Suara Hati Seorang Perempuan

Saturday, February 17, 2007

Kedubes AS Kunjungi Ponpes Rangkang

Tawarkan Program Pertukaran Santri


PROBOLINGGO - Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (1/2) mendapat tamu istimewa. Yakni rombongan dari kedutaan besar (kedubes) dan konsulat jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) untuk studi banding sistem pendidikan pesantren. Rombongan itu adalah Mary Beth (Konjen AS), Chaterine Sweet (Kedutaan Besar AS) dan Esti Durah Santi (Konjen AS di Surabaya). Mereka diterima langsung oleh pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin. Dalam rangka apa mereka berkunjung ke Pon-pes ini?



***



RADAR BROMO, Jawa Pos Grup, Minggu, 18 Feb 2007

---------------------------------------------------------

Sabtu, 03 Feb 2007
Kedubes AS Kunjungi Ponpes Rangkang


Tawarkan Program Pertukaran Santri
PROBOLINGGO - Pondok Pesantren (Ponpes) Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Rangkang Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Kamis (1/2) mendapat tamu istimewa. Yakni rombongan dari kedutaan besar (kedubes) dan konsulat jenderal (Konjen) Amerika Serikat (AS) untuk studi banding sistem pendidikan pesantren.

Rombongan itu adalah Mary Beth (Konjen AS), Chaterine Sweet (Kedutaan Besar AS) dan Esti Durah Santi (Konjen AS di Surabaya). Mereka diterima langsung oleh pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin.

Tentu saja, kehadiran pada bule itu disambut gembira oleh para santri. "Saya tidak menyangka, kami warga Amerika disambut baik oleh para santri," ujar Chaterine, doktor Islamic Studies asal Amerika Serikat ini.

Bahkan, para santri berfoto bersama dan berdialog tentang budaya Amerika. Saat Mary Beth bertanya apa yang terpikir tentang Amerika, para santri menjawab filmnya bagus-bagus. Dalam kesempatan itu, Mary Beth juga diminta menyanyi lagu Titanic.

"Islam tidak harus kaku dan antiseni," kata Rizqon Khamami, pengelola pesantren menanggapi permintaan para santri itu. Bahkan, kata alumni program master Islamic Studies di Jamia Millia Islamia, New Delhi ini, ponpesnya sedang mengembangkan Islam yang moderat.

Mary Beth dan Chaterine Sweet yang mengenakan kerudung pemberian Hj Badiah Hafidz - penasehat ponpes ini, terlihat makin akrab dengan para santri. Mereka berkerumun dan antusias mendengarkan cerita tentang pengenalan Bahasa Inggris di pesantren.

Dalan kunjungan tersebut, Mary Beth dan Chaterine menawarkan sejumlah program untuk pondok pesantren. Antara lain, program pertukaran santri ke Amerika. Hal itu diperuntukkan bagi santri yang menguasai Bahasa Inggris dan memiliki nilai tinggi dengan biaya biaya ditanggung pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Mary Beth, "Bagi santri yang bisa Bahasa Inggris, kami punya banyak program ke Amerika, belajar tentang budaya, seminar pendidikan dan kunjungan ke museum sejarah di AS selama beberapa minggu," katanya.

Bahkan, lanjut Mary Beth, guru-guru pondok pesantren dipersilakan mengikuti kunjungan dan belajar di Amerika serikat. Seperti yang pernah dilakukan salah seorang guru Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, Najlah Naqiyah, yang pernah mengikuti program kepemimpinan dan komunitas di Amerika serikat dengan biaya dubes AS.

Program yang kedua, kata Mary Beth, AS akan menyiapkan guru untuk mengajar Bahasa Inggris di pesantren. "Guru tersebut akan ditempatkan di pesantren," katanya.

Mendapat tawaran tersebut, pengasuh ponpes KH Abdul Hafidz Aminuddin menyambut dengan baik. "Bahasa Inggris bisa digunakan untuk hidup di era globalisasi," ujarnya.

Karena, selama ini, pesantren dikenal dengan basis pengembangan ilmu agama yang bersumber dari Bahasa Arab. "Dengan mengenal Bahasa Inggris, diharapkan santri bisa membaca literatur berbahasa Inggris tentang Islamic Studies, sain, dan perpaduan Islam dan abad modern." lanjutnya. (syt)

©Copyright 2006, Jawa Pos dotcom colo'CBN.


http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=151813&c=40
Selengkapnya...

Kiprah Pesantren Menangani Korban Trafficking

Meningkatnya jumlah korban trafficking dari tahun ketahun membuat resah. Berdasarkan hasil survei di Provinsi jawa timur dalam satu tahun terakhir tahun 2006, jumlah kasus child trafficking anak meningkat 300 %. Jika pada tahun 2005 jumlah kasus child trafficking hanya 28.892 kasus, pada 2006 melonjak 86.676 kasus. (Jawa Pos, 24 Januari 2007). Angka peningkatan kekerasan yang merisaukan. Lalu bagaimana?


***


Kiprah Pesantren Menangani Korban Trafficking

Oleh : Najlah Naqiyah



Meningkatnya jumlah korban trafficking dari tahun ketahun membuat resah. Berdasarkan hasil survei di Provinsi jawa timur dalam satu tahun terakhir tahun 2006, jumlah kasus child trafficking anak meningkat 300 %. Jika pada tahun 2005 jumlah kasus child trafficking hanya 28.892 kasus, pada 2006 melonjak 86.676 kasus. (Jawa Pos, 24 Januari 2007). Angka peningkatan kekerasan yang merisaukan.

