Suara Hati Seorang Perempuan

Thursday, June 23, 2011

Ketahanan Mengatasi Kesulitan Sebagai Upaya Menjadi Remaja Tegar

Remaja mengalami masa perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Perubahan itu membutuhkan penyesuaian-penyesuaian diri agar selaras dengan tuntutan sosial. Penyesuaian diri remaja mengalami tantangan, terutama di zaman penuh perubahan seperti saat ini, yaitu zaman yang penuh dengan perubahan dalam bidang teknologi informasi. Dengan kecepatan informasi, remaja akan mendapatkan aneka ragam informasi yang akan membentuk karakter dan menemukan jati diri. Dengan teknologi informasi, juga berdampak negatif pada perkembangan remaja dan anak muda. Masa muda adalah masa pencarian identitas. Menurut Marcia (1980), perkembangan identitas itu terjadi selain dari mencari secara aktif (eksplorasi). Setiap hari terjadi penyimpangan perilaku yang dipublikasikan oleh media massa. Penyimpangan itu mulai dari pergaulan bebas, kekerasan, kehilangan identitas dan jati diri, stres pekerjaan dan di sekolah, pengangguran. Tekanan hidup makin tinggi, membuat orang bekerja dan banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Orang bekerja ke kota dan meninggalkan anak-anak mereka di rumah. Pertanyaan yang muncul, bagaimana menyiapkan remaja yang tegar yang mampu bertahan dari godaan era globalisasi ?


Ketahanan Mengatasi Kesulitan Sebagai Upaya Menjadi Remaja Tegar[*]

Oleh : Najlatun Naqiyah

[*] (Makalah ini disampaikan pada acara Bupati Temu Kader, pada kegiatan orientasi kader kelompok PIK Remaja yang dilaksanakan oleh Pemda Probolinggo, Hari kamis, 23 Juni 20011 di Islamic Center Kraksaan Probolinggo.)


Remaja mengalami masa perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Perubahan itu membutuhkan penyesuaian-penyesuaian diri agar selaras dengan tuntutan sosial. Penyesuaian diri remaja mengalami tantangan, terutama di zaman penuh perubahan seperti saat ini, yaitu zaman yang penuh dengan perubahan dalam bidang teknologi informasi. Dengan kecepatan informasi, remaja akan mendapatkan aneka ragam informasi yang akan membentuk karakter dan menemukan jati diri. Dengan teknologi informasi, juga berdampak negatif pada perkembangan remaja dan anak muda. Masa muda adalah masa pencarian identitas. Menurut Marcia (1980), perkembangan identitas itu terjadi selain dari mencari secara aktif (eksplorasi). Setiap hari terjadi penyimpangan perilaku yang dipublikasikan oleh media massa. Penyimpangan itu mulai dari pergaulan bebas, kekerasan, kehilangan identitas dan jati diri, stres pekerjaan dan di sekolah, pengangguran. Tekanan hidup makin tinggi, membuat orang bekerja dan banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Orang bekerja ke kota dan meninggalkan anak-anak mereka di rumah. Pertanyaan yang muncul, bagaimana menyiapkan remaja yang tegar yang mampu bertahan dari godaan era globalisasi ?

Tulisan ini mencoba untuk merangkai cara bagi remaja mengatasi berbagai kesulitan yang dijumpai pada proses penyesuaian diri remaja sehingga tercapai remaja yang tangguh, tegar dan berpikir cemerlang untuk mempersiapkan masa depan dengan kegiatan yang positif.

Pertama, Penguatan remaja akan nilai-nilai agama dan spiritual. Remaja menjadi kokoh dan tahan terhadap godaan apabila ada benteng iman dan takwa kepada Allah SWT. Untuk itu, sejak kecil orang tua perlu menanamkan nilai-nilai relegiusitas bagi remaja. Nilai-nilai agama, seperti solat lima waktu melatih disiplin waktu, makan dan minum yang baik dan halal, berbuat baik kepada semua orang, hormat pada orang tua dan guru serta nilai-nilai kebaikan yang lain. Remaja yang memiliki nilai-nilai agama yang kuat akan menjadikan tameng dari berbagai ajakan teman dan media massa. Remaja perlu menfilter informasi yang diterima. Alih-alih, berjilbab sebagai tradisi keislaman, tetapi perilaku remaja belum mencerminkan nilai-nilai Islam. Masih ditemukan sebagain remaja putri berjilbab, tetapi masih pacaran di jalan umum. Seperti pacaran di sekolah, di tepat-tempat wisata. Remaja hanya menutupi aurat dengan berjilbab, tetapi tidak disertai mengekang nafsu. Kedangkalan nilai-nilai agama dan tradisi itulah yang menyebabkan remaja mudah larut dalam pergaulan tanpa batas yang mengarah pada pergaulan bebas.

Orang tua dan guru perlu menanamkan active intellectual dengan membangkitkan mengamalkan nilai-nilai relegiusitas dan spiritualitas serta nilai-nilai sosial dan budaya bangsa. Kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai akhlak mulia menjadi spirit dari tujuan pendidikan nasional. Active intellectual dicapai dengan menyatukan antara domain kognitif dengan nilai-nilai relegiusitas dan spritualitas. Ada beberapa domain kognitif, afektif, psikomotorik, dan relegiusitas dan spritualitas yang bisa mempengaruhi tingkah laku anak-anak. Misalnya, anak meyakini kebenaran bahwa mencuci tangan adalah upaya menjaga kesehatan, sekaligus mengamalkan ajaran agama Islam agar sebelum makan, mereka mencuci tangan dan berdoa agar mendapatkan keberkahan. Apa yang dilakukan adalah upaya untuk menalar dengan pikiran sekaligus menghayati dan mengamalkan ajaran agama.

Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan anak. Menurut Kartini Kartono (2003) kenakalan remaja (deliquensi) yang dilakukan oleh anak-anak, para remaja itu pada umumnya merupakan produk dari konstitusi defektif mental orang tua, anggota keluarga dan lingkungan tentangga terdekat, ditambah dengan nafsu primitif dan agresivitas yang tidak terkendalikan.

