Suara Hati Seorang Perempuan

Tuesday, January 20, 2009

Gerakan Perempuan dalam Bingkai Patriarkhi

Pandangan miring terhadap perempuan sudah cukup lama terjadi. Dalam� buku The Status of Women in Mahabarata, Prof. Indra menulis: "Tidak ada makhluk yang lebih berdosa daripada perempuan. Perempuan itu menyalakan api. Dia adalah sisi pisau yang tajam." Lantas, apa efek dari pandangan diskriminatif tersebut?




Gerakan Perempuan dalam Bingkai Patriarkhi

Oleh: NAJLAH NAQIYAH
Dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa)



Pandangan miring terhadap perempuan sudah cukup lama terjadi. Dalam� buku The Status of Women in Mahabarata, Prof. Indra menulis: �Tidak ada makhluk yang lebih berdosa daripada perempuan. Perempuan itu menyalakan api. Dia adalah sisi pisau yang tajam.� Efek dari pandangan diskriminatif mengakibatkan kekhawatiran terhadap perempuan. Tidak sedikit orang yang meyakini bahwa perempuan adalah sumber malapetaka, kerusakan suatu bangsa, dan pangkal kemerosotan moral. Mengikuti logika di atas, maka perempuan dilarang menjadi pemimpin.

Alih-alih menjadi pemimpin, kehadirannya pun membawa malapetaka. Bentuk klasik yang terus muncul�saat ini adalah pandangan para kiai/tokoh masyarakat yang menganggap bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, perempuan ngurusi rumah tangga saja justru menghambat bagi para santriwati untuk maju. Kiai sebagai tokoh berpengaruh memiliki massa yang tidak sedikit. pemikiran itu terus tersebar dan berlangsung terus menerus, turun temurun dan menjadi fatwa yang ampuh untuk membatasi peran perempuan di lembaga-lembaga sekolah di pesantren. Contoh, Guru perempuan tidak bisa menjadi kepala sekolah, karena perempuan.

Asumsi semacam ini tentu saja bertentangan dengan sejumlah teks agama yang secara telanjang memberikan posisi dan derajat yang sejajar dengan laki-laki.

Lingkungan masyarakat desa, perempuan dianggap setengah manusia daripada laki-laki, itu pula perempuan dilarang menjadi pemimpin. Karena perempuan sibuk dalam urusan rumah tangga, sehingga peran publik dibatasi. Untuk mendobrak pandangan masyarakat desa yang seperti itu tidaklah mudah. Walau perempuan telah belajar disiplin ilmu, masih saja belum dipercaya menjadi leader (pemimpin).

Pengesahan terhadap Undang-Undang Pornografi tidak lepas dari pandangan di atas. Sebab, sorotan undang-undang tersebut lebih banyak kepada kaum perempuan yang membuka auratnya di depan publik. Dengan kata lain, perempuan diposisikan sebagai objek dari Undang-Undang, karena ia telah didudukan sebagai subjek yang mengumbar pornografi.

Peran seorang ibu rumah tangga dan karier di luar rumah menyita banyak waktu. Perempuan mesti berkorban banyak hal agar sukses keduanya. Jika tidak, akan terjebak pada istilah (double burden) peran ganda, sebagai ibu rumah tangga dengan tugas-tugas domestik dan juga sebagai pencari nafkah keluarga.

Bagaimana menyerasikan keduanya antara peran domestik dan karier? itu pulalah yang menuntut perempuan untuk cerdas dan belajar mengambil tanggung jawab peran mana yang kan dilakukan. Bentuk lain yang muncul adalah perempuan sebagai pencari nafkah tanpa dibekali disiplin ilmu yang memadai. Akhirnya perempuan bekerja pada sektor buruh dan tenaga kasar.

Bagaimana sejarah Islam mencatat tentang perempuan?
Dalam sejarah awal-awal Islam (masa nabi), perempuan dan laki-laki berjalan setara. Perempuan biasa keluar masuk rumah, mesjid untuk mendapatkan pendidikan dari Nabi sebagaimana halnya laki-laki. Hasilnya bermunculannya ulama-ulama perempuan, seperti Siti Aisyah, yang tidak kalah hebatnya dengan ulama laki-laki, seperti Sahabat Abu Bakar.

Namun, kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan ini menjadi surut pasca wafatnya Nabi. Ditambah lagi dengan peristiwa keterlibatan Siti Aisyah dalam Perang Unta melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Peristiwa yang kontroversial di kalangan pemikir Islam klasik, dikatakan sebagai biang kerok terjadinya perpecahan dalam Islam. Stigma ini semakin kuat di kalangan ulama, sehingga tragedi itu dijadikan justifikasi perempuan Islam untuk tidak berkiprah dalam dunia politik.

Kulminasi dari pembatasan ruang publik bagi perempuan terjadi pada masa Kekhalifahan Daulah Islamiyah dan Abbasiyah. Pada masa kepemimpinan Khalifah al-Walid (743-744 M), pada awalnya perempuan ditempatkan di harem-harem dan tidak punya andil dalam keterlibatan publik. Sistem harem ini semakin kukuh tak tertandingi pada akhir kekhalifahan Abbasiyah, yaitu pertengahan abad ke-13 M. Pada periode seperti inilah, lahir tafsir Ath-Thabari, Tafsir Ar-Razi, Tafsir Ibnu Katsir dan lainnya, sehingga tidak bisa dipungkiri akan adanya hadist dan tafsir misoginis yang melecehkan perempuan.