Penyebab maraknya kasus trafficking, disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi miskin, budaya patriarkhis seperti budaya pemaksaan menikah dini, pembatasan akses bagi anak dan perempuan dan keinginan orang tua yang menginginkan anaknya secepatnya bekerja tanpa dibekali dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai. Dilain pihak, para calo secara gencar mendatangi penduduk miskin untuk membujuk dan merayu para orang tua dan anak-anak untuk bekerja di kota atu di luar negeri. Anak-anak di rekrut melalui calo melalui pendekatan dor to dor dari rumah ke rumah di pedesaan dan pegunungan. Para calo menjanjikan penempatan kerja ke kota, bergaji tinggi dan hidup mewah. Berbagai tipu daya dilakukan guna mengajak dan merayu anak-anak desa untuk bekerja di lain tempat. Para calo memindahkan anak-anak desa ke kota atau ke luar negeri dengan cara ilegal melalui jaringan kejahatan. Setiap hari ratusan anak-anak dikirim ke luar negeri. Terkadang anak-anak di sekap terlebih dahulu, atau di jual ke orang-orang jahat.

Persoalan trafficking sangat meresahkan. Anak-anak desa di jual dan dijadikan pelacur. Sebagian lagi di jual sebagai pekerja-pekerja yang mengeksploitasi mereka. Anak-anak dipekerjakan sebagai pengedar narkotika dan terjun di bisnis prostitusi. Ancaman penyakit menular seperti PMS, HIV/AIDS serta kecanduan narkoba mengintai anak-anak pekerja seks setiap waktu. Ancaman kehamilan yang tidak diinginkan bagi anak-anak perempuan yang bekerja di prostitusi menanggung konsekwensi pada kesakitan reproduksi mereka. Resiko kegagalan KB dan akibat yang ditanggung anak-anak perempuan jauh lebih berat. Ironinya, anak-anak perempuan belum tentu mendapatkan invormasi yang benar tentang kesehatan tubuhnya, tapi dipihak lain, bahaya penyakit dihadapan mata anak-anak korban trafficking.

Anak-anak korban trafficking rentan dengan gangguan kesehatan mental. Anak-anak umumnya merasa sedih, trauma, depresi, putus asa, dan berkeinginan bunuh diri. Anak-anak merasa ketakutan dan dihantui oleh kekerasan yang telah mereka alami selama ditempat penyekapan atau di tempat kerja. Anak-anak kurang bahagia dan menjalani kehidupan dibawah ancaman majikan mereka. Pada kasus vonis mati yang menimpa para TKI di luar negeri, disebabkan karena perilaku agresif para TKI dipicu oleh tindak kekerasan secara terus menerus dari majikan. Perilaku agresif tersebut disebabkan oleh kemarahan, ketakutan, kehilangan kontrol diri saat bahaya mengancam hidup mereka.

Untuk menekan angka kekerasan trafficking, pesantren menjadi alternatif sebagai tempat aman mencegah dan mengobati korban trafficking. Bagaimana kiprah pesantren sebagai shelter yang aman bagi korban kekerasan trafficking?



Pesantren sebagai CBO (Community Based Organization)

Sebagai CBO, pesantren selayaknya melebarkan kiprahnya dalam upaya penanganan masalah sosial-kemasyarakatan. Pesantren bisa menjadi tempat yang aman bagi korban kekerasan. Pesantren terbukti memilki kedekatan emosional dan akar historis dengan warga setempat. Pesantren adalah pusat kegiatan masyarakat dan belajar bagi anak-anak. Sekolah-sekolah berbasis pesantren telah berafiliasi dengan keislaman tumbuh kembang sebagai kultur masyarakat pedesaan. Pesantren tumbuh bersama kebutuhan masyarakat dan melekat dengan atribut budaya setempat. Pesantren dalam perkembangannya banyak menjadi tumpuan bagi masyarakat untuk memecahkan persoalan hidup mereka. Pesantren di pimpin oleh kiai yang memilki kedekatan dengan masyarakat sekitar. Dengan demikian akan mudah bagi pesantren menggerakkan masyarakat untuk mencegah terjadi trafficking di masyarakat sekitarnya. Karakteristik masyarakat pedesaan mengakui kiai sebagai panutan, akan memudahkan pesantren menginformasikan dampak-dampak kekerasan trafficking, modus dan operasional organisasi kejahatan kemanusiaan yang menjual anak-anak dari pedesaan dan terbelakang.

Pesantren yang eksis mampu menyelamatkan anak-anak yang terperangkap dalam trafficking. PUAN (pesantren untuk anak-anak dan perempuan) merupakan salah satu gerakan pesantren yang di gagas oleh Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid. Organisasi PUAN AMAL HAYATI berbasis pondok pesantren yang berjejaring dari berbagai pesantren di Indonesia. PUAN sebagai salah satu model alternatif bagi pemberdayaan anak dan perempuan agar terlindung dari kejahatan trafficking. PUAN memilki shelter aman bagi para korban kekerasan. Corak dari gerakan PUAN adalah pusat pengaduan masyarakat akan terjadinya kekerasan yang ditemui di masyarakat dan keluarga, kemudian dirujuk oleh pesantren ke instansi terkait mengatasi kasus kekerasan tersebut.