Kedua, Penampilan fisik sesuai nilai-nilai tradisi dan budaya. Hilangnya akar-sosial dan budaya akan membuat remaja tidak memiliki karakter yang kokoh. Pergaulan bebas melanggar norma susila dan agama yang hanya akan merapuhkan mental remaja. Pergaulan bebas biasanya mereka peroleh dari film, televisi dan internet. Informasi dari internet kebanyakan bebas nilai. Pergeseran nilai-nilai tradisi lokal berganti dengan cara hidup orang global yang melintasi negara, agama membuat aneka perubahan remaja yang beraneka ragam. Serbuan ideologi, trend mode pakaian, membuat penampilan remaja menjadi sesuatu yang unik dan dianalisa. Tampilan yang hanya mengikuti trend di internet dan di hp akan mencerabut akar budaya dilingkungannya. (Bodly experiance) penampilan fisik remaja, seperti laki-laki memakai anting, tindik di hidung, dan di lidah serta bibir, rambut cepak atau gondrong, adalah penampilan remaja untuk diakui sebagai identitas diri. Lihatlah, sebagian remaja sekarang menjadi hal yang biasa berpenampilan “aneh” seperti meniru gaya barat, kemanapun pergi membawa hp (hand phone), rambut bersemir merah, biru, baju bikini dan penampilan “rock and roll”, padahal mereka hidup di desa yang terpencil. Fenomena tersebut menjadi kian memilukan tatkala remaja mengalami penyimpangan perilaku, seperti remaja menjadi ABG (Anak Baru Gede) yang lesbi, atau homo seksual. Perilaku penyimpangan juga terjadi pada sebagian remaja yang terperosok pada penipuan kerja di kota. Dengan mengandalkan modal fisik tanpa disertai ilmu pengetahuan, seringkali remaja terjebak pada dengan maraknya prostitusi yang menggunakan remaja sebagai pangsa pasar bisnis seks. Remaja dijual sebagai bisnis prostitusi yang terselubung, seperti penjaga kafe, panti pijat, yang menggunakan sasaran remaja melayani para tamu dengan hidangan seks untuk hiburan. Kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang dari atau melanggar hukum yang individu. Menurut Cavan (dalam Willis, 1994) dalam bukunya yang berjudul Juvenile Delinguency, menggambarkan kenakalan remaja sebagai gangguan pada anak dan remaja untuk memenuhi beberapa kewajiban yang diharapkan dari mereka oleh lingkungan sosialnya dimana ia berada. (Willis, S. 1994).

Ketiga, Membangun karakter akhlak mulia. Masalah yang dihadapi remaja sangat komplek. Jumlah angkatan kerja 40 juta jiwa dan semakin bertambah tiap tahun. Remaja dewasa berebut mencari lapangan kerja. Angkatan kerja mulai dari lulusan SMA dan lulusan perguruan tinggi. Pekerjaan memicu orang makin stres. Tuntutan kerja yang tinggi, persaingan yang ketat serta pemutusan hubungan kerja yang mengancam demi efisiensi. Mengelola stres membutuhkan tidak cukup hanya pikiran saja mengatasi sejumlah stres yang melanda. Mulai dari kemiskinan yang makin lebar, terorisme yang tak kunjung bisa diatasi hingga persoalan transportasi publik yang tidak tepat waktu. Stres ada di rumah dan ditempat kerja. Tidak meratanya pembangunan, membuat orang melakukan konsentrasi pekerjaan di pusat kota, seperti Jakarta dan Surabaya serta kota-kota propinsi. Sebaliknya, di desa di luar jawa makin sepi, karena penduduknya semakin pindah ke pusat kota yang banyak pilihan pekerjaan. Kepadatan penduduk tidak hanya memicu orang menjadi stres tetapi juga menimbulkan masalah sosial yang berdampak pada lingkungan. Manusia sekarang menghadapi perubahan setiap saat. Perubahan iklim menyebabkan konflik kemanusiaan dan kerusakan alam. Kemacetan telah membuat sebagian orang mengalami stres. Kemiskinan dan kepadatan penduduk memicu orang berbuat kasar dan saling menyikut antar satu dengan yang lain. Para orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing sementara anak-anak remaja tidak terawat dengan baik pertumbuhan fisik dan psikologisnya. Keresahan masyarakat pada kalangan anak-anak remaja mereka bisa dipahami. Semua orang tua menginginkan anak-anak mereka tumbuh dengan baik, dan mengembangkan diri remaja ke arah positif. Remaja tidak hanya menjadi perhatian orang tua. Ditangan remaja bangsa dan negara ini akan diwariskan. Jika remaja dan anak muda dan orang dewasa menderita sakit mental, seperti gejala idiot disatu desa, kampung gila karena banyaknya orang gila yang makin meningkat hingga 52 orang dalam satu desa, maka sungguh memprihatinkan.

Banyak remaja mengalami sakit (illness), yaitu sakit yang berhubungan dengan psikologis. Terkadang, orang tua dan masyarakat cenderung tidak perduli dengan masalah sakit secara psikologis, seperti takut, cemas, stress, trauma dan lainnya yang berhubungan dengan jiwa anak. Sebaliknya para orang tua lebih takut apabila anaknya sakit yang berhubungan dengan fisik (sickness), seperti demam tinggi, batuk pilek, diare. Padahal sakit secara fisik maupun secara mental sama pentingnya yang seharusnya menjadi perhatian para orang tua dan masyarakat. Kenakalan remaja (juvenile delinquent) ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan atau kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang. Anak-anak remaja yang delinquent atau nakal itu disebut pula sebagai anak cacat secara sosial. (Dr. Kartini Kartono, 2005: 6).

Keempat, Membangkitkan nurani Remaja. Membangkitkan nurani dimulai dari hal-hal yang kecil seperti dirumah. Misalnya, dimulai dari penumbuhan karakter dari rumah. Anak-anak remaja dibiasakan untuk makan di rumah, tidak makan di warung-warung. Karena makanan di warung seringkali tidak cukup sehat apabila dikonsumsi terus menerus. Anak-anak menjadi boros dan memilih menu yang tidak sehat. Orang tua perlu menyediakan menu yang bervariasi di rumah, agar anak-anak remaja mereka betah dan makan masakan yang sehat dari orang tua mereka. Pada saat makan, remaja bisa berkomunikasi dengan orang tua tentang keluhan mereka di sekolah, pengalaman hidup mereka dengan teman-teman, serta keinginan remaja. Orang tua perlu mendengarkan keluhan remaja dan membantu mengatasi kesulitan remaja. Jika rasa terbuka anak dan orang tua muncul, maka akan mudah orang tua membangun ikatan emosional dengan anak-anak remaja dan nasehat orang tua akan diikuti oleh anak. Orang tua yang perduli, anak akan memperhatikan saran dan nasehat orang tua. Jika orang tua mengabaikan, anak akan sulit menerima saran dan nasehat orang tua. Anak menjadi tertutup dan bertanya pada orang lain atau media internet yang bebas nilai tentang cara mengatasi masalah mereka. Remaja yang sering keluar di jalan, mereka akan menonton orang-orang yang pacaran di pinggir jalan, dan mereka akan meniru perilaku yang tidak baik.

Mengelola stres dengan membangkitkan kecerdasan pikiran, kecerdasan emosi serta kecerdasan nurani akan membantu remaja mampu memilih kegiatan yang positif bagi kehidupannya. Kegiatan yang berguna dan membawa kebaikan bagi diri dan masa depan mereka. Kecerdasan nurani juga mampu membentengi mereka dari kegiatan yang merusak seperti pergaulan bebas, perkelahian dan kekerasan. Remaja juga perlu belajar memilih kegiatan yang positif bagi kehidupan mereka, bergaul dengan sehat yang tidak melanggar norma agama, nilai budaya, nilai-nilai masyarakat. Penumbuhan karakter yang perlu diajarkan kepada anak oleh masing-masing orang tua, guru dan tokoh agama perlu menjadi perhatian serius.