Sesungguhnya, Islam sama sekali tidak membedakan jenis kelamin manusia. Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan�disamping jenis kelaminnya (sex)�adalah derajat ketaqwaannya di hadapan Allah. Baik laki-laki ataupun perempuan, sama-sama memiliki potensi yang sama dan sejajar. Disinilah letak Maha Adilnya Allah SWT. Allah tidak membedakan antara satu makhluk dengan makhluk yang lain.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap perempuan, Allah juga memberikan ketentuan dan kategori-kategori perempuan ideal. al-Qur�an memberikan penjelasan yang cukup cemerlang. Allah berfirman (QS.. 30:41) Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Membaca ayat di atas sungguh sangat tegas betapa kerusakan dan malapetaka bukan saja disebabkan oleh satu jenis kelamin manusia (baca: perempuan), melainkan manusia secara umum tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin.

Tantangan bagi gerakan PSW/PSG untuk memberikan pencerahan bagi mahasiswa sebagai agen of change menjadi penting. Namun, sepertinya sebagian aktivis perempuan kehabisan �energi� untuk bangkit�perjuangkan keadilannya. Sebenarnya tema-tema persamaan, kesetaraan laki-laki dan perempuan ini klasik untuk diperdebatkan lagi, tapi pada prakteknya selalu muncul diskriminasi gender dalam wajah baru di laju modernisasi.

Upaya untuk mengatasi bentuk dominasi patriarkhi sebagai berikut;
Pertama, Mengupayakan gerakan perempuan selalu memberikan pencerahan pada masyarakat di sekitar, tentang budaya patriarkhi yang sebagian besar masih membelenggu.

Kedua, Gerakan perempuan setara dengan laki-laki dalam hal karier menjadi keharusan untuk dilakukan. Citra ideal perempuan menurut al-Qur�an adalah perempuan yang memiliki kemandirian politik (al-istiqlal al-siyasah/QS. al-Mumtahanah/ 60: 12) sebagaimana Ratu Balqis, memiliki kemandirian ekonomi (al-istiqlal al-iqtishadi/ QS. al-Nahl/16: 97), perempuan pengelola peternakan (QS. al-Qashash/28: 23), memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi (al-istiqlal al-syakhshy) yang diyakini kebenarannya, perempuan yang berani menyuarakan kebenaran dan melakukan oposisi terhadap segala kejahatan (QS al-Tawbah/9: 71), dan bahkan Allah menyerukan perang kepada suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Nasaruddin Umar, 1999).

Ketiga, Menyadarkan bahwa laki-laki juga bertanggung jawab untuk mengasuh anak-anak mereka, menemani dan merawat anak-anak adalah kewajiban bersama suami dan istri.

Keempat, Aktivis perempuan mesti menggali lagi komitmen yang sedari awal telah disadari konsekuensinya. Namun demikian, orang-orang di sekitar tidak boleh dipaksakan sama dengan pandangan aktivis perempuan, sehingga para aktivis tidak merasa �kangelan dhewe� dan membawa beban melihat orang-orang di sekitar hanya menonton seakan �menyoraki� nya pergerakan pemberdayaan perempuan.�

Dengan demikian, mengembalikan segala bentuk ketidakadilan adalah komitmen yang mesti dibingkai oleh keteguhan dan usaha terus menerus. []■

http://dutamasyarakat.com/artikel-9670-.html

Selengkapnya...

Saturday, January 03, 2009

Barack Obama dan Kebangkitan Amerika


Pelantikan Barack Hussein Obama paling ditunggu oleh semua manusia di planet bumi ini. Kenapa dunia? Karena dampak kebijakannya akan dirasakan oleh semua manusia di planet bumi ini. Meskipun ia hanya dipilih oleh warga negara AS. Pergelaran terbesar selama 2009 itu akan berlangsung pada 20 Januari di Washington. Obama dilantik sebagai presiden Amerika ke 44. Kira-kira empat juta orang diperkirakan hadir dalam upacara pelantikan Presiden Barack Obama. Ini adalah jumlah pengunjung paling besar di kota Washington DC. Pemerintah AS telah mencetak sebanyak 250 ribu lembar tiket untuk acara pelantikan presiden ke-44 itu pada Januari mendatang.


Barack Obama dan Kebangkitan Amerika
Najlah Naqiyah/Indonesia Media


January, 2009
Pelantikan Barack Hussein Obama paling ditunggu oleh semua manusia di planet bumi ini. Kenapa dunia? Karena dampak kebijakannya akan dirasakan oleh semua manusia di planet bumi ini. Meskipun ia hanya dipilih oleh warga negara AS. Pergelaran terbesar selama 2009 itu akan berlangsung pada 20 Januari di Washington. Obama dilantik sebagai presiden Amerika ke 44. Kira-kira empat juta orang diperkirakan hadir dalam upacara pelantikan Presiden Barack Obama. Ini adalah jumlah pengunjung paling besar di kota Washington DC. Pemerintah AS telah mencetak sebanyak 250 ribu lembar tiket untuk acara pelantikan presiden ke-44 itu pada Januari mendatang.

Pelantikan Obama bisa menjadi momentum bagi kebangkitan Amerika. Amerika akan bisa bangkit lagi. Karena, meminjam istilah Chu Shulong --peneliti di the Brookings Institution, Washington-- kemunduran AS hanya pada tataran soft-power. Artinya: meredupnya AS masih hanya seputar reputasi, superioritas moral, kepercayaan bangsa lain, pengaruh, dan prestige.