Pesantren perlu membuka shelter yang aman.

Bagaimana menggagas agar pesantren aman bagi korban trafficking ? pesantren perlu melakukan terobosan untuk melayani kebutuhan masyarakat. Pesantren sebagai pusat invormasi dan pengaduan korban, Pesantren perlu melakukan kerja sama dengan pihak terkait, dan pesantren perlu membuka klinik dan konseling untuk mengobati tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Pertama, Pesantren perlu memiliki kepekaan atau sensivitas untuk menanganai trafficking sebagai agenda sehari-hari. Pihak pesantren concern untuk menginformasikan secara intensif ke masyarakat tentang modus trafficking berdasarkan fakta yang terjadi. Pihak pesantren yang diwakili oleh para pendidik, tokoh kiai, dan para santri senior memberi rasa aman bagi masyarakat. Jika pesantren memperoleh trust (kepercayaan) dari masyarakat sekitar, mudah bagi pesantren menginvormasikan dan mensosialisasikan bahaya trafficking ke masyarakat melalui media pengajian, dakwah, dan beragam acara keagamaan sosial. Masyarakat pesantren perlu terlibat dalam dinamika masyarakat, menunjukkan fakta-fakta operandi trafficking, dan waspada dari bahaya trafficking mengancam masyarakat miskin, patriarkhis, dan perimordial.

Kedua, Pesantren perlu melakukan kerja sama dengan pemerintah, para psikolog, dan aparat kepolisian, pengadilan dan pekerja sosial untuk membantu para korban memperoleh bantuan. Pesantren tidak bisa bekerja sendirian untuk mengatasi kekerasan trafficking, karena terkait dengan persoalan hukum, penyidikan dan rasa keadilan. Untuk itulah, pesantren menjadi mitra bagi pihak rumah sakit untuk menjadi rujukan bagi korban memperoleh pengobatan akaibat kekerasan yang dihadapi dai tempat kerja, atau di rumah dan di jalanan.

Ketiga, Agar pesantren mampu memulihkan rasa sakit korban, maka pesantren perlu membangun klinik dan konseling sebagai wadah pertolongan pertama terhadap korban kekerasan. Korban memerlukan rasa aman dari pihak-pihak yang akan mengeksploitasi kekerasan mereka. Pesantren perlu mengadakan pelatihan bagi santri-santri senior agar menjadi pendamping korban. Pelatihan sebagai pendamping korban kekerasan dilatihkan oleh ahli konseling, psikolog atau dokter yang berkompeten mengatasi kasus kekerasan. Para pendamping nantinya akan mendampingi korban menjalani hidup di pesantren, seperti, pemulihan dari rasa putus asa, meningkatkan rasa percaya diri, menerima kenyataan dan belajar berbagai keterampilan sosial.

Pada akhirnya, upaya untuk meredam impulsif anak-anak dan perempuan dari bujuk rayu calo trafficking dengan cara menguatkan pendidikan melalui sekolah, pesantren dan pengajian. Pendidikan akan menuntun anak dengan sendirinya memilih dan memutuskan mana langkah yang terbaik bagi kehidupan mereka. Dengan pendidikan tinggi, anak semakin bijak dan arif serta mampu menolak apa yang membahayakan bagi hidup mereka. Pendidikan menuntun anak meraih cahaya terang dari Allah SWT. Setiap anak yang diasah dengan pendidikan, makin merasakan hidupnya berarti dan bermanfaat bagi diri, keluarga dan orang lain.
Selengkapnya...

Untung Rugi Mengimpor Beras

Tingginya harga beras di pasar membuat orang susah makan. Harga beras tidak terkendali mencapai kisaran 3.750 sampai 7000 rupiah sekilo. Tingginya harga beras membuat kaum miskin menderita. Tingginya harga beras menggoncang kehidupan orang miskin. Mengapa harga beras tinggi? apa solusi yang diambil pemerintah dengan mengimpor beras dapat menolong masyarakat miskin?


***


Untung Rugi Mengimpor Beras

Oleh : Najlah Naqiyah



Tingginya harga beras di pasar membuat orang susah makan. Harga beras tidak terkendali mencapai kisaran 3.750 sampai 7000 rupiah sekilo. Tingginya harga beras membuat kaum miskin menderita. Tingginya harga beras menggoncang kehidupan orang miskin. Mengapa harga beras tinggi? apa solusi yang diambil pemerintah dengan mengimpor beras dapat menolong masyarakat miskin?

Impor beras adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah. 500.000 ton sampai 1 juta ton beras diimpor dari luar negeri. Beras tersebut di gelontor ke masyarakat melalui operasi pasar. Harga beras saat operasi pasar dipercayakan pada bulog. Harga yang dipatok oleh bulog 3.700. Operasi pasar tidak menjamin masyarakat terbebas dari kekurangan beras. Ada praktek manipulasi dalam penyelenggaraan operasi pasar yang di gelar. Beras tidak dibeli oleh masyarakat miskin, justru di beli oleh pengusaha dan pemilik kios-kios. Kemudian karung bulog, diganti nama dan dijual di pasar-pasar dengan harga tinggi. Praktek manipulatif yang terjadi semakin membuat masyarakat panik.