Bagaimana upaya orangtua, guru, dan masyarakat menjaga anak remaja ditengah perubahan zaman globalisasi? Jika membaca realitas, remaja lebih banyak tinggal dan menghabiskan waktu mereka di sekolah dan di rumah. Di sekolah seharusnya anak-anak remaja belajar ilmu, moral, nilai-nilai luhur bangsa. Sekolah seharusnya bisa membentengi anak-anak remaja dari pengaruh negatif globalisasi. Remaja perlu dibantu untuk tumbuh secara sehat. Tetapi realitasnya, menurut Suyata, 2011 dalam seminar pendidikan di UNESA menjelaskan bahwa sistem persekolahan perlu dicermati bagaimana agar menjadi sekolah yang efektif. Jika diamati, persekolahan telah kehilangan sense of community, yaitu hilangnya solidaritas sosial, hilangnya rasa kebersamaan, hilangnya sense of identity, kehilangan jati diri, karena sekolah dibuat seragam, kehilangan sense of humanity, manusia tidak lagi menjadi sentral, karena diganti dengan label yang meninggalkan kemanusiaan.

Kini, keteladanan sikap dan karakter menjadi makin sulit dilihat oleh anak-anak. Pancasila sebagai falsafah bangsa jarang diamalkan dalam nilai-nilai keseharian. Nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, musyawarah dan keadilan sulit ditemukan pada realitas kebangsaan. Misalnya, sekarang orang cenderung tidak perduli dengan orang lain. Hidup makin individualis. Segregasi antara yang kaya dan miskin makin lebar. Perumahan elit dijaga oleh satpam dan pagar tinggi yang tidak ada interaksi antara satu dengan yang lain. Mobil-mobil pribadi yang mewah makin banyak dan memacetkan jalan. Sementara untuk orang-orang miskin, akses transportasi umum, sangat sering tidak tepat waktu. Transportasi yang disediakan untuk anak-anak dan orang umum sangat minim dan tidak layak. Bahkan, kendaraan umum seringkali terlambat. Anak-anak menyaksikan hal yang biasa, kereta datang terlambat dan bis serta bemo menunggu penumpang penuh dan melebihi kapasitas untuk berangkat. Tidak ada ketentuan yang pasti pukul berapa orang akan tiba di tujuan. Kemacetan, ketidakdisiplinan pengemudi dan penumpang menjadi contoh sehari-hari yang dilihat oleh anak dan remaja serta orang dewasa. Alih-alih menumbuhkan karakter disiplin yang kuat, justru yang terjadi anak-anak remaja mengikuti kebiasaan orang dewasa yang menganggap terlambat adalah hal yang biasa. Bahkan fenomena “bonek” bagi suporter sepakbola tumbuh menakutkan, karena seringkali memicu perkelahian, kekerasan dan merusak fasilitas umum dan pertokoan. Karakter kelompok remaja jauh dari kedisiplinan dan rasa tanggung jawab.

Anak-anak remaja hanya mendapat informasi tentang karakter seperti kejujuran, tanggung jawab dan disiplin dari sekolah tetapi tidak terjadi dikehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu kiranya para guru mengembalikan fungsi sekolah sebagai tempat untuk mendidik siswa-siswi dengan nilai-nilai yang baik, nilai-nilai luhur bangsa yang bersumber dari agama, budaya, sosial. Peran orang tua, guru dan masyarakat mendampingi remaja menghadapi krisis identitas. Remaja perlu dibantu untuk mencapai tugas-tugas perkembangan mereka. Tugas perkembangan remaja seperti mampu bertanggung jawab, membuat keputusan yang bermanfaat bagi masa depan mereka, berpikir logis, mengkalkulasi untung rugi suatu tindakan dan sikap, membaca peluang, belajar disiplin waktu, mempersiapkan karier mereka, mengenali pekerjaan dan menjelaskan ide dan gagasan perlu ditumbuhkan sejak usia SD-SMP-SMA-keperguruan tinggi. Bimbingan dan konseling perlu dirancang disekolah guna menumbuhkan karakter remaja yang kuat. Remaja yang perduli dengan cara hidup sehat dan membuat persiapan untuk menghadapi dunia kerja dengan ilmu dan keterampilan. Kecerdasan yang diasah dengan kemampuan serta karakter seperti inovasi, mampu bekerjasama, dan memiliki akhlak yang mulia, akan bisa bertahan dengan perubahan zaman yang cepat dan tidak menentu.

Akhirnya, untuk mengatasi remaja yang sering terlibat tawuran, kekerasan, ngebut di jalanan yang rawan kecelakaan perlu kiranya belajar kiat remaja tegar dengan cara memperbaiki karakter yang kuat. Remaja perlu berlatih disiplin, kerja keras, membangun jaringan (net working), pola hidup sehat. Untuk dapat mencapai karakter yang kuat remaja perlu meningkatkan iman dan takwa kepada allah SWT, belajar Ilmu pengetahuan, kecerdasan emosi, mendengarkan nasehat guru dan orang tua, mendengar kata hati, dan menginvestasikan waktu untuk kepentingan jangka panjang serta memperbanyak kegiatan positif.[]



Selengkapnya...

Tuesday, January 20, 2009

Gerakan Perempuan dalam Bingkai Patriarkhi

Pandangan miring terhadap perempuan sudah cukup lama terjadi. Dalam� buku The Status of Women in Mahabarata, Prof. Indra menulis: "Tidak ada makhluk yang lebih berdosa daripada perempuan. Perempuan itu menyalakan api. Dia adalah sisi pisau yang tajam." Lantas, apa efek dari pandangan diskriminatif tersebut?




Gerakan Perempuan dalam Bingkai Patriarkhi

Oleh: NAJLAH NAQIYAH
Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa)



Pandangan miring terhadap perempuan sudah cukup lama terjadi. Dalam� buku The Status of Women in Mahabarata, Prof. Indra menulis: �Tidak ada makhluk yang lebih berdosa daripada perempuan. Perempuan itu menyalakan api. Dia adalah sisi pisau yang tajam.� Efek dari pandangan diskriminatif mengakibatkan kekhawatiran terhadap perempuan. Tidak sedikit orang yang meyakini bahwa perempuan adalah sumber malapetaka, kerusakan suatu bangsa, dan pangkal kemerosotan moral. Mengikuti logika di atas, maka perempuan dilarang menjadi pemimpin.