Sedangkan untuk hard-power, AS masih merajai dunia. Tengok saja militer AS, masih terkuat. Kepemilikan hulu ledak nuklir masih terbesar kedua setelah Rusia: 5.045 buah. Anggaran militernya $528,7 milyar –terbesar di dunia-- sedang negara-negara lain: Inggris $59.2, Perancis $53,1 milyar, Tiongkok $49,5, Jepang $43,7, Jerman $37,0, dan Rusia $34,7 milyar.

Di sisi lain, Amerika juga masih menjadi negara terkaya di dunia. Baru disusul Jepang, Jerman, lalu Tiongkok dan India.

Beberapa waktu lalu Amerika Serikat bisa dikatakan berada pada titik terendah dalam hubungannya dengan negara-negara luar negeri. Terutama dipicu oleh penyerbuan Presiden AS, George W. Bush ke Iraq, dan sebelumnya Afghanistan. Puncak ketegangan ditandai dengan pengelompokan antara Bad Guy dan Nice Guy yang diwakili oleh AS sendiri. Dengan sekutu terdekat AS sejak Perang Dunia dan selama Perang Dingin, Eropa, mengalami masa-masa terburuk dengan istilah Old Europe dan New Europe –sebuah istilah yang bernada melecehkan. Dan tentu saja, hubungan terburuk dialami oleh dunia Islam secara keseluruhan. Apalagi sejak serangan WTC, 11 September 2001.


Kemenangan Obama dalam memperebutkan presiden lewat Demokrat memberikan peluang-peluang baru bagi dunia. Dalam diri Obama juga memiliki karisma besar untuk didengar sebagaian besar penduduk bumi. Sejak citra terburuk AS akibat ulah Bush, saya kira, Obama lah orang yang bisa mengembalikan citra baik itu. Kenapa? Ia menjadi simbol. Latar belakang hidup Obama menarik bagi banyak orang. Ayahnya berasal dari Kenya, bukan Amerika. Dia akrab dengan benua Afrika. Di saat tidak ada satupun pemimpin dunia yang punya taring saat ini, kekisruhan pemilu di Kenya mereda setelah Obama meminta semua partai yang bertikai berhenti. Suara Obama didengar para elit politik Kenya.

Hal menarik dari Obama adalah ras. Untuk pertama kali, AS akan memiliki Presiden yang berkulit sama dengan separuh penduduk bumi, sawo matang –untuk tidak mengatakan gelap-gulita. Kesan yang timbul bisa mendalam: Presiden AS seperti kita pernah mengenyam masa kanak-kanak di Kuningan, Jakarta. Obama kenal baik dengan Indonesia, tentu beserta Islamnya.

http://www.indonesiamedia.com/2009/1/early/opini/Barack.htm
Selengkapnya...

Sunday, November 30, 2008

Ngelmu ke Tiga Negara

Radar Bromo, Senin, 01 Desember 2008
KRAKSAAN - Nama Najlah Naqiyah sudah tidak asing lagi di Kraksaan. Selain berkecimpung sebagai aktivis pemberdayaan perempuan, dia juga bergelut memperjuangkan kemajuan pendidikan. Lalu, apa kegiatannya selain itu?


Ena, begitu ia karib disapa, sehari-hari bekerja sebagai dosen di STAI Zaha Genggong dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). "Selain aktivitas mengajar, saat ini saya juga sedang menyelesaikan kuliah di S3 di Universitas Negeri Malang (UM)," ujarnya saat ditemui Radar Bromo kemarin.

Aktivitas yang dijalani Ena sekarang adalah jawaban dari cita-cita menjadi ilmuwan yang dipupuknya sejak kecil. "Sejak masih nyantri di Ponpes Mambaul Maarif Denanyar Jombang saya sudah suka membaca. Bahkan, sekarang saya juga hobi menulis. Kalau ingin membaca tulisan saya, silakan lihat di http: najlah.blogspot.com," ujar putri pasangan KH Abdul Bar Makki dan Hj Sa'diyah Aminuddin ini setengah berpromosi.

Menjadi ilmuwan tak harus melulu berkutat dengan buku dan kehidupan kampus yang bak menara gading. Sebagai aktivis perempuan dan pendidikan Ena tak jarang harus turun langsung ke lapangan. Bahkan, sebagai ketua LSM Puan Amal Hayati Syech Abdul Qodir Jailani (SAQO) Kabupaten Probolinggo ia harus merelakan sebagian waktunya untuk "mendengar" orang lain. Terutama para perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Di Puan Amal Hayati, saya selalu mengadvokasi dan menerima berbagai macam laporan kasus dari para ibu-ibu yang teraniaya. Alhamdulillah, sudah banyak yang sudah tertangani," kata perempuan yang lahir di Bangkalan 6 September 1978 ini.

Bukan hanya soal advokasi perempuan, Ena juga getol dalam aktivitas memajukan pendidikan. Bersama Shinta Nuriyah (istri KH Abdurrahman Wahid) Ena sudah pernah menyinggahi Amerika, Thailand, dan Hongkong.

"Di sana saya banyak mendapat pengalaman ilmiah tentang pendidikan dan sistemnya serta pembelajaran demokrasi. Saya akan berjuang untuk menerapkannya di Probolinggo ini. Sisi positif pola pendidikan semacam kedisiplinan dan metodologi pengajaran dan lainnya bisa kita adopsi," terangnya.

Perempuan calon doktor ini memiliki motto hidup, mengurangi penderitaan dan memperbaiki karakter. "Untuk mendapat pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang baik perempuan tak boleh putus sekolah," ujar perempuan penggemar bakso ini. (ain)
Selengkapnya...