Sebagai masyarakat agraris, rasanya lucu apabila pemerintah menyandarkan pangan pada impor luar negeri. Masyarakat agraris yang memiliki jutaan hektar sawah nan luas, tidak mampu memenuhi kebutuhan warga. Apa yang salah dalam megelola kehidupan petani ? Ada something wrong (sesuatu yang salah) dalam pengelolaan pertanian kita, sehingga tidak mampu swasembada pangan sendiri. Kesalahan itu dikarenakan ketidakmampuan kita untuk memfokuskan diri ke sektor pertanian. Pemerintah tidak punya kejelasan arah guna memajukan sistem pertanian. Akibatnya, petani tidak mampu mencapai kinerja yang maksimal mengelola tanah-tanah mereka.

Persoalan beras, adalah persoalan pokok orang Indonesia. Beras untuk makan sehari-hari. Jika beras susah didapatkan dan berharga tinggi, hidup makin sengsara. Setiap orang membutuhkan beras. Jika kebutuhan makanan pokok tidak di jamin oleh pemerintah, maka masyarakat miskin terus terpuruk. Kehidupan mereka susah. Ironisnya, pemerintah mengambil kebijakan impor beras kembali, maka kerugian menimpa nasib petani. Dengan impor, hasil pertanian dalam negeri tidak terbeli. Harga-harga beras tidak bisa dikendalikan oleh pemerintah. Dan pasar mempermainkan harga dengan mencekik para masyarakat miskin.

Siapa yang paling menderita akibat tingginya harga beras ? Orang miskinlah paling merasakan penderitaan. Mereka harus antri membeli beras dengan harga mahal. Terkadang, jika tidak memiliki uang, harus berhutang. Bahkan mereka harus rela kelaparan, sehari makan dan sehari menahan lapar. Jika mereka tidak punya uang, tidak mampu membeli beras untuk makan. Hidup mereka menjadi beban bagi orang lain. Mereka harus mengemis di pinggir-pinggir jalan. Menunggu belas kasihan dan terkadang menanti nasi bungkus dari lembaga sosial. Orang miskin makin tergantung. Kekerasan makin tinggi dikalangan masyarakat miskin. Kelaparan, kesakitan, kehilangan, kepanikan, ketakutan, kemarahan merupakan bentuk kekerasan yang disebabkan oleh mahalnya harga beras.

Kehidupan ekonomi miskin, makin meningkatkan angka kekerasan yang terjadi di masyarakat. Tingginya harga beras, makin membuat masyarakat miskin kalap, tidak sabar dengan kenyataan yang terjadi. Aksi kekerasan, terjadi saat orang miskin antri membeli beras. Aksi saling dorong, menyerobot dan memeras kerap kali terjadi. Contoh, seorang nenek kehilangan uang saat antri membeli beras, membuat sang nenek mengurungkan niat membeli beras. Nenek pulang ke rumah dengan sedih dan hampa. Beras tidak terbeli, dan uangnya hilang.


Mengakhiri Kritik dan Menyelesaikan Masalah

Tingginya harga beras di pasar, serta banyaknya musibah yang terjadi telah membuat rakyat kehilangan rasa percaya pada pemerintah. Tapi apakah boleh melakukan kritik secara terus menerus ke pemerintah ? tentu tidak, masyarakat yang mau maju, adalah masyarakat yang akan segera mengakhiri kritis dan segera mencari solusi menyelesaikan masalah. Mahalnya harga beras dan langkanya beras di pasar, kita perlu duduk bersama mencari jalan keluar yang terbaik bagi masyarakat.

Jika saja pemerintah, mau mendengarkan dan melihat tentang potensi negeri adalah pertanian, tentu bisa memfokuskan pembangunan yang memihak kepentingan petani. Sayangnya, pemerintah sudah terjebak dengan dunia kapitalisasi yang mempercayakan penyelesaikan pada impor beras luar negeri. Akibatnya, masyarkat menjadi korban. Cara-cara instan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai kebijakan untuk menahan laju tingginya harga beras, justru akan menimbulkan persoalan baru di masa mendatang. Persoalan yang terus menganga yang dihadapi petani tidak memiliki kekuatan dan terus menerus bergantung pada kekuasaan. Sementara kekuasaan bersikap acuh tak acuh pada kepentingan petani. Akibatnya, bisa ditebak, petani sebagai penyangga ekonomi negeri sangat lemah dan tidak berdaya.

Jika saja pemerintah berkomitmen mengakhiri penderitaan kaum miskin, membuat kebijakan membangkitkan kaum miskin berkembang. Membuat program-program yang tidak saja memberikan ikan ke penduduk miskin, tapi juga kail untuk mencari ikan. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas yang dibutuhkan oleh petani, dan petani bisa menggunakan fasilitas itu dengan mudah dan murah. Misalnya, pemerintah menyediakan pelatihan menggunakan teknologi tinggi mengelola sawah petani, menyediakan pupuk murah, dan melindungi harga bagi hasil panen petani, serta memberikan modal usaha. Dengan demikian, petani bisa menggunakan akses kemajuan teknologi tinggi mengelola sawahnya dengan mudah, karena pemerintah mau berbuat dan mengurus petani. Alih-alih, petani dapat menggunakan teknologi tinggi dengan cara murah mengelola sawah, justru yang terjadi adalah kebijakan impor luar negeri yang menjerumuskan petani diantara permainan harga pasar.