Alih-alih menjadi pemimpin, kehadirannya pun membawa malapetaka. Bentuk klasik yang terus muncul�saat ini adalah pandangan para kiai/tokoh masyarakat yang menganggap bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, perempuan ngurusi rumah tangga saja justru menghambat bagi para santriwati untuk maju. Kiai sebagai tokoh berpengaruh memiliki massa yang tidak sedikit. pemikiran itu terus tersebar dan berlangsung terus menerus, turun temurun dan menjadi fatwa yang ampuh untuk membatasi peran perempuan di lembaga-lembaga sekolah di pesantren. Contoh, Guru perempuan tidak bisa menjadi kepala sekolah, karena perempuan.

Asumsi semacam ini tentu saja bertentangan dengan sejumlah teks agama yang secara telanjang memberikan posisi dan derajat yang sejajar dengan laki-laki.

Lingkungan masyarakat desa, perempuan dianggap setengah manusia daripada laki-laki, itu pula perempuan dilarang menjadi pemimpin. Karena perempuan sibuk dalam urusan rumah tangga, sehingga peran publik dibatasi. Untuk mendobrak pandangan masyarakat desa yang seperti itu tidaklah mudah. Walau perempuan telah belajar disiplin ilmu, masih saja belum dipercaya menjadi leader (pemimpin).

Pengesahan terhadap Undang-Undang Pornografi tidak lepas dari pandangan di atas. Sebab, sorotan undang-undang tersebut lebih banyak kepada kaum perempuan yang membuka auratnya di depan publik. Dengan kata lain, perempuan diposisikan sebagai objek dari Undang-Undang, karena ia telah didudukan sebagai subjek yang mengumbar pornografi.

Peran seorang ibu rumah tangga dan karier di luar rumah menyita banyak waktu. Perempuan mesti berkorban banyak hal agar sukses keduanya. Jika tidak, akan terjebak pada istilah (double burden) peran ganda, sebagai ibu rumah tangga dengan tugas-tugas domestik dan juga sebagai pencari nafkah keluarga.

Bagaimana menyerasikan keduanya antara peran domestik dan karier? itu pulalah yang menuntut perempuan untuk cerdas dan belajar mengambil tanggung jawab peran mana yang kan dilakukan. Bentuk lain yang muncul adalah perempuan sebagai pencari nafkah tanpa dibekali disiplin ilmu yang memadai. Akhirnya perempuan bekerja pada sektor buruh dan tenaga kasar.

Bagaimana sejarah Islam mencatat tentang perempuan?
Dalam sejarah awal-awal Islam (masa nabi), perempuan dan laki-laki berjalan setara. Perempuan biasa keluar masuk rumah, mesjid untuk mendapatkan pendidikan dari Nabi sebagaimana halnya laki-laki. Hasilnya bermunculannya ulama-ulama perempuan, seperti Siti Aisyah, yang tidak kalah hebatnya dengan ulama laki-laki, seperti Sahabat Abu Bakar.

Namun, kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan ini menjadi surut pasca wafatnya Nabi. Ditambah lagi dengan peristiwa keterlibatan Siti Aisyah dalam Perang Unta melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa yang kontroversial di kalangan pemikir Islam klasik, dikatakan sebagai biang kerok terjadinya perpecahan dalam Islam. Stigma ini semakin kuat di kalangan ulama, sehingga tragedi itu dijadikan justifikasi perempuan Islam untuk tidak berkiprah dalam dunia politik.

Kulminasi dari pembatasan ruang publik bagi perempuan terjadi pada masa Kekhalifahan Daulah Islamiyah dan Abbasiyah. Pada masa kepemimpinan Khalifah al-Walid (743-744 M), pada awalnya perempuan ditempatkan di harem-harem dan tidak punya andil dalam keterlibatan publik. Sistem harem ini semakin kukuh tak tertandingi pada akhir kekhalifahan Abbasiyah, yaitu pertengahan abad ke-13 M. Pada periode seperti inilah, lahir tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ar-Razi, Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya, sehingga tidak bisa dipungkiri akan adanya hadist dan tafsir misoginis yang melecehkan perempuan.

Sesungguhnya, Islam sama sekali tidak membedakan jenis kelamin manusia. Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan�disamping jenis kelaminnya (sex)�adalah derajat ketaqwaannya di hadapan Allah. Baik laki-laki ataupun perempuan, sama-sama memiliki potensi yang sama dan sejajar. Disinilah letak Maha Adilnya Allah SWT. Allah tidak membedakan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap perempuan, Allah juga memberikan ketentuan dan kategori-kategori perempuan ideal. al-Qur�an memberikan penjelasan yang cukup cemerlang. Allah berfirman (QS.. 30:41) Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Membaca ayat di atas sungguh sangat tegas betapa kerusakan dan malapetaka bukan saja disebabkan oleh satu jenis kelamin manusia (baca: perempuan), melainkan manusia secara umum tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin.

Tantangan bagi gerakan PSW/PSG untuk memberikan pencerahan bagi mahasiswa sebagai agen of change menjadi penting. Namun, sepertinya sebagian aktivis perempuan kehabisan �energi� untuk bangkit�perjuangkan keadilannya. Sebenarnya tema-tema persamaan, kesetaraan laki-laki dan perempuan ini klasik untuk diperdebatkan lagi, tapi pada prakteknya selalu muncul diskriminasi gender dalam wajah baru di laju modernisasi.

Upaya untuk mengatasi bentuk dominasi patriarkhi sebagai berikut;
Pertama, Mengupayakan gerakan perempuan selalu memberikan pencerahan pada masyarakat di sekitar, tentang budaya patriarkhi yang sebagian besar masih membelenggu.

Kedua, Gerakan perempuan setara dengan laki-laki dalam hal karier menjadi keharusan untuk dilakukan. Citra ideal perempuan menurut al-Qur�an adalah perempuan yang memiliki kemandirian politik (al-istiqlal al-siyasah/QS. al-Mumtahanah/ 60: 12) sebagaimana Ratu Balqis, memiliki kemandirian ekonomi (al-istiqlal al-iqtishadi/ QS. al-Nahl/16: 97), perempuan pengelola peternakan (QS. al-Qashash/28: 23), memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi (al-istiqlal al-syakhshy) yang diyakini kebenarannya, perempuan yang berani menyuarakan kebenaran dan melakukan oposisi terhadap segala kejahatan (QS al-Tawbah/9: 71), dan bahkan Allah menyerukan perang kepada suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Nasaruddin Umar, 1999).

Ketiga, Menyadarkan bahwa laki-laki juga bertanggung jawab untuk mengasuh anak-anak mereka, menemani dan merawat anak-anak adalah kewajiban bersama suami dan istri.

