Indah bukan?
Selengkapnya...


Friday, March 02, 2007

Pencerahan Pesantren

Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang, Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur

Pesantren merasa tertantang meyakinkan masyarakat bahwa hidup memerlukan manusia yang bersikap tulus ikhlas, menyemai kebaikan setiap saat, dan mencari keridlaan Allah. Uang hanyalah sarana untuk berbuat amal kebajikan. Uang bukan tujuan hidup. Benturan nilai-nilai itulah yang semakin menguatkan posisi pesantren sebagai akar tradisi yang unik. Bagaimana upaya pesantren mempertahankan nilai-nilai lokal tradisional dan agama dari desakan kapitalisme?



***



Pencerahan Pesantren

Oleh Najlah Naqiyah



Problem mendasar dari dunia pesantren saat ini adalah tuntutan agar pesantren terus berkembang mempertahankan nilai-nilai agama di tengah desakan dunia modern. Nilai-nilai pesantren dibangun secara tekstual dan kontekstual dari tafsir kitab suci.

Kini nilai-nilai pesantren menghadapi benturan hebat dari ideologi kapitalisme. Misalnya, pergeseran nilai-nilai tulus ikhlas bergeser dengan nilai materialisme kapitalisme. Masyarakat kapitalisme berkeyakinan bahwa semua jasa mereka mesti dihargai oleh uang, sementara nilai pesantren justru berbeda. Ajaran pesantren menganjurkan sikap ikhlas beramal.

Benturan antara budaya pesantren dan budaya materialisme tersebut menjadikan pesantren semakin unik menyikapi fenomena modernisasi. Sebagian pesantren bersikap terbuka terhadap perubahan, tetapi sebagian yang lain menutup diri dari perubahan yang terjadi dari luar pesantren.

Pesantren yang terbuka merasa tertantang meyakinkan masyarakat bahwa hidup memerlukan manusia yang bersikap tulus ikhlas, menyemai kebaikan setiap saat, dan mencari keridlaan Allah. Uang hanyalah sarana untuk berbuat amal kebajikan. Uang bukan tujuan hidup. Benturan nilai-nilai itulah yang semakin menguatkan posisi pesantren sebagai akar tradisi yang unik. Bagaimana upaya pesantren mempertahankan nilai-nilai lokal tradisional dan agama dari desakan kapitalisme? Bagimana corak pendidikan yang akan dikembangkan oleh pesantren guna memajukan kiprahnya?. Tulisan ini mencoba menelisik upaya pesantren mempertahankan diri dan menjaga idealitasnya di tengah belenggu sistem kapitalisme. Memperbaiki masyarakat

Pesantren adalah tempat mengasingkan diri (uzlah) untuk mencari ilmu agama. Pada mulanya pesantren tumbuh secara sederhana dengan sistem pengajian di dekat rumah kiai/guru. Pesantren kemudian tumbuh sebagai pilar bangsa yang berperan membangun masyarakat dari kemiskinan, kekerasan dan ketidakadilan.

Pembelaan pesantren terhadap orang miskin ditunjukkan dengan usaha para kiai berdakwah dan menganjurkan berbuat amar ma'ruf nahi mungkar (berbuat kebaikan dan mencegah kemaksiatan). Pesantren tumbuh di daerah Jawa, seperti Pesantren Tebuireng dirintis oleh KH Hasyim Asyary didirikan untuk mendidik masyarakat yang rusak. Kehadiran pesantren menandingi kerusakan budaya yang tengah berkembang di desa tersebut.

Pesantren menghadirkan nilai-nilai berbeda, misalnya, melarang minuman keras dan mencuri di saat masyarakat setempat terlena dengan hidup berfoya-foya, marak dengan pencurian dan peminum.

Bagaimana pesantren mengembangkan metode pendidikan membangun budaya masyarakat? Pesantren memiliki ciri khas metode pembelajaran sorogan dan bandongan. Sorogan dilakukan saat santri belajar membaca Al Quran dan kitab-kitab kuning.

Metode sorogan ini dilakukan dengan cara kiai/ustadz membacakan kitab di hadapan santri, kemudian santri membaca sendiri kitab mereka di hadapan para kiai/ustadz secara individual. Metode sorogan ini meniscayakan santri belajar mandiri menguasai kitab kuning.