Jika pemerintah menggunakan kaca mata ekonomi, hanya menghitung untung rugi, tentu akan mengorbankan para petani. Kebijakan impor adalah wacana untung rugi. Pemerintah cepat menyelesaikan masalah dengan mengisi gudang dengan pinjaman luar negeri. Bagi pemerintah, akan untung karena harga menjadi stabil sementara waktu dan rakyat tidak bergejolak. Tapi pada jangka panjang, petani-petani makin terpuruk, karena kalah bersaing dengan beras luar negeri. Petani tidak dilindungi karena uang negeri ini telah habis membayar beras luar negeri. Sebaliknya, pihak luar negeri makin menambah subsidi pada petani-petani mereka. Sedang petani dalam negeri dibiarkan kualitasnya menurun dan tidak mendapat bantuan dari negera.

Sementara, ketergantungan pada modal asing untuk membiayai impor beras terus terjadi. Sebagai negara penghutang ke luar negeri, tentu memiliki konsekwensi serius dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Dengan mudah pemerintah akan di dekte oleh orang asing untuk menjalankan agenda kepentingan mereka. Pada ujungnya, Indonesia menjadi tidak bertuan di negeri sendiri. Kepentingan asing akan makin menggurita dan menyakiti kehidupan orang-orang miskin. Ketergantungan pada uang makin tinggi, sementara perolehan mereka tidak mencukupi.

Mestinya, kebijakan mengimpor beras ke luar negeri, adalah kebijakan jangka pendek. Untuk jangka panjang, adalah bagaimana menggerakkan para petani mengelola sawahnya agar menjadi negara swasembada pangan. Fokus pembangunan mengupayakan perbaikan petani sebagai penyangga ekonomi bangsa. Maukah pejabat pemerintah menutup mata terhadap kemewahan yang ditawarkan oleh bantuan luar negeri ? Maukah pejabat pemerintah hanya membuka mata terhadap kepentingan petani ? Rasanya gamang, mempercayai pemerintah kita, yang oknum pejabatnya suka menerima suap dan fasilitas dari negara-negara kaya. Sebagian pejabat kita lebih suka kaya sendiri, dengan mengobankan kepentingan rakyat. Biarlah rakyat menanggung kemiskinan, asal diri mereka bergelimang harta kekayaan. Jika demikian, cara pandang penguasa negeri maka bersiaplah menjadi negeri yang dikutuk oleh Tuhan karena terlalu mendlalimi hamba hamba miskin.

Masihkah pemerintah terus menerus akan mengimpor beras dari luar negeri? Membiarkan petani sendiri, sama saja menambah kemiskinan di negeri ini. Jutaan sawah akan dibiarkan begitu saja oleh petani, karena mahalnya pupuk dan biaya menanam padi. Sedang harga terus dipermainkan oleh beras impor luar negeri.
Inikah akhir dari penyelesaian tingginya harga beras? Tidak mudah bukan?
Selengkapnya...

Mengelola Stress Saat Mengungsi

Jakarta lumpuh akibat banjir. Jakarta sebagai ibu kota negara tenggelam. Jakarta seakan menjadi saksi rusaknya penataan lingkungan di negeri Indonesia. Banjir mengakibatkan kerugian banyak pihak. Kerugian ditaksir mencapai 4.1 trilun rupiah. Sarana transportasi, telekomunikasi dan BUMN serta listrik terganggu. Aktivitas kerja pegawai, pekerja, pelajar terganggu. Kantor, sekolah dan rumah-rumah penduduk terendam air. Orang-orang harus mengungsi. Bagaimana mengatasi stress akibat banjir?


***

Mengelola Stress Saat Mengungsi

Oleh: Najlah Naqiyah


Jakarta lumpuh akibat banjir. Jakarta sebagai ibu kota negara tenggelam. Jakarta seakan menjadi saksi rusaknya penataan lingkungan di negeri Indonesia. Banjir mengakibatkan kerugian banyak pihak. Kerugian ditaksir mencapai 4.1 trilun rupiah. Sarana transportasi, telekomunikasi dan BUMN serta listrik terganggu. Aktivitas kerja pegawai, pekerja, pelajar terganggu. Kantor, sekolah dan rumah-rumah penduduk terendam air.

Mengapa lingkungan rusak di Jakarta? Setiap tahun penduduk Jakarta bertambah padat. Banyak orang datang mengadu nasib mereka ke Jakarta. Jakarta adalah tempat mengadu nasib bagi jutaan orang kampung. Di Jakarta, denyut ekonomi bangsa ini terpusat. 80 % uang beredar di jakarta. Hanya 20 % sisanya, uang yang beredar di daerah. Wajar, apabila berjuta penduduk selalu mendatangi Jakarta setiap tahun mengadukan nasib mereka. Hal itulah yang menimbulkan kepadatan penduduk. Konsekwensinya ialah menjamurnya pemukiman kumuh dan sampah yang tidak terkendali.

Di lain pihak, pembangunan mall-mall dan real estate terus bertambah. Pembangunan gedung-gedung pencakar langit tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan yang merusak. Hutan-hutan di Bogor digunduli dan berganti villa serta rumah-rumah elit. Akibatnya, resapan air berkurang. Bencana longsor serta banjir terus mengancam wilayah Jawa Barat dan Jakarta.

Bagaimana keluar mengatasi stres akibat banjir bandang ?