Keempat, Aktivis perempuan mesti menggali lagi komitmen yang sedari awal telah disadari konsekuensinya. Namun demikian, orang-orang di sekitar tidak boleh dipaksakan sama dengan pandangan aktivis perempuan, sehingga para aktivis tidak merasa �kangelan dhewe� dan membawa beban melihat orang-orang di sekitar hanya menonton seakan �menyoraki� nya pergerakan pemberdayaan perempuan.�

Dengan demikian, mengembalikan segala bentuk ketidakadilan adalah komitmen yang mesti dibingkai oleh keteguhan dan usaha terus menerus. []■

http://dutamasyarakat.com/artikel-9670-.html

Selengkapnya...

Saturday, January 03, 2009

Barack Obama dan Kebangkitan Amerika


Pelantikan Barack Hussein Obama paling ditunggu oleh semua manusia di planet bumi ini. Kenapa dunia? Karena dampak kebijakannya akan dirasakan oleh semua manusia di planet bumi ini. Meskipun ia hanya dipilih oleh warga negara AS. Pergelaran terbesar selama 2009 itu akan berlangsung pada 20 Januari di Washington. Obama dilantik sebagai presiden Amerika ke 44. Kira-kira empat juta orang diperkirakan hadir dalam upacara pelantikan Presiden Barack Obama. Ini adalah jumlah pengunjung paling besar di kota Washington DC. Pemerintah AS telah mencetak sebanyak 250 ribu lembar tiket untuk acara pelantikan presiden ke-44 itu pada Januari mendatang.


Barack Obama dan Kebangkitan Amerika
Najlah Naqiyah/Indonesia Media


January, 2009
Pelantikan Barack Hussein Obama paling ditunggu oleh semua manusia di planet bumi ini. Kenapa dunia? Karena dampak kebijakannya akan dirasakan oleh semua manusia di planet bumi ini. Meskipun ia hanya dipilih oleh warga negara AS. Pergelaran terbesar selama 2009 itu akan berlangsung pada 20 Januari di Washington. Obama dilantik sebagai presiden Amerika ke 44. Kira-kira empat juta orang diperkirakan hadir dalam upacara pelantikan Presiden Barack Obama. Ini adalah jumlah pengunjung paling besar di kota Washington DC. Pemerintah AS telah mencetak sebanyak 250 ribu lembar tiket untuk acara pelantikan presiden ke-44 itu pada Januari mendatang.

Pelantikan Obama bisa menjadi momentum bagi kebangkitan Amerika. Amerika akan bisa bangkit lagi. Karena, meminjam istilah Chu Shulong --peneliti di the Brookings Institution, Washington-- kemunduran AS hanya pada tataran soft-power. Artinya: meredupnya AS masih hanya seputar reputasi, superioritas moral, kepercayaan bangsa lain, pengaruh, dan prestige.

Sedangkan untuk hard-power, AS masih merajai dunia. Tengok saja militer AS, masih terkuat. Kepemilikan hulu ledak nuklir masih terbesar kedua setelah Rusia: 5.045 buah. Anggaran militernya $528,7 milyar –terbesar di dunia-- sedang negara-negara lain: Inggris $59.2, Perancis $53,1 milyar, Tiongkok $49,5, Jepang $43,7, Jerman $37,0, dan Rusia $34,7 milyar.

Di sisi lain, Amerika juga masih menjadi negara terkaya di dunia. Baru disusul Jepang, Jerman, lalu Tiongkok dan India.

Beberapa waktu lalu Amerika Serikat bisa dikatakan berada pada titik terendah dalam hubungannya dengan negara-negara luar negeri. Terutama dipicu oleh penyerbuan Presiden AS, George W. Bush ke Iraq, dan sebelumnya Afghanistan. Puncak ketegangan ditandai dengan pengelompokan antara Bad Guy dan Nice Guy yang diwakili oleh AS sendiri. Dengan sekutu terdekat AS sejak Perang Dunia dan selama Perang Dingin, Eropa, mengalami masa-masa terburuk dengan istilah Old Europe dan New Europe –sebuah istilah yang bernada melecehkan. Dan tentu saja, hubungan terburuk dialami oleh dunia Islam secara keseluruhan. Apalagi sejak serangan WTC, 11 September 2001.


Kemenangan Obama dalam memperebutkan presiden lewat Demokrat memberikan peluang-peluang baru bagi dunia. Dalam diri Obama juga memiliki karisma besar untuk didengar sebagaian besar penduduk bumi. Sejak citra terburuk AS akibat ulah Bush, saya kira, Obama lah orang yang bisa mengembalikan citra baik itu. Kenapa? Ia menjadi simbol. Latar belakang hidup Obama menarik bagi banyak orang. Ayahnya berasal dari Kenya, bukan Amerika. Dia akrab dengan benua Afrika. Di saat tidak ada satupun pemimpin dunia yang punya taring saat ini, kekisruhan pemilu di Kenya mereda setelah Obama meminta semua partai yang bertikai berhenti. Suara Obama didengar para elit politik Kenya.

Hal menarik dari Obama adalah ras. Untuk pertama kali, AS akan memiliki Presiden yang berkulit sama dengan separuh penduduk bumi, sawo matang –untuk tidak mengatakan gelap-gulita. Kesan yang timbul bisa mendalam: Presiden AS seperti kita pernah mengenyam masa kanak-kanak di Kuningan, Jakarta. Obama kenal baik dengan Indonesia, tentu beserta Islamnya.

http://www.indonesiamedia.com/2009/1/early/opini/Barack.htm
Selengkapnya...

Sunday, November 30, 2008

Ngelmu ke Tiga Negara

Radar Bromo, Senin, 01 Desember 2008
KRAKSAAN - Nama Najlah Naqiyah sudah tidak asing lagi di Kraksaan. Selain berkecimpung sebagai aktivis pemberdayaan perempuan, dia juga bergelut memperjuangkan kemajuan pendidikan. Lalu, apa kegiatannya selain itu?


Ena, begitu ia karib disapa, sehari-hari bekerja sebagai dosen di STAI Zaha Genggong dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). "Selain aktivitas mengajar, saat ini saya juga sedang menyelesaikan kuliah di S3 di Universitas Negeri Malang (UM)," ujarnya saat ditemui Radar Bromo kemarin.

Aktivitas yang dijalani Ena sekarang adalah jawaban dari cita-cita menjadi ilmuwan yang dipupuknya sejak kecil. "Sejak masih nyantri di Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang saya sudah suka membaca. Bahkan, sekarang saya juga hobi menulis. Kalau ingin membaca tulisan saya, silakan lihat di http: najlah.blogspot.com," ujar putri pasangan KH Abdul Bar Makki dan Hj Sa'diyah Aminuddin ini setengah berpromosi.