Adapun metode bandongan dilakukan pada pembelajaran klasikal. Cara bandongan dilakukan dengan cara kiai/ustadz membacakan kitab di hadapan sejumlah santri, kemudian santri menyimak dan mengartikan kitab tersebut dengan bahasa lokal. Metode bandongan tersebut dilakukan saat bulan puasa atau saat pengajian kilat guna mengejar target mengkhatamkan beberapa kitab kuning dengan waktu yang cepat dan singkat.

Kedua metode ini merupakan ciri khas pendidikan pesantren yang kemudian berkembang dengan sistem pendidikan sekolah modern yang mengedepankan sistem klasikal. Memajukan pesantren

Pesantren selayaknya menjadi lembaga pendidikan sekaligus berperan sosial. Ada beberapa cara untuk memajukan pendidikan yang mencerahkan di pesantren, yaitu:

Pertama, pesantren melakukan inovasi pendidikan yang memfokuskan kecakapan hidup. Kurikulum pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi penguasaan kitab kuning saja, tetapi lebih dari itu, yakni melatih santri mengamalkan nilai-nilai ulama sholeh di keseharian mereka. Santri dilatih menjalankan hidup tirakat, sederhana, taat, jujur, dan loyal terhadap kepentingan umum.

Kedua, pembelajaran di pesantren sebanyak mungkin memberikan ruang berlatih bagi santri agar mampu berinisiatif, kreatif, dan berpikir bebas. Melatih santri yang memiliki banyak inisiatif memerlukan kondisi yang demokratis dan toleransi. Santri diajarkan mengelola perbedaan pendapat yang terjadi.

Ketiga, santri belajar menjalani hidup sehari-hari dengan kegiatan berarti (meaningfull). Mengisi kegiatan yang bermanfaat dan membuat suasana kondusif membutuhkan peran serta ketekunan para asatidz. Jika pesantren memiliki banyak kegiatan bermanfaat bagi santri, santri akan terasah bakat dan keterampilan mereka.

Keempat, pesantren memegang teguh tradisi pengabdian dan perjuangan memajukan ummat. Persoalan ummat di sekitar pesantren adalah menjadi konsen pesantren. Pesantren memiliki tanggung jawab moral membenahi dan melindungi mereka. Kepedulian pesantren terhadap persoalan ummat merupakan khazanah pesantren yang akan terus dihargai oleh masyarakat sekitar. Jika pihak pesantren perduli menyelesaikan persoalan masyarakat sekitar, tentu dengan sendirinya masyarakat akan turut serta memajukan pesantren.

Kelima, bentuk dakwah yang dikembangkan oleh pesantren perlu mengedepankan nilai-nilai kemaslahatan, keselamatan, dan kesejahteraan ummat. Pesantren selayaknya menjadi tempat persemaian nilai-nilai relegius yang syarat dengan kebaikan. Misi dakwah pesantren berorientasi pad pembentukan nilai-nilai akhlakul karimah sebagai pondasi dasar manusia abad modern. Tanpa akhlakul karimah, manusia akan serakah dan sombong.

Kelima cara di atas diharapkan bisa membuka ruang pencerahan pendidikan pesantren di era modern. Pesantren adalah sarana pendidikan yang mencerahkan masa depan bangsa yang bermoral dan memegang kuat nilai ajaran Islam. " Benturan antara budaya pesantren dan budaya materialisme tersebut menjadikan pesantren semakin unik menyikapi fenomena modernisasi. "


NAJLAH NAQIYAH Mahasiswa S3 Program Bimbingan Konseling, Universitas Negeri Malang


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/02/jatim/63154.htm


Selengkapnya...


Saturday, February 17, 2007

Kedubes AS Kunjungi Ponpes Rangkang

Tawarkan Program Pertukaran Santri


PROBOLINGGO - Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (1/2) mendapat tamu istimewa. Yakni rombongan dari kedutaan besar (kedubes) dan konsulat jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) untuk studi banding sistem pendidikan pesantren. Rombongan itu adalah Mary Beth (Konjen AS), Chaterine Sweet (Kedutaan Besar AS) dan Esti Durah Santi (Konjen AS di Surabaya). Mereka diterima langsung oleh pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin. Dalam rangka apa mereka berkunjung ke Pon-pes ini?