Pertama, mencari tahu sebab yang menimbulkan stres bagi pengungsi. Jika menilik penyebab stres pengungsi karena rasa lapar, maka perlu memberikan makan dan minum. Jika stres pengungsi karena sakit, maka perlu menyediakan obat-obatan. Jika stres mereka karena kurangnya air bersih untuk kebutuhan mandi, masak, buang air, serta mencuci, maka perlu menyediakan sarana air bersih yang cukup. Persoalannya, siapa yang paling bertanggung jawab menyediakan sarana itu semua? Pemerintah berkewajiban menyediakan sarana yang dibutuhkan oleh pengungsi. Pemerintah wajib menyediakan fasilitas bagi pengungsi memperoleh penghidupan yang layak. Tugas pemerintah menyiapkan sarana air bersih, makan dan minum serta obat-obatan bagi pengungsi. Masyarakat miskin yang mengungsi perlu menggunakan fasilitas tersebut untuk keselamatan hidup mereka. Jika pemerintah abai menyediakan sarana kesehatan dan sanitasi air bersih, maka pengungsi akan menderita dan terancam penyakit akibat banjir. Pemerintah selayaknya berusaha keras menyediakan kebutuhan para pengungsi dengan cepat, untuk meringankan beban hidup mereka yang kesusahan.

Kedua, Jika pengungsi ketakutan dan khawatir kehilangan harta yang ditinggalkan di rumah mereka, maka perlu menyediakan jaminan keamanan bagi rumah mereka. Pemerintah perlu menjaminan adanya rasa aman atas tempat tinggal para pengungsi yang terendam banjir. Bagaimanapun, para pengungsi khawatir dan takut meninggalkan rumah dan harta benda mereka. Ketakutan yang berlebihan membuat rasa stres takut kehilangan barang-barang milik mereka. Untuk itu, pemerintah perlu bersikap tegas mengerahkan aparat keamanan menjaga rumah-rumah yang ditinggal mengungsi. Koordinasi pemerintah dengan pihak kepolisian dan TNI perlu intensif. Jaminan rasa aman, akan mengurangi rasa was-was para pengungsi. Pengungsi lebih tenang apabila harta benda mereka mendapatkan kepastian rasa aman dari penjarahan.

Ketiga, Solidaritas para tokoh agama, tokoh masyarakat, para artis membantu korban banjir perlu ditingkatkan. Tokoh agama sebagai pusat pengaduan masyarakat miskin. Secara sosial, tokoh agama lebih dekat dengan keseharian ummat. Peran masjid, gereja, sekolah keagamaan, pesantren menjadi alternatif masyarakat sebagai tempat mengungsi yang aman. Dengan bahu membahu dan tolong menolong secara lintas agama, akan lebih mudah dan cepat menyalurkan bantuan bagi para pengungsi.

Memberikan yang terbaik bagi para pengungsi dengan segenap kemampuan yang kita miliki akan mengobati stres pengungsi. Mendampingi pengungsi saat kritis dan membutuhkan bantuan akan membantu mengurangi beban mereka. Cara yang ditempuh melalui kerjasama aparatur pemerintah, para tokoh agama, artis dan pengusaha, membantu kebutuhan pengungsi. Semoga, pengungsi tertangani dengan baik.
Selengkapnya...

Revolusi Layanan Kesehatan Mental

Isu baru tentang pelayanan kesehatan dirasakan masyarakat belum layak. Ketidaklayakan ini bisa bersumber dari banyak faktor, misalnya faktor human error, bencana alam, ekonomi miskin, status sosial, dan budaya patriarkhi. Faktor ekonomi miskin menyebabkan masyarakat miskin diperlakukan secara tidak adil, tidak layak dan tidak sama. Layanan kesehatan masyarakat belum adil di tataran orang dengan ekonomi kelas bawah. Hanya masyarakat yang mampu saja yang bisa menikmati layanan kesehatan menggunakan teknologi canggih, sementara masyarakat miskin hanya puas dengan pelayanan seadanya dan asal-asalan. Bagaimana hendaknya?


***


Revolusi Layanan Kesehatan Mental

Oleh: Najlah Naqiyah

Penulis adalah mahasiswa Program S3, Bimbingan Konseling di Universitas negeri Malang.


Isu baru tentang pelayanan kesehatan dirasakan masyarakat belum layak. Ketidaklayakan ini bisa bersumber dari banyak faktor, misalnya faktor human error, bencana alam, ekonomi miskin, status sosial, dan budaya patriarkhi. Faktor ekonomi miskin menyebabkan masyarakat miskin diperlakukan secara tidak adil, tidak layak dan tidak sama. Layanan kesehatan masyarakat belum adil di tataran orang dengan ekonomi kelas bawah. Hanya masyarakat yang mampu saja yang bisa menikmati layanan kesehatan menggunakan teknologi canggih, sementara masyarakat miskin hanya puas dengan pelayanan seadanya dan asal-asalan.