Menjadi ilmuwan tak harus melulu berkutat dengan buku dan kehidupan kampus yang bak menara gading. Sebagai aktivis perempuan dan pendidikan Ena tak jarang harus turun langsung ke lapangan. Bahkan, sebagai ketua LSM Puan Amal Hayati Syech Abdul Qodir Jailani (SAQO) Kabupaten Probolinggo ia harus merelakan sebagian waktunya untuk "mendengar" orang lain. Terutama para perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Di Puan Amal Hayati, saya selalu mengadvokasi dan menerima berbagai macam laporan kasus dari para ibu-ibu yang teraniaya. Alhamdulillah, sudah banyak yang sudah tertangani," kata perempuan yang lahir di Bangkalan 6 September 1978 ini.

Bukan hanya soal advokasi perempuan, Ena juga getol dalam aktivitas memajukan pendidikan. Bersama Shinta Nuriyah (istri KH Abdurrahman Wahid) Ena sudah pernah menyinggahi Amerika, Thailand, dan Hongkong.

"Di sana saya banyak mendapat pengalaman ilmiah tentang pendidikan dan sistemnya serta pembelajaran demokrasi. Saya akan berjuang untuk menerapkannya di Probolinggo ini. Sisi positif pola pendidikan semacam kedisiplinan dan metodologi pengajaran dan lainnya bisa kita adopsi," terangnya.

Perempuan calon doktor ini memiliki motto hidup, mengurangi penderitaan dan memperbaiki karakter. "Untuk mendapat pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang baik perempuan tak boleh putus sekolah," ujar perempuan penggemar bakso ini. (ain)
Selengkapnya...

Thursday, July 10, 2008

Tiga Santri Idola Lolos Audisi

Radar Bromo, Jawa Pos. Jum'at, 11 Juli 2008


Mewakili Probolinggo ke Jawa Timur

KRAKSAAN - Tiga peserta audisi Santri Idola dinyatakan lolos ke Jawa Timur. Sukses itu diperoleh setelah mereka bersaing dengan 80 peserta lainnya di gedung Islamic Centre Kraksaan, Rabu (9/7). Rencananya, audisi di tingkat Jawa Timur digelar tanggal 25 Juli nanti.

Sebagai juara I, Untung Prayudi, dari Pesantren Lubbul Labib Kedungsari Kecamatan Maron, juara II Muhammad Idris dari pesantren Sirajul Ulum, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, danjuara III Muhammad Muhdar dari pesantren Syekh Abdul Qadir al Jailani, Desa Rangkang, Kraksaan.

Menurut ketua panitia Najlah, jumlah peserta audisi Santri Idola, melebih target. "Targetnya 50 peserta. Tapi akhirnya menjadi 80 peserta. Ini menunjukkan banyak pesantren yang antusias mengikuti acara ini," katanya.

Sementara itu, menurut salah satu komentator lomba, Rizqon Khamami, hampir semua peserta bagus dalam retorikanya. Kelemahannya hanya kurang pengalaman berhadapan dengan penonton. "Jadinya, banyak peserta yang grogi dan kaku dalam menyampaikan pidatonya," jelas Rizqon yang ditemui Radar Bromo usai acara.

Untung Prayudi saat ditemui Radar Bromo mengaku bersyukur karena dirinya bisa menang dalam audisi itu. "Semua ini berkat dukungan para guru, teman, dan orang tua. Saya berterima kasih pada semuanya yang memberikan saya semangat dan akhirnya bisa menjadi juara," ujar Untung sambil memegang tropi juara satu yang didapatnya.

Selain itu, menurut Bupati Hasan Aminuddin dalam sambutannya di penutupan acara, santri saat ini sudah waktunya untuk berada di garda depan dalam segala hal. Profesional dalam menyampaikan syiar-syiar Islam. Santri tidak hanya memahami ilmu agama saja, tetapi semua aspek harus dipelajari secara utuh.

"Saat ini, sudah waktunya santri bangkit. Profesional dalam segala bahasa. Tetapi jangan lupa kalau menjadi santri yang berguna bagi masyarakat, agama dan negara. Jangan lupa juga kepada daerah dan kultur daerahnya," jelasnya.

Hasan juga merencanakan, dalam bulan puasa nanti, di Kota Kraksaan akan mengadakan lomba patrol tradisional bekerja sama dengan JTV. Itu akan diikuti oleh seluruh pesantren yang ada di kabupaten Probolinggo. "Menghibur bulan Ramadan dengan budaya daerah yang Islami," katanya.

Setelah Idul Fitri nanti, lanjut Hasan, pihaknya akan menggelar audisi untuk santri puteri. "Karena Probolinggo adalah daerah yang banyak pesantrennya, termasuk kota santri, apalagi kota Kraksaan. Mari kita bangun Kota Kraksaan ini menjadi kota percontohan kota pesantren di Indonesia," jelasnya. (ain)



http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=12181

Selengkapnya...

Monday, April 21, 2008

Perempuan Menggugat

Peringatan Hari Kartini dirayakan setiap tanggal 21 April. Kartini simbol pergerakan perempuan di Indonesia. Kartini berhasil menyuarakan ketidakadilan sistem yang dulu tengah dihadapinya. Dulu, Kartini melawan sistem penjajahan Belanda melalui tulisan surat-suratnya. Surat-surat Kartini dikirim ke temannya menyebar ke dunia. Tulisan-tulisannya menceritakan semangatnya melawan penindasan saat itu. Tulisan Kartini menyuarakan semangat, gugatan dan perlawanan sikap Kartini sebagai pahlawan yang dikenal dengan tulisan “habis gelap terbitlah terang”. Lalu, apa refleksi untuk kita?

***

Perempuan Menggugat

Oleh : Najlah Naqiyah


Peringatan Hari Kartini dirayakan setiap tanggal 21 April. Kartini simbol pergerakan perempuan di Indonesia. Kartini berhasil menyuarakan ketidakadilan sistem yang dulu tengah dihadapinya. Dulu, Kartini melawan sistem penjajahan Belanda melalui tulisan surat-suratnya. Surat-surat Kartini dikirim ke temannya menyebar ke dunia. Tulisan-tulisannya menceritakan semangatnya melawan penindasan saat itu. Tulisan Kartini menyuarakan semangat, gugatan dan perlawanan sikap Kartini sebagai pahlawan yang dikenal dengan tulisan “habis gelap terbitlah terang”. Di era globalisasi dan kapitalisme telah membuat harga-harga kebutuhan pokok mahal. Sistem monopoli dagang kapitalisme memihak pemodal dan mencekik masyarakat miskin.

Keadilan peran bagi perempuan belum sepenuhnya terwujud. Banyak perempuan mengalami peran ganda dalam wilayah domestik dan publik. Banyak pula perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, seperti cerai, perselingkuhan, dan pemukulan. Perempuan mengurus pekerjaan rumah tangga dengan segala beban kewajiban mereka merawat anak-anak, juga mencari nafkah. Ketika laki-laki tidak memiliki gaji yang cukup, atau ketika laki-laki tidak menceraikan dan emmbiarkan perempuan tanpa nafkah, maka banyak perempuan yang terjun sebagai penyangga ekonomi keluarga. Kesejahteraan yang diimpikan perempuan, kadang mesti dikorbankan untuk kehidupan keluarga. Perempuan seringkali mengorbankan kepentingan mereka demi kepentingan anak, keluarga dan orang lain. Ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan selayaknya dilawan oleh perempuan.