Thursday, July 10, 2008

Tiga Santri Idola Lolos Audisi

Radar Bromo, Jawa Pos. Jum'at, 11 Juli 2008


Mewakili Probolinggo ke Jawa Timur

KRAKSAAN - Tiga peserta audisi Santri Idola dinyatakan lolos ke Jawa Timur. Sukses itu diperoleh setelah mereka bersaing dengan 80 peserta lainnya di gedung Islamic Centre Kraksaan, Rabu (9/7). Rencananya, audisi di tingkat Jawa Timur digelar tanggal 25 Juli nanti.

Sebagai juara I, Untung Prayudi, dari Pesantren Lubbul Labib Kedungsari Kecamatan Maron, juara II Muhammad Idris dari pesantren Sirajul Ulum, Desa Banjarsari, Kecamatan Sumberasih, danjuara III Muhammad Muhdar dari pesantren Syekh Abdul Qadir al Jailani, Desa Rangkang, Kraksaan.

Menurut ketua panitia Najlah, jumlah peserta audisi Santri Idola, melebih target. "Targetnya 50 peserta. Tapi akhirnya menjadi 80 peserta. Ini menunjukkan banyak pesantren yang antusias mengikuti acara ini," katanya.

Sementara itu, menurut salah satu komentator lomba, Rizqon Khamami, hampir semua peserta bagus dalam retorikanya. Kelemahannya hanya kurang pengalaman berhadapan dengan penonton. "Jadinya, banyak peserta yang grogi dan kaku dalam menyampaikan pidatonya," jelas Rizqon yang ditemui Radar Bromo usai acara.

Untung Prayudi saat ditemui Radar Bromo mengaku bersyukur karena dirinya bisa menang dalam audisi itu. "Semua ini berkat dukungan para guru, teman, dan orang tua. Saya berterima kasih pada semuanya yang memberikan saya semangat dan akhirnya bisa menjadi juara," ujar Untung sambil memegang tropi juara satu yang didapatnya.

Selain itu, menurut Bupati Hasan Aminuddin dalam sambutannya di penutupan acara, santri saat ini sudah waktunya untuk berada di garda depan dalam segala hal. Profesional dalam menyampaikan syiar-syiar Islam. Santri tidak hanya memahami ilmu agama saja, tetapi semua aspek harus dipelajari secara utuh.

"Saat ini, sudah waktunya santri bangkit. Profesional dalam segala bahasa. Tetapi jangan lupa kalau menjadi santri yang berguna bagi masyarakat, agama dan negara. Jangan lupa juga kepada daerah dan kultur daerahnya," jelasnya.

Hasan juga merencanakan, dalam bulan puasa nanti, di Kota Kraksaan akan mengadakan lomba patrol tradisional bekerja sama dengan JTV. Itu akan diikuti oleh seluruh pesantren yang ada di kabupaten Probolinggo. "Menghibur bulan Ramadan dengan budaya daerah yang Islami," katanya.

Setelah Idul Fitri nanti, lanjut Hasan, pihaknya akan menggelar audisi untuk santri puteri. "Karena Probolinggo adalah daerah yang banyak pesantrennya, termasuk kota santri, apalagi kota Kraksaan. Mari kita bangun Kota Kraksaan ini menjadi kota percontohan kota pesantren di Indonesia," jelasnya. (ain)



http://jawapos.com/radar/index.php?act=detail&rid=12181

Selengkapnya...

Monday, April 21, 2008

Perempuan Menggugat

Peringatan Hari Kartini dirayakan setiap tanggal 21 April. Kartini simbol pergerakan perempuan di Indonesia. Kartini berhasil menyuarakan ketidakadilan sistem yang dulu tengah dihadapinya. Dulu, Kartini melawan sistem penjajahan Belanda melalui tulisan surat-suratnya. Surat-surat Kartini dikirim ke temannya menyebar ke dunia. Tulisan-tulisannya menceritakan semangatnya melawan penindasan saat itu. Tulisan Kartini menyuarakan semangat, gugatan dan perlawanan sikap Kartini sebagai pahlawan yang dikenal dengan tulisan “habis gelap terbitlah terang”. Lalu, apa refleksi untuk kita?

***

Perempuan Menggugat

Oleh : Najlah Naqiyah


Peringatan Hari Kartini dirayakan setiap tanggal 21 April. Kartini simbol pergerakan perempuan di Indonesia. Kartini berhasil menyuarakan ketidakadilan sistem yang dulu tengah dihadapinya. Dulu, Kartini melawan sistem penjajahan Belanda melalui tulisan surat-suratnya. Surat-surat Kartini dikirim ke temannya menyebar ke dunia. Tulisan-tulisannya menceritakan semangatnya melawan penindasan saat itu. Tulisan Kartini menyuarakan semangat, gugatan dan perlawanan sikap Kartini sebagai pahlawan yang dikenal dengan tulisan “habis gelap terbitlah terang”. Di era globalisasi dan kapitalisme telah membuat harga-harga kebutuhan pokok mahal. Sistem monopoli dagang kapitalisme memihak pemodal dan mencekik masyarakat miskin.

Keadilan peran bagi perempuan belum sepenuhnya terwujud. Banyak perempuan mengalami peran ganda dalam wilayah domestik dan publik. Banyak pula perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, seperti cerai, perselingkuhan, dan pemukulan. Perempuan mengurus pekerjaan rumah tangga dengan segala beban kewajiban mereka merawat anak-anak, juga mencari nafkah. Ketika laki-laki tidak memiliki gaji yang cukup, atau ketika laki-laki tidak menceraikan dan emmbiarkan perempuan tanpa nafkah, maka banyak perempuan yang terjun sebagai penyangga ekonomi keluarga. Kesejahteraan yang diimpikan perempuan, kadang mesti dikorbankan untuk kehidupan keluarga. Perempuan seringkali mengorbankan kepentingan mereka demi kepentingan anak, keluarga dan orang lain. Ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan selayaknya dilawan oleh perempuan.