Ketidaksamaan perlakuan terhadap pasien dikarenakan oleh human error, sering terjadi, misalnya, tidak ada komunikasi antara dokter dengan pasien, dan anggapan bahwa pasien lebih rendah posisinya dari dokter. Akibatnya, banyak ditemukan kesalahan praktek yang merugikan, salah obat dan berakibat fatal bagi pasien. Pemberi layanan merasa sebagai orang yang paling tahu, paling pandai, sehingga menjadi satu-satunya penentu untuk mengobati pasien. Cara ini cenderung serampangan dan mengabaikan kemampuan pasien. Di sisi lain, harga berobat mahal, tidak terjangkau oleh masyarakat kelas rendah. Perlindungan terhadap konsumen juga tergolong rendah. Tiada komunikasi antara dokter-pasien telah mengakibatkan meningkatnya sejumlah penyakit yang tiada kunjung sembuh, bahkan kecenderungan terus meningkat dari tahun ke tahun. Misalnya, wabah demam berdarah, suspect flu burung, HIV/Aids, kecanduan obat-obatan terlarang, kekerasan seksual telah menjadi gejala penyakit masyarakat di pedesaan maupun perkotaan saat ini. Wabah penyakit tersebut terus menular dan semakin meningkat setiap tahun.

Persoalan kaum miskin seolah terus berkembang akurt. Penyebaran penyakit menular disebabkan oleh faktor kerusakan alam dan juga kelalaian manusia. Misalnya, rendahnya kebersihan di lingkungan masyarakat, buruknya gizi masyarakat miskin. Wabah penyakit tersebut terus meningkat dan mengkhawatirkan masyarakat yang ada di Indonesia seperti akibat pergaulan bebas, kecanduan obat-obatan dan trafficking lintas negara. Sementara kerusakan alam telah mengakibatkan bencana alam seperti gunung meletus, tsunami, banjir bandang, banjir lumpur, limbah industri, lumpur dan gempa bumi. Bencana tersebut telah membuat masyarakat stress, tertekan dan depresi. Gejala tersebut nampak pada keadaan masyarakat yang sakit, cenderung menurun rasa percaya diri mereka, menutup diri dan merasa tidak bahagia.

Pelayanan kesehatan menjadi isu aktual bagi profesi yang bergerak dalam bidang pemberian bantuan (helping profession) seperti profesi kedokteran, kesehatan mental dan konseling dan pendidikan. Profesi pemberi bantuan tertantang memperbaiki kualitas layanan bagi masyarakat secara sama dan adil. Tanggung jawab profesi ialah melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Masyarakat terpenuhi haknya untuk mendapatkan akses teknologi untuk menyembuhkan penyakit mereka. Bagaimana memenuhi harapan masyarakat guna memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas dengan biaya murah ?.

Krauth (1996) berpendapat bahwa ada tantangan besar pada masa yang akan datang dikarenakan terjadinya revolusi yang cepat dalam praktek kesehatan mental, atau disebut sebagai transformasi pendekatan baru. Berbagai pendekatan baru bermunculan dalam perkembangan ilmu konseling dan psikoterapi. Antara lain Evidence-Based Practice (EBP) (Glicken, 2005), Competency-Based Counseling, Konseling berbasis pada pengambilan keputusan. Bahkan lebih jauh lagi Richardson (2000) menyimpulkan bahwa masa depan dunia psikoterapi akan menyerupai dengan dunia kedokteran, di mana hasil penelitian ditempatkan sebagai usaha untuk meningkatkan layanan bantuan bagi klien. Pendekatan EBT bersandar pada bukti-bukti untuk memberikan pengobatan atau bantuan ke orang yang menjumpai masalah.

• Pendekatan EBT sebuah alternatif
Gambril (2000) mendefinisikan Evidence-Based Practice (EBP) sebagai suatu proses yang mengharuskan pekerja profesional bisa mengakses informasi sehingga memungkinkan bisa memberikan beberapa evidence (bukti-bukti) kemanjuran obat untuk dipilih oleh klien. Bukti-bukti tersebut menjadi dasar bagi klien menentukan alternatif pilihan yang ditawarkan oleh konselor. Pekerja profesional menggunakan pengetahuan yang telah di miliki untuk menemukan bukti-bukti terbaik dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan; menganalisis bukti-bukti terbaik untuk mendapatkan validitas penelitian pada praktik; dan mengevaluasi kualitas praktik pada klien. Klien sebagai partisipan yang terlibat pembelajaran atas arahan diri mereka sendiri dalam pembuatan keputusan.

Pada praktik konseling, terdapat problem antara konseling sebagai science dan konseling sebagai art. Untuk menjembatani keduanya, maka pendekatan Evidence-Based Practice (EBP) diadopsi sebagai pendekatan konseling yang berbasis bukti. Evidence-Based counseling (EBC) diharapkan mampu menghubungkan antara bukti-bukti ilmiah dalam praktek konselor. Evidence-based counseling atau disingkat EBC diartikan “is the integration of the best available research with clinical expertise in the context of client characteristics, culture, and preferences” atau “sebagai integrasi dari hasil penelitian terbaik yang tersedia dengan keahlian klinis ke dalam konteks karakterstik klien, budaya, dan preferensi” (Sexton, 1996). Adapun hal penting yang harus dimiliki konselor untuk meningkatkan kinerja profesionalnya adalah dengan: (1) a level of skillfullness (yang didefinisikan sebagai sebuah kompetensi daripada pengalaman), (2) cognitive complexity (sebuah kemampuan untuk berfikir diversif dan kompleks terhadap kasus-kasus klien), dan (3) kemampuan (konselor) untuk berhubungan dan bekerjasama dengan klien (Sexton, 1996).