Kini, saatnya perempuan menggugat sistem yang tidak adil di negeri ini, perempuan mempertanyakan kembali, apakah kouta 30 % yang tercantum dalam UU no 12/2003 tentang keterwakilan perempuan di kekuasaan telah membawa perubahan nasib perempuan lebih baik? Tidak, ketika menteri keuangan perempuan dan para anggota legislatif ada perwakilan perempuan, justru harga-harga bahan pokok makin melambung. Dimana ada kesejahteraan bagi kaum perempuan, jika harga-harga kebutuhan rumah tangga selalu naik? Bagaimana mewujudkan kesejahteraan anak dan perempuan, jika tidak ada sistem yang melindungi kaum miskin? Eksploitasi anak dan perempuan makin merajalela, kemiskinan dan kemelaratan dibiarkan. Anak dan perempuan terjebak trafficking, kurir narkoba, pekerja seks. Siapa yang paling dikorbankan atas sistem yang diskriminatif, eksploitatif ? Anak dan perempuan yang paling menderita. Banyak ibu-ibu frustasi akibat tidak punya biaya untuk merawat anak-anak mereka. Kekerasan yang mendera kaum perempuan berupa (1) stres (2) bergantung pada orang lain (3) miskin ekonomi (4) harga diri rendah (5) tidak memiliki akses informasi dan teknologi (6) kecemasan berlebihan (7) terisolir dari lingkungan (8) putus asa dan frustasi. Bentuk frustasi perempuan miskin yang mengambil jalan pintas seperti perilaku seorang ibu yang meninggalkan anak-anak balita mereka di rumah sakit begitu saja.


Kesetaraan gender di Indonesia belum terjadi. Peran gender yang berlaku di masyarakat masih bertumpu pada perempuan sebagai pemeran domestik sekaligus publik. Kini, perempuan di era globalisasi makin kompleks perannya. Disatu sisi, belum ada kesepahaman antara pasangan mereka tentang kesetaraan gender, sementara disisi lain, perempuan harus bekerja memenuhi nafkah diri dan anak-anak mereka. Akibatnya, perempuan bertumpu pada dua tugas besar yang mesti mereka pikul, peran domestik dan publik. Bertambahnya peran perempuan sebagai sumber penghasilan dapat di lihat dari bertambahnya angka partisipasi angkatan kerja perempuan 55 % pada tahun 1999. maka, dampak langsung dari krisis adalah bertambah panjangnya jam kerja dan jam ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidup. (UNICEF 2000).

Perempuan mengurus kebutuhan rumah tangga, mulai dari urusan dapur, rumah, anak serta kantor. Semestinya, peran domestik bisa dilakukan juga oleh laki-laki. Tetapi masyarakat masih tabu jika melihat laki-laki menggendong balita, laki-laki memasak di dapur atau laki-laki mencuci baju dan menyapu rumah. Padahal, peran domestik tersebut bisa dipergantikan antara laki-laki dan perempuan. Sementara perempuan, selain mereka bekerja sebagai ibu rumah tangga, mereka dituntut untuk bekerja dan beraktualisasi di luar rumah.

Perempuan yang terlalu berkorban akan merasakan sakit secara psikologis dan fisiologisnya. Perempuan makin stres menghadapi dua pekerjaan besar (urusan rumah dan urusan kantor). Urusan rumah tangga dimulai dari bangun tidur sampai larut malam. Perempuan bekerja mulai dari membuka mata dari subuh, memasak, menyiapkan anak-anak ke sekolah, lalu menyiapkan diri berangkat ke tempat kerja. Pulang kerja, perempuan masih harus mengerjakan urusan rumah tangga, mulai memasak dan menjaga anak-anak mereka sampai larut malam.. Ritme pekerjaan perempuan berlangsung 24 jam bagi perempuan yang mengorbankan diri secara berlebihan. Mereka stres di rumah dan di kantor. Perempuan selalu cekcok dengan pasangan mereka akibat desakan ekonomi yang tidak bisa mereka penuhi.

Ibu rumah tangga menghadapi problem pelik. Harga kebutuhan pokok yang melambung, membuat asap dapur tidak mengepul. Indikasi melonjaknya harga kebutuhan sehari-hari dilihat dari langkanya minyak tanah, gas elpiji, dan BBM mulai terasa. Kenaikan bahan pokok sembako setiap waktu tidak stabil. Harga minyak goreng, minyak tanah dan ikan di pasar membuat para ibu-ibu gelisah. Banyak minyak goreng bekas yang dicampur zak kimia beredar di pasaran dengan murah. Masyarakat bingung dan tidak bisa menjangkau harga yang mahal. Harga tahu dan tempe juga tidak luput dari kenaikan harga, bahan kedelai langka di pasaran. Harga tepung terigu naik 100 %. Ditambah lagi, kebijakan pembatasan pembelian minyak tanah, membuat kebutuhan rumah tangga meningkat. Naiknya harga gas elpiji di pasar meresahkan masyarakat. Naiknya harga BBM juga menyebabkan naiknya tiket alat-alat transportasi. Orang miskin yang tidak memiliki penghasilan cukup, tentu merasakan susahnya menikmati transportasi umum yang mahal. Jumlah orang miskin bertambah sedang kesejahteraan makin hilang.

Anak-anak juga merasakan dampak secara tidak langsung dari kurangnya asupan gizi dan perawatan mereka. Ketika harga BBM naik, otomatis harga susu, daging, sayur dan makanan balita melaju naik. Orang tua akan mengurangi anggaran balita mereka, karena mahal. Jeritan anak balita kurang gizi mulai bertambah, seiring bencana. Data gizi buruk balita di tiap daerah bertambah. Ibu rumah tangga penanggung beban dapur, harus belanja kebutuhan keluarga dengan uang yang tidak menentu. Kebijakan menaikkan harga BBM tanpa disertai oleh persiapan menyengsarakan masyarakat miskin. Ibu rumah tangga mesti bisa menyiasati kebutuhan rumah tangga dengan cerdas. Para ibu perlu menyiapkan uang tambahan menomboki belanja di pasar karena mahal. Ibu-ibu perlu terampil membelanjakan uang yang pas-pasan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Peringatan hari Kartini menjadi momentum bagi perempuan merefleksi diri, bagaimana menghadapi masa depan dengan cara lebih baik? Perempuan perlu berjuang meraih hidup lebih baik. Perempuan membutuhkan energi yang kuat meraih keadilan dan kesetaraan. Perempuan perlu bersemangat menciptakan perubahan kearah yang lebih sejahtera.