Kini, saatnya perempuan menggugat sistem yang tidak adil di negeri ini, perempuan mempertanyakan kembali, apakah kouta 30 % yang tercantum dalam UU no 12/2003 tentang keterwakilan perempuan di kekuasaan telah membawa perubahan nasib perempuan lebih baik? Tidak, ketika menteri keuangan perempuan dan para anggota legislatif ada perwakilan perempuan, justru harga-harga bahan pokok makin melambung. Dimana ada kesejahteraan bagi kaum perempuan, jika harga-harga kebutuhan rumah tangga selalu naik? Bagaimana mewujudkan kesejahteraan anak dan perempuan, jika tidak ada sistem yang melindungi kaum miskin? Eksploitasi anak dan perempuan makin merajalela, kemiskinan dan kemelaratan dibiarkan. Anak dan perempuan terjebak trafficking, kurir narkoba, pekerja seks. Siapa yang paling dikorbankan atas sistem yang diskriminatif, eksploitatif ? Anak dan perempuan yang paling menderita. Banyak ibu-ibu frustasi akibat tidak punya biaya untuk merawat anak-anak mereka. Kekerasan yang mendera kaum perempuan berupa (1) stres (2) bergantung pada orang lain (3) miskin ekonomi (4) harga diri rendah (5) tidak memiliki akses informasi dan teknologi (6) kecemasan berlebihan (7) terisolir dari lingkungan (8) putus asa dan frustasi. Bentuk frustasi perempuan miskin yang mengambil jalan pintas seperti perilaku seorang ibu yang meninggalkan anak-anak balita mereka di rumah sakit begitu saja.


Kesetaraan gender di Indonesia belum terjadi. Peran gender yang berlaku di masyarakat masih bertumpu pada perempuan sebagai pemeran domestik sekaligus publik. Kini, perempuan di era globalisasi makin kompleks perannya. Disatu sisi, belum ada kesepahaman antara pasangan mereka tentang kesetaraan gender, sementara disisi lain, perempuan harus bekerja memenuhi nafkah diri dan anak-anak mereka. Akibatnya, perempuan bertumpu pada dua tugas besar yang mesti mereka pikul, peran domestik dan publik. Bertambahnya peran perempuan sebagai sumber penghasilan dapat di lihat dari bertambahnya angka partisipasi angkatan kerja perempuan 55 % pada tahun 1999. maka, dampak langsung dari krisis adalah bertambah panjangnya jam kerja dan jam ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidup. (UNICEF 2000).

Perempuan mengurus kebutuhan rumah tangga, mulai dari urusan dapur, rumah, anak serta kantor. Semestinya, peran domestik bisa dilakukan juga oleh laki-laki. Tetapi masyarakat masih tabu jika melihat laki-laki menggendong balita, laki-laki memasak di dapur atau laki-laki mencuci baju dan menyapu rumah. Padahal, peran domestik tersebut bisa dipergantikan antara laki-laki dan perempuan. Sementara perempuan, selain mereka bekerja sebagai ibu rumah tangga, mereka dituntut untuk bekerja dan beraktualisasi di luar rumah.

Perempuan yang terlalu berkorban akan merasakan sakit secara psikologis dan fisiologisnya. Perempuan makin stres menghadapi dua pekerjaan besar (urusan rumah dan urusan kantor). Urusan rumah tangga dimulai dari bangun tidur sampai larut malam. Perempuan bekerja mulai dari membuka mata dari subuh, memasak, menyiapkan anak-anak ke sekolah, lalu menyiapkan diri berangkat ke tempat kerja. Pulang kerja, perempuan masih harus mengerjakan urusan rumah tangga, mulai memasak dan menjaga anak-anak mereka sampai larut malam.. Ritme pekerjaan perempuan berlangsung 24 jam bagi perempuan yang mengorbankan diri secara berlebihan. Mereka stres di rumah dan di kantor. Perempuan selalu cekcok dengan pasangan mereka akibat desakan ekonomi yang tidak bisa mereka penuhi.

Ibu rumah tangga menghadapi problem pelik. Harga kebutuhan pokok yang melambung, membuat asap dapur tidak mengepul. Indikasi melonjaknya harga kebutuhan sehari-hari dilihat dari langkanya minyak tanah, gas elpiji, dan BBM mulai terasa. Kenaikan bahan pokok sembako setiap waktu tidak stabil. Harga minyak goreng, minyak tanah dan ikan di pasar membuat para ibu-ibu gelisah. Banyak minyak goreng bekas yang dicampur zak kimia beredar di pasaran dengan murah. Masyarakat bingung dan tidak bisa menjangkau harga yang mahal. Harga tahu dan tempe juga tidak luput dari kenaikan harga, bahan kedelai langka di pasaran. Harga tepung terigu naik 100 %. Ditambah lagi, kebijakan pembatasan pembelian minyak tanah, membuat kebutuhan rumah tangga meningkat. Naiknya harga gas elpiji di pasar meresahkan masyarakat. Naiknya harga BBM juga menyebabkan naiknya tiket alat-alat transportasi. Orang miskin yang tidak memiliki penghasilan cukup, tentu merasakan susahnya menikmati transportasi umum yang mahal. Jumlah orang miskin bertambah sedang kesejahteraan makin hilang.