***



RADAR BROMO, Jawa Pos Grup, Minggu, 18 Feb 2007

---------------------------------------------------------

Sabtu, 03 Feb 2007
Kedubes AS Kunjungi Ponpes Rangkang


Tawarkan Program Pertukaran Santri
PROBOLINGGO - Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (1/2) mendapat tamu istimewa. Yakni rombongan dari kedutaan besar (kedubes) dan konsulat jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) untuk studi banding sistem pendidikan pesantren.

Rombongan itu adalah Mary Beth (Konjen AS), Chaterine Sweet (Kedutaan Besar AS) dan Esti Durah Santi (Konjen AS di Surabaya). Mereka diterima langsung oleh pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin.

Tentu saja, kehadiran pada bule itu disambut gembira oleh para santri. "Saya tidak menyangka, kami warga Amerika disambut baik oleh para santri," ujar Chaterine, doktor Islamic Studies asal Amerika Serikat ini.

Bahkan, para santri berfoto bersama dan berdialog tentang budaya Amerika. Saat Mary Beth bertanya apa yang terpikir tentang Amerika, para santri menjawab filmnya bagus-bagus. Dalam kesempatan itu, Mary Beth juga diminta menyanyi lagu Titanic.

"Islam tidak harus kaku dan antiseni," kata Rizqon Khamami, pengelola pesantren menanggapi permintaan para santri itu. Bahkan, kata alumni program master Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi ini, ponpesnya sedang mengembangkan Islam yang moderat.

Mary Beth dan Chaterine Sweet yang mengenakan kerudung pemberian Hj Badiah Hafidz - penasehat ponpes ini, terlihat makin akrab dengan para santri. Mereka berkerumun dan antusias mendengarkan cerita tentang pengenalan Bahasa Inggris di pesantren.

Dalan kunjungan tersebut, Mary Beth dan Chaterine menawarkan sejumlah program untuk pondok pesantren. Antara lain, program pertukaran santri ke Amerika. Hal itu diperuntukkan bagi santri yang menguasai Bahasa Inggris dan memiliki nilai tinggi dengan biaya biaya ditanggung pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Mary Beth, "Bagi santri yang bisa Bahasa Inggris, kami punya banyak program ke Amerika, belajar tentang budaya, seminar pendidikan dan kunjungan ke museum sejarah di AS selama beberapa minggu," katanya.

Bahkan, lanjut Mary Beth, guru-guru pondok pesantren dipersilakan mengikuti kunjungan dan belajar di Amerika serikat. Seperti yang pernah dilakukan salah seorang guru Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Najlah Naqiyah, yang pernah mengikuti program kepemimpinan dan komunitas di Amerika serikat dengan biaya dubes AS.

Program yang kedua, kata Mary Beth, AS akan menyiapkan guru untuk mengajar Bahasa Inggris di pesantren. "Guru tersebut akan ditempatkan di pesantren," katanya.

Mendapat tawaran tersebut, pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin menyambut dengan baik. "Bahasa Inggris bisa digunakan untuk hidup di era globalisasi," ujarnya.

Karena, selama ini, pesantren dikenal dengan basis pengembangan ilmu agama yang bersumber dari Bahasa Arab. "Dengan mengenal Bahasa Inggris, diharapkan santri bisa membaca literatur berbahasa Inggris tentang Islamic Studies, sain, dan perpaduan Islam dan abad modern." lanjutnya. (syt)

©Copyright 2006, Jawa Pos dotcom colo'CBN.


http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=151813&c=40
Selengkapnya...


Kiprah Pesantren Menangani Korban Trafficking

Meningkatnya jumlah korban trafficking dari tahun ketahun membuat resah. Berdasarkan hasil survei di Provinsi jawa timur dalam satu tahun terakhir tahun 2006, jumlah kasus child trafficking anak meningkat 300 %. Jika pada tahun 2005 jumlah kasus child trafficking hanya 28.892 kasus, pada 2006 melonjak 86.676 kasus. (Jawa Pos, 24 Januari 2007). Angka peningkatan kekerasan yang merisaukan. Lalu bagaimana?


***


Kiprah Pesantren Menangani Korban Trafficking

Oleh : Najlah Naqiyah



Meningkatnya jumlah korban trafficking dari tahun ketahun membuat resah. Berdasarkan hasil survei di Provinsi jawa timur dalam satu tahun terakhir tahun 2006, jumlah kasus child trafficking anak meningkat 300 %. Jika pada tahun 2005 jumlah kasus child trafficking hanya 28.892 kasus, pada 2006 melonjak 86.676 kasus. (Jawa Pos, 24 Januari 2007). Angka peningkatan kekerasan yang merisaukan.