Perlawanan itu dengan cara memperbaiki sistem, bersaing secara kompetitif merebut akses ekonomi, sosial, politik bagi perempuan. Perayaan Kartini memberi inspirasi bagi perempuan saat ini untuk merefleksi ketidakadilan sistem, melawan sistem kapitalisme yang membawa kemiskinan dan keterbelakangan.

Selengkapnya...

Sunday, January 20, 2008

Menjadi Juri pada 'Religion and Society: Dialogue'




Lombok Senggigi,

Senin sore, 17 Desember 2007, penulis terbang ke Lombok Mataram bersama dengan rombongan juri CCE (Civic Of Center Education). Penulis bermalam di Hotel Shangrilla Senggigi Lombok Mataram. Juri CCE tersebut terdiri dari: Wiliam Ryan (ketua), Tia, dan ketiga dewan juri lain, yaitu Syukron Hamid (UIN Ciputat, Jakarta) dan Najlah Naqiyah serta Jefry Loe. Penulis bersyukur dipercaya sebagai salah satu juri oleh CCE untuk menyeleksi peserta pada program Dialog Agama dan Masyarakat (Religion and Society: Dialogue) ke Amerika Serikat untuk kali ini. Pelajaran apa saja yang dapat penulis peroleh?

Penulis, sebagai pelaku pendidikan di Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani Rangkang Kraksaan Probolinggo, berbesar hati memperoleh kesempatan terlibat menyeleksi peserta delegasi program kunjungan Religion and Society: A Dialogue. Program ini adalah program pertukaran yang ditujukan untuk cendikiawan muslim, alim ulama, dan tokoh masyarakat di Indonesia dan Amerika. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Legacy International dan Center for Civic Education, didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Dalam kesempatan itu, Penulis menguji para peserta yang bergelar Master atau Doktor dari berbagai perguruan tinggi di Mataram. Peserta berasal dari pasca sarjana Teologi, Filsafat Agama, Perbandingan Agama, atau sedang melanjutkan program Doktor (S3) pada bidang ilmu lainnya. Sebagian besar peserta yang ikut berprofesi sebagai dosen yang telah mengajar di universitas atau Perguruan Tinggi. Ketika penulis berhadapan dengan peserta, ada rasa tersanjung bisa menguji para tokoh agama dari Mataram. Sebuah kesempatan yang langka. Seluruh peserta berumur lebih tua dari penulis. Mereka mayoritas punya pengalaman sekolah ke luar negeri dan bertahun-tahun berkecimpung pada pemberdayaan ummat. Usia penulis tidak membatasi untuk menjadi juri mereka. Kesempatan ini, membuat penulis dapat lebih banyak belajar berdialog, berdiskusi, dan bertanya kepada para Master dan Doktor dari kalangan kampus Mataram.

Penulis banyak belajar dari pengalaman berharga ini, terutama sejak mengikuti program Community Leader setahun lalu. Refleksi penulis antara lain:

Pertama, kesempatan "belajar" ke Amerika Serikat tidak dimiliki oleh setiap orang. Pengalaman kunjungan sebulan di Amerika dalam program Community leader telah memberi penulis bahan belajar yang berlimpah. Dan, kesempatan berkunjung ke Amerika Serikat sulit terlupakan dari ingatan. Budaya Amerika dalam disiplin waktu, orang-orang Amerika yang ramah dan suka meminta maaf serta berterima kasih adalah budaya unik yang penulis lihat di Amerika. Pengalaman hidup di Amerika telah mampu mengurangi prasangka penulis tentang Amerika yang menakutkan. Penulis belajar bertoleransi ke orang yang berbeda agama, bebas menjalankan ibadah sesuai kepercayaan mereka dan menghargai perbedaan kulit, etnik dan ras. Pengalaman itulah yang penulis diskusikan dengan para peserta bagaimana mereka nanti akan beradaptasi dengan orang asing yang memiliki perbedaan agama, bangsa dan budaya? Dari dialog itu, muncul berbagai pandangan peserta bagaimana mereka memandang Amerika.

Kedua, Kemajuan peradaban Amerika mendorong penulis untuk meniru dan mempraktekkan pada kehidupan sehari-hari. Misalnya budaya tepat waktu dan hidup mandiri. Di Indonesia, masyaraktnya sangat pelan dan lamban. Terlebih di desa penulis terasa sangat slow (lambat). Nampak dari jalan mereka yang pelan, banyak tinggal di rumah, nganggur dan mengerjakan sesuatu dengan cara biasa-biasa aja. Hal ini berbeda dengan apa yang penulis lihat sewaktu tinggal di Amerika. Orang Amerika selalu sibuk dan bekerja serba cepat. Berjalanpun sangat cepat seperti diburu oleh waktu. Tidak ada makan siang gratis, semua orang mesti bekerja sendiri untuk memiliki uang. Mereka memiliki jadwal kegiatan yang padat dan teratur. Penulis merasakan manfaat yang besar dari kebiasaan yang penulis tiru, seperti bagaimana mengatur jadwal keseharian agar bisa melakukan aktifitas tepat waktu. Bagaimana mengatur jadwal agar tepat waktu dan melakukan dengan cara cepat, tepat banyak menolong penulis. Penulis sangat terbantu melakukan kegiatan rumah tangga dan karier dengan berusaha menyelesaikan secara cepat dan tepat. Maklumlah, kesibukan penulis mengurus anak balita usia 10 bulan membutuhkan ekstra waktu untuk berbagi, disamping juga membagi jadwal untuk sekolah S3 dan bekerja sebagai dosen.


Ketiga, Perjumpaan penulis dengan orang Amerika dan lembaga CCE mendorong Penulis ingin sekolah ke Amerika. Sebuah keinginan dan mimpi untuk go international. Hidup di Amerika Serikat seperti mimpi saja. Hidup dengan suasana multicultural dan kompetisi yang tinggi adalah keinginan penulis. Karena bagaimanapun lingkungan akan menentukan tumbuh kembang penulis secara maksimal. Penulis sangat mengagumi orang-orang besar yang bisa menempuh study pascasarjana di Amerika dengan beasiswa. Kegigihan mereka belajar bahasa Inggris dan kemauan untuk belajar yang kebanyakan lulusan Amerika menjadi orang besar di tanah air. Hal tersebut, bisa dipahami karena fasilitas sekolah di Amerika sangat lengkap. Akses perpustakaan dan metode pembelajaran yang maju membuat lulusan Amerika diperhitungkan oleh perusahaan, atau lembaga penampung lainnya. Penulis mengakui, tidak mudah memperoleh beasiswa pascadoktoral ke Amerika, tetapi juga tidak mustahil kesempatan itu ada bagi siapapun yang berusaha keras. Perjumpaan penulis dengan orang-orang terkenal membuat semangat penulis hadir kembali untuk segera menuntaskan desertasi tentang self-efficacy di kampus Universitas Negeri Malang. Semoga.
Selengkapnya...