Anak-anak juga merasakan dampak secara tidak langsung dari kurangnya asupan gizi dan perawatan mereka. Ketika harga BBM naik, otomatis harga susu, daging, sayur dan makanan balita melaju naik. Orang tua akan mengurangi anggaran balita mereka, karena mahal. Jeritan anak balita kurang gizi mulai bertambah, seiring bencana. Data gizi buruk balita di tiap daerah bertambah. Ibu rumah tangga penanggung beban dapur, harus belanja kebutuhan keluarga dengan uang yang tidak menentu. Kebijakan menaikkan harga BBM tanpa disertai oleh persiapan menyengsarakan masyarakat miskin. Ibu rumah tangga mesti bisa menyiasati kebutuhan rumah tangga dengan cerdas. Para ibu perlu menyiapkan uang tambahan menomboki belanja di pasar karena mahal. Ibu-ibu perlu terampil membelanjakan uang yang pas-pasan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Peringatan hari Kartini menjadi momentum bagi perempuan merefleksi diri, bagaimana menghadapi masa depan dengan cara lebih baik? Perempuan perlu berjuang meraih hidup lebih baik. Perempuan membutuhkan energi yang kuat meraih keadilan dan kesetaraan. Perempuan perlu bersemangat menciptakan perubahan kearah yang lebih sejahtera.

Perlawanan itu dengan cara memperbaiki sistem, bersaing secara kompetitif merebut akses ekonomi, sosial, politik bagi perempuan. Perayaan Kartini memberi inspirasi bagi perempuan saat ini untuk merefleksi ketidakadilan sistem, melawan sistem kapitalisme yang membawa kemiskinan dan keterbelakangan.

Selengkapnya...

Sunday, January 20, 2008

Menjadi Juri pada 'Religion and Society: Dialogue'




Lombok Senggigi,

Senin sore, 17 Desember 2007, penulis terbang ke Lombok Mataram bersama dengan rombongan juri CCE (Civic Of Center Education). Penulis bermalam di Hotel Shangrilla Senggigi Lombok Mataram. Juri CCE tersebut terdiri dari: Wiliam Ryan (ketua), Tia, dan ketiga dewan juri lain, yaitu Syukron Hamid (UIN Ciputat, Jakarta) dan Najlah Naqiyah serta Jefry Loe. Penulis bersyukur dipercaya sebagai salah satu juri oleh CCE untuk menyeleksi peserta pada program Dialog Agama dan Masyarakat (Religion and Society: Dialogue) ke Amerika Serikat untuk kali ini. Pelajaran apa saja yang dapat penulis peroleh?

Penulis, sebagai pelaku pendidikan di Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani Rangkang Kraksaan Probolinggo, berbesar hati memperoleh kesempatan terlibat menyeleksi peserta delegasi program kunjungan Religion and Society: A Dialogue. Program ini adalah program pertukaran yang ditujukan untuk cendikiawan muslim, alim ulama, dan tokoh masyarakat di Indonesia dan Amerika. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Legacy International dan Center for Civic Education, didanai oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat.

Dalam kesempatan itu, Penulis menguji para peserta yang bergelar Master atau Doktor dari berbagai perguruan tinggi di Mataram. Peserta berasal dari pasca sarjana Teologi, Filsafat Agama, Perbandingan Agama, atau sedang melanjutkan program Doktor (S3) pada bidang ilmu lainnya. Sebagian besar peserta yang ikut berprofesi sebagai dosen yang telah mengajar di universitas atau Perguruan Tinggi. Ketika penulis berhadapan dengan peserta, ada rasa tersanjung bisa menguji para tokoh agama dari Mataram. Sebuah kesempatan yang langka. Seluruh peserta berumur lebih tua dari penulis. Mereka mayoritas punya pengalaman sekolah ke luar negeri dan bertahun-tahun berkecimpung pada pemberdayaan ummat. Usia penulis tidak membatasi untuk menjadi juri mereka. Kesempatan ini, membuat penulis dapat lebih banyak belajar berdialog, berdiskusi, dan bertanya kepada para Master dan Doktor dari kalangan kampus Mataram.

Penulis banyak belajar dari pengalaman berharga ini, terutama sejak mengikuti program Community Leader setahun lalu. Refleksi penulis antara lain:

Pertama, kesempatan "belajar" ke Amerika Serikat tidak dimiliki oleh setiap orang. Pengalaman kunjungan sebulan di Amerika dalam program Community leader telah memberi penulis bahan belajar yang berlimpah. Dan, kesempatan berkunjung ke Amerika Serikat sulit terlupakan dari ingatan. Budaya Amerika dalam disiplin waktu, orang-orang Amerika yang ramah dan suka meminta maaf serta berterima kasih adalah budaya unik yang penulis lihat di Amerika. Pengalaman hidup di Amerika telah mampu mengurangi prasangka penulis tentang Amerika yang menakutkan. Penulis belajar bertoleransi ke orang yang berbeda agama, bebas menjalankan ibadah sesuai kepercayaan mereka dan menghargai perbedaan kulit, etnik dan ras. Pengalaman itulah yang penulis diskusikan dengan para peserta bagaimana mereka nanti akan beradaptasi dengan orang asing yang memiliki perbedaan agama, bangsa dan budaya? Dari dialog itu, muncul berbagai pandangan peserta bagaimana mereka memandang Amerika.