Penyebab maraknya kasus trafficking, disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi miskin, budaya patriarkhis seperti budaya pemaksaan menikah dini, pembatasan akses bagi anak dan perempuan dan keinginan orang tua yang menginginkan anaknya secepatnya bekerja tanpa dibekali dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Dilain pihak, para calo secara gencar mendatangi penduduk miskin untuk membujuk dan merayu para orang tua dan anak-anak untuk bekerja di kota atu di luar negeri. Anak-anak di rekrut melalui calo melalui pendekatan dor to dor dari rumah ke rumah di pedesaan dan pegunungan. Para calo menjanjikan penempatan kerja ke kota, bergaji tinggi dan hidup mewah. Berbagai tipu daya dilakukan guna mengajak dan merayu anak-anak desa untuk bekerja di lain tempat. Para calo memindahkan anak-anak desa ke kota atau ke luar negeri dengan cara ilegal melalui jaringan kejahatan. Setiap hari ratusan anak-anak dikirim ke luar negeri. Terkadang anak-anak di sekap terlebih dahulu, atau di jual ke orang-orang jahat.

Persoalan trafficking sangat meresahkan. Anak-anak desa di jual dan dijadikan pelacur. Sebagian lagi di jual sebagai pekerja-pekerja yang mengeksploitasi mereka. Anak-anak dipekerjakan sebagai pengedar narkotika dan terjun di bisnis prostitusi. Ancaman penyakit menular seperti PMS, HIV/AIDS serta kecanduan narkoba mengintai anak-anak pekerja seks setiap waktu. Ancaman kehamilan yang tidak diinginkan bagi anak-anak perempuan yang bekerja di prostitusi menanggung konsekwensi pada kesakitan reproduksi mereka. Resiko kegagalan KB dan akibat yang ditanggung anak-anak perempuan jauh lebih berat. Ironinya, anak-anak perempuan belum tentu mendapatkan invormasi yang benar tentang kesehatan tubuhnya, tapi dipihak lain, bahaya penyakit dihadapan mata anak-anak korban trafficking.

Anak-anak korban trafficking rentan dengan gangguan kesehatan mental. Anak-anak umumnya merasa sedih, trauma, depresi, putus asa, dan berkeinginan bunuh diri. Anak-anak merasa ketakutan dan dihantui oleh kekerasan yang telah mereka alami selama ditempat penyekapan atau di tempat kerja. Anak-anak kurang bahagia dan menjalani kehidupan dibawah ancaman majikan mereka. Pada kasus vonis mati yang menimpa para TKI di luar negeri, disebabkan karena perilaku agresif para TKI dipicu oleh tindak kekerasan secara terus menerus dari majikan. Perilaku agresif tersebut disebabkan oleh kemarahan, ketakutan, kehilangan kontrol diri saat bahaya mengancam hidup mereka.

Untuk menekan angka kekerasan trafficking, pesantren menjadi alternatif sebagai tempat aman mencegah dan mengobati korban trafficking. Bagaimana kiprah pesantren sebagai shelter yang aman bagi korban kekerasan trafficking?



Pesantren sebagai CBO (Community Based Organization)

Sebagai CBO, pesantren selayaknya melebarkan kiprahnya dalam upaya penanganan masalah sosial-kemasyarakatan. Pesantren bisa menjadi tempat yang aman bagi korban kekerasan. Pesantren terbukti memilki kedekatan emosional dan akar historis dengan warga setempat. Pesantren adalah pusat kegiatan masyarakat dan belajar bagi anak-anak. Sekolah-sekolah berbasis pesantren telah berafiliasi dengan keislaman tumbuh kembang sebagai kultur masyarakat pedesaan. Pesantren tumbuh bersama kebutuhan masyarakat dan melekat dengan atribut budaya setempat. Pesantren dalam perkembangannya banyak menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk memecahkan persoalan hidup mereka. Pesantren di pimpin oleh kiai yang memilki kedekatan dengan masyarakat sekitar. Dengan demikian akan mudah bagi pesantren menggerakkan masyarakat untuk mencegah terjadi trafficking di masyarakat sekitarnya. Karakteristik masyarakat pedesaan mengakui kiai sebagai panutan, akan memudahkan pesantren menginformasikan dampak-dampak kekerasan trafficking, modus dan operasional organisasi kejahatan kemanusiaan yang menjual anak-anak dari pedesaan dan terbelakang.