Kedua, Kemajuan peradaban Amerika mendorong penulis untuk meniru dan mempraktekkan pada kehidupan sehari-hari. Misalnya budaya tepat waktu dan hidup mandiri. Di Indonesia, masyaraktnya sangat pelan dan lamban. Terlebih di desa penulis terasa sangat slow (lambat). Nampak dari jalan mereka yang pelan, banyak tinggal di rumah, nganggur dan mengerjakan sesuatu dengan cara biasa-biasa aja. Hal ini berbeda dengan apa yang penulis lihat sewaktu tinggal di Amerika. Orang Amerika selalu sibuk dan bekerja serba cepat. Berjalanpun sangat cepat seperti diburu oleh waktu. Tidak ada makan siang gratis, semua orang mesti bekerja sendiri untuk memiliki uang. Mereka memiliki jadwal kegiatan yang padat dan teratur. Penulis merasakan manfaat yang besar dari kebiasaan yang penulis tiru, seperti bagaimana mengatur jadwal keseharian agar bisa melakukan aktifitas tepat waktu. Bagaimana mengatur jadwal agar tepat waktu dan melakukan dengan cara cepat, tepat banyak menolong penulis. Penulis sangat terbantu melakukan kegiatan rumah tangga dan karier dengan berusaha menyelesaikan secara cepat dan tepat. Maklumlah, kesibukan penulis mengurus anak balita usia 10 bulan membutuhkan ekstra waktu untuk berbagi, disamping juga membagi jadwal untuk sekolah S3 dan bekerja sebagai dosen.


Ketiga, Perjumpaan penulis dengan orang Amerika dan lembaga CCE mendorong Penulis ingin sekolah ke Amerika. Sebuah keinginan dan mimpi untuk go international. Hidup di Amerika Serikat seperti mimpi saja. Hidup dengan suasana multicultural dan kompetisi yang tinggi adalah keinginan penulis. Karena bagaimanapun lingkungan akan menentukan tumbuh kembang penulis secara maksimal. Penulis sangat mengagumi orang-orang besar yang bisa menempuh study pascasarjana di Amerika dengan beasiswa. Kegigihan mereka belajar bahasa Inggris dan kemauan untuk belajar yang kebanyakan lulusan Amerika menjadi orang besar di tanah air. Hal tersebut, bisa dipahami karena fasilitas sekolah di Amerika sangat lengkap. Akses perpustakaan dan metode pembelajaran yang maju membuat lulusan Amerika diperhitungkan oleh perusahaan, atau lembaga penampung lainnya. Penulis mengakui, tidak mudah memperoleh beasiswa pascadoktoral ke Amerika, tetapi juga tidak mustahil kesempatan itu ada bagi siapapun yang berusaha keras. Perjumpaan penulis dengan orang-orang terkenal membuat semangat penulis hadir kembali untuk segera menuntaskan desertasi tentang self-efficacy di kampus Universitas Negeri Malang. Semoga.
Selengkapnya...

Saturday, January 19, 2008

Memuliakan TKW: Belajar dari Hongkong

Penulis sedang bergambar bersama Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Hongkong, 6 Oktober 2007


Banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia bekerja di Hongkong. Lebih dari 100.000 wanita Indonesia mengais rizki di negeri bekas jajahan Inggris. Sebagian besar TKW tinggal di Hongkong bertahun-tahun. Apa yang membuat mereka betah?


***


Memuliakan TKW: Belajar dari Hongkong

Oleh : Najlah Naqiyah



Banyak Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia bekerja di Hongkong. Lebih dari 100.000 wanita Indonesia mengais rizki di negeri bekas jajahan Inggris. Mengapa TKW betah di Hongkong selama bertahun-tahun? Mereka merasa aman dan comfortable bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Gaji yang diperoleh cukup besar dan terjamin keselamatan kerja.

Penulis menghadiri acara buka bersama dengan 700 wanita TKW Indonesia di Hongkong pada bulan Oktober 2007, ada kesan unik nampak dari kehidupan para TKW Hongkong. Lontaran kegelisahan mereka terekam agar jadi upaya kritik membangun bagi pengelolaan TKW di Indonesia.

Rasa aman sangat nampak dari wajah ceria TKW Indonesia di Hongkong. TKW itu merasa enjoy bekerja di Hongkong. Kebanyakan mereka betah tinggal bertahun-tahun di negeri itu. Mereka sangat menikmati pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Pada mulanya, kabar gembira terlontar saat membicaran masalah upah yang mereka terima dari majikan. Umumnya, mereka mendapatkan gaji sekitar 2700 dolar hongkong, atau berkisar 3 juta rupiah setiap bulan. Jumlah yang fantastis ukuran gaji pembantu rumah tangga orang Indonesia. Jika dibanding gaji PRT di Indonesia jauh lebih rendah. Di Indonesia, menjadi pembantu rumah tangga di gaji menurut kepantasan dan kebaikan majikan. Kisaran gaji PRT hanya 300.000,- sampai 500.000,- perbulan. Jumlah itu berbeda tiga kali lipat dengan TKW di Hongkong yang mencapai 3.000.000,- rupiah perbulan. Gaji PRT di Hongkong jauh lebih tinggi. Di Indonesia, tidak ada undang-undang yang mengatur upah minimal bagi PRT. Berbeda dengan di Hongkong, pemberian upah TKW diatur oleh Negara dan ditegakkan oleh aparat hukum. Bagi siapapun orang yang melanggar dari aturan, maka akan di hukum baik pekerja ataupun majikan.