Pesantren yang eksis mampu menyelamatkan anak-anak yang terperangkap dalam trafficking. PUAN (pesantren untuk anak-anak dan perempuan) merupakan salah satu gerakan pesantren yang di gagas oleh Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Organisasi PUAN AMAL HAYATI berbasis pondok pesantren yang berjejaring dari berbagai pesantren di Indonesia. PUAN sebagai salah satu model alternatif bagi pemberdayaan anak dan perempuan agar terlindung dari kejahatan trafficking. PUAN memilki shelter aman bagi para korban kekerasan. Corak dari gerakan PUAN adalah pusat pengaduan masyarakat akan terjadinya kekerasan yang ditemui di masyarakat dan keluarga, kemudian dirujuk oleh pesantren ke instansi terkait mengatasi kasus kekerasan tersebut.


Pesantren perlu membuka shelter yang aman.

Bagaimana menggagas agar pesantren aman bagi korban trafficking ? pesantren perlu melakukan terobosan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Pesantren sebagai pusat invormasi dan pengaduan korban, Pesantren perlu melakukan kerja sama dengan pihak terkait, dan pesantren perlu membuka klinik dan konseling untuk mengobati tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Pertama, Pesantren perlu memiliki kepekaan atau sensivitas untuk menanganai trafficking sebagai agenda sehari-hari. Pihak pesantren concern untuk menginformasikan secara intensif ke masyarakat tentang modus trafficking berdasarkan fakta yang terjadi. Pihak pesantren yang diwakili oleh para pendidik, tokoh kiai, dan para santri senior memberi rasa aman bagi masyarakat. Jika pesantren memperoleh trust (kepercayaan) dari masyarakat sekitar, mudah bagi pesantren menginvormasikan dan mensosialisasikan bahaya trafficking ke masyarakat melalui media pengajian, dakwah, dan beragam acara keagamaan sosial. Masyarakat pesantren perlu terlibat dalam dinamika masyarakat, menunjukkan fakta-fakta operandi trafficking, dan waspada dari bahaya trafficking mengancam masyarakat miskin, patriarkhis, dan perimordial.

Kedua, Pesantren perlu melakukan kerja sama dengan pemerintah, para psikolog, dan aparat kepolisian, pengadilan dan pekerja sosial untuk membantu para korban memperoleh bantuan. Pesantren tidak bisa bekerja sendirian untuk mengatasi kekerasan trafficking, karena terkait dengan persoalan hukum, penyidikan dan rasa keadilan. Untuk itulah, pesantren menjadi mitra bagi pihak rumah sakit untuk menjadi rujukan bagi korban memperoleh pengobatan akaibat kekerasan yang dihadapi dai tempat kerja, atau di rumah dan di jalanan.

Ketiga, Agar pesantren mampu memulihkan rasa sakit korban, maka pesantren perlu membangun klinik dan konseling sebagai wadah pertolongan pertama terhadap korban kekerasan. Korban memerlukan rasa aman dari pihak-pihak yang akan mengeksploitasi kekerasan mereka. Pesantren perlu mengadakan pelatihan bagi santri-santri senior agar menjadi pendamping korban. Pelatihan sebagai pendamping korban kekerasan dilatihkan oleh ahli konseling, psikolog atau dokter yang berkompeten mengatasi kasus kekerasan. Para pendamping nantinya akan mendampingi korban menjalani hidup di pesantren, seperti, pemulihan dari rasa putus asa, meningkatkan rasa percaya diri, menerima kenyataan dan belajar berbagai keterampilan sosial.

Pada akhirnya, upaya untuk meredam impulsif anak-anak dan perempuan dari bujuk rayu calo trafficking dengan cara menguatkan pendidikan melalui sekolah, pesantren dan pengajian. Pendidikan akan menuntun anak dengan sendirinya memilih dan memutuskan mana langkah yang terbaik bagi kehidupan mereka. Dengan pendidikan tinggi, anak semakin bijak dan arif serta mampu menolak apa yang membahayakan bagi hidup mereka. Pendidikan menuntun anak meraih cahaya terang dari Allah SWT. Setiap anak yang diasah dengan pendidikan, makin merasakan hidupnya berarti dan bermanfaat bagi diri, keluarga dan orang lain.
Selengkapnya...