Libur kerja juga diberikan pada TKW sehari selama seminggu. Hari minggu adalah hari libur mereka. Para TKW bebas melakukan apapun kegiatan saat hari minggu. Mereka menikmati libur dengan berbagai aktivitas di luar rumah, kebanyakan para TKW Indonesia berkumpul di taman untuk bertemu dengan teman-teman sesama warga Indonesia. Inilah yang menarik dari solidaritas yang ada di Hongkong. Negara melindungi hak-hak TKW untuk refresing dan beristirahat setelah seminggu bekerja. Sebuah upaya memuliakan TKW. TKW menikmati haknya untuk berlibur. Sementara, di Indonesia tidak ada libur bagi pembantu rumah tangga setiap minggunya, karena memang tidak ada aturan Negara yang melindungi pembantu rumah tangga.

Ketika penulis mulai mendengarkan problem pribadi dan keluarga TKW, sebagian tersingkap demikian suram. TKW mengeluhkan kehidupan mereka yang cerai berai. Mengapa mereka memutuskan untuk memilih pekerjaan menjadi TKW ? Berbagai faktor yang melatarbelakangi mereka sampai ke Hongkong, mulai dari faktor kemiskinan, perceraian, poligami, ditinggal mati oleh suami. Kegagalan pernikahan adalah pemicu utama mereka menjadi TKW. Disatu sisi mereka harus menghidupi anak-anak mereka dan orang tua serta keluarga yang miskin, disisi lain mereka merasa malu akibat gagal dalam perkawinan mereka. Akhirnya memilih untuk lari ke negeri orang mencari kerja agar aman secara ekonomi dan status sosial.

Kemana hasil keringat TKW? Uang hasil mereka bekerja sebagai PRT sebagian besar dikirimkan ke keluarga mereka di tanah air. Uang TKW itu dikirimkan ke rekening suami mereka untuk menghidupi anak-anak dan suami serta orang tuanya. Ironinya, uang tersebut kadang menghadapi masalah. Seperti, kiriman uang tidak sampai ke anak-anak mereka, tetapi diterima oleh suami dan dipergunakan untuk biaya kawin lagi dengan perempuan lain. Kadang juga, uang tersebut digunakan sebagai biaya menikah lagi oleh suaminya di tanah air. Tragis sekali, nasib para wanita yang dikhianati dan didlalimi haknya oleh suami. Sementara wanitanya itu berjuang mengumpulkan rupiah dengan keringat mereka di tempat jauh, berpisah dengan anak-anak, kemudian uangnya digunakan untuk kawin lagi oleh suami. Memang, di Indonesia budaya kawin sirri (tersembunyi) masih marak. Sedemikian gampang laki-laki dan perempuan menikah lagi tanpa memperhatikan status perkawinan mereka. Adanya dalil agama yang memperbolehkan laki-laki beristri sampai empat, menjadi pemicu longgarnya hukum perkawinan poligami.

Menjaga keutuhan perkawinan bagi TKW tidaklah mudah. Jarak jauh dan berpisah dalam keadaan cukup lama bahkan sampai bertahun-tahun, membuat salah satu pasangan mereka tidak sabar. Kadang suaminya kawin lagi, atau si istri menemukan pasangan baru di luar negeri. Bagaimana mengatasi masalah status perkawinan bagi para TKW ? Sebuah dilema bukan …..ketika kesabaran sudah diambang batas, saat suami TKW menikah lagi dengan perempuan lain, kadang resiko cerai mesti dilakukan. Sebuah pilihan yang kadang membuat masgul banyak TKW di Hongkong. Mereka menginginkan agar ada upaya pemerintah untuk memberikan penyuluhan bagi para suami agar setia pada janji perkawinannya. Upaya itu mereka sampaikan langsung kepada Ibu Dra. Nuriyah Abdurrahman Wahid, M.Hum sebagai ketua PUAN Amal Hayati. Mereka ingin para tokoh agama dan masyarakat serta pemerintah memberikan aturan yang ketat bagi suami yang akan menikah lagi sementara istrinya bekerja di luar negeri. Para TKW ingin rumah tangga mereka tetap utuh saat mereka berjuang di luar negeri. Permintaan itu disampaikan oleh wakil dari TKW dan diberikan applause panjang oleh teman-teman TKW. Tepuk tangan itu seperti jeritan yang memekakkan ruangan KJRI Hongkong. Tepuk tangan 700 TKW diiringi harapan mereka. Harapan untuk mempertahankan keutuhan keluarga ditengah jarak yang jauh dan penantian panjang. Ada keinginan menjaga keutuhan rumah tangga dengan cara mereka sendiri, seperti mengirimkan uang setiap bulan ke suami dan anak-anak mereka, menelpon anak-anak dan suami setiap minggu dan beragam cara yang tengah mereka usahakan. Akankah pemerintah kita diam dan menutup mata?

Hiruk pikuk kekerasan yang tengah dialami oleh TKW Indonesia masih banyak lagi, adanya kasus erminal tiga kerap menjadi keluhan sebagian besar TKW saat pulang ke tanah air. Mereka mengeluhkan adanya diskriminasi pada TKW yang harus melalui pintu khusus di bandara Soekarno hatta. Mereka juga mengeluhkan banyaknya pungli yang harus dibayarkan. Mereka ingin menghapuskan terminal tiga. Mereka ingin sejajar dan setara seperti orang lain yang dating dari luar negeri. Banyak lagi harapan mereka yang samara-samar dihembuskan oleh angina malam. Oleh doa-doa mereka ditengah malam, saat mereka tidur jauh dari keluarga, jauh dari negerinya, jauh dari mimpinya. Semoga ada usaha nyata mengatur TKW secara mulia. Amin.
Selengkapnya...