Evidence-Based counseling (EBC) untuk menangani masalah-masalah klien yang bersifat spesifik (mis: stres, kecemasan, kesulitan beradaptasi) diperlukan pendekatan best practice yang berbasis evidensi, sehingga mencapai sebuah kefektifan dalam konseling. Bagaimana EBC berkooperasi mengatasi masalah klien ? Pertama, konselor berusaha memahami masalah klien dan mencari solusi dengan cara mencari informasi yang berisi bukti-bukti empirik. Bukti-bukti tersebut berdasarkan pada pengetahuan yang di miliki oleh konselor sebelumnya, dan juga pengetahuan baru yang dihasilkan oleh konselor. Informasi baru diperoleh dengan mengakses hasil-hasil penelitian terbaru dari literatur jurnal di internet, di buku-buku jurnal dan majalah ilmiah. Kedua, Konselor menganalisis hasil-hasil penelitian berdasarkan validitas praktek, lalu menawarkan beberapa alternatif terapi ke klien. Dengan berbasis bukti-bukti, konselor bisa memberikan banyak alternatif treatment (perlakuan) terapi yang akan di pilih oleh klien. Konselor bersama klien mendiskusikan masalah, kemungkinan alternatif yang akan di pilih oleh klien disesuaikan dengan kultur, sosial budaya serta preferensi klien. Ketiga, Klien memilih alternatif terapi berdasarkan informasi yang meeka terima dari konselor. Klien yang mengambil keputusan sendiri terapi mana yang cocok dengan diri mereka dengan mempertimbangkan kondisi klien. Keempat, konselor mengkomunikasikan kualitas prakteknya ke klien. Konselor memantau perubahan-perubahan klien ke arah yang lebih baik.


Melalui pendekatan Evidence-Based counseling (EBC) diharapkan adanya revolusi yang cepat dalam perubahan praktek layanan kesehatan mental. Perubahan layanan yang lebih maju karena bercirikan hasil-hasil riset yang terbaik, sehingga tawaran terapi bisa mendapatkan kepercayaan di masyarakat. Perubahan paradigma layanan kesehatan Evidence-Based counseling (EBC) memberikan solusi dari gejala mraknya praktek yang cenderung asal-asalan dan serampangan. Dengan bersandar pada hasil-hasil penelitian terbaik dan validitas praktek akan mampu mengatasi gap tersebut. Masyarakat kian menuntut adanya akuntabilitas dari setiap layanan yang mereka dapatkan dari dokter maupun konselor.

Selengkapnya...

Qou Vadis Refleksi Kesejahteraan Perempuan?

Perempuan juga manusia yang ingin memperoleh kemajuan setiap saat. Perempuan seperti halnya laki-laki yang sama-sama ingin tumbuh kembang secara maksimal. Tetapi apakah perempuan memperoleh kesempatan yang sama dan adil mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan?



***


Qou Vadis Refleksi Kesejahteraan Perempuan?

Oleh: Najlah Naqiyah


Perempuan juga manusia yang ingin memperoleh kemajuan setiap saat. Perempuan seperti halnya laki-laki yang sama-sama ingin tumbuh kembang secara maksimal. Tetapi apakah perempuan memperoleh kesempatan yang sama dan adil mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan?. Nampaknya, perempuan masih belum memperoleh peluang yang sama mengakses pendidikan, ekonomi dan sosial politik. Masalah gerakan perempuan diantaranya, budaya kerja perempuan hanya wilayah domestik dan peran di wilayah publik dibatasi, upah dibayar lebih rendah dari laki-laki, akses ekonomi rendah, minimnya partisipasi pengambilan keputusan. perempuan makin menderita saat bencana alam seperti banjir, lumpur lapindo, longsor dan angin puyuh, biaya kebutuhan pangan tidak terjangkau, lapangan kerja tidak mampu diakses, mengedepankan emosi dan kesejahteraan orang lain darpada kepentingan dirinya sendiri. Keadaan perempuan terlantar terlalu sibuk menjalankan kodrat saat hamil, menyusui, merawat anak-anak dan bekerja mencari nafkah. Meningkatnya kekerasan trafficking di era global juga menambah sejumlah tindak kekerasan. Tulisan ini mencoba merefleksikan bagaimana sesungguhnya ketidakadilan mengkooptasi perempuan miskin dan bagaimana usaha keluar dari ketidakadilan ditengah negeri yang terus dirundung bencana.

Kesempatan memperoleh akses pendidikan berkualitas di negeri ini masih rendah. Tidak semua anak-anak negeri ini berkesempatan mengenyam pendidikan di sekolah yang maju. Terlebih bagi perempuan miskin, hanya mampu menikmati pendidikan dasar secara gratis dengan fasilitas tidak memadai. Sekolah-sekolah negeri yang didanai dari dana bantuan operasional sekolah (BOS) belum menunjukkan pengelolaan sekolah yang profesional. Kualitas sekolah rendah dengan mutu guru-guru belum standar, buku-buku ajar sedikit dan saran prasarana sekolah kurang. Anak-anak miskin bersekolah di dekat rumah mereka di pedesaan dan pegunungan dengan kualitas sekolah yang tidak memadai. Anak-anak sekolah dengan kualitas rendah akan menghasilakan mutu rendah pula. Perempuan berpendidikan rendah, mudah terkooptasi oleh tuntutan adat setempat agar menikah di usia dini.

Perempuan dibatasi oleh adat menikah di usia dini. Menurut adat Probolinggo dan Madura, orang tua merasa punya beban apabila anak perempuan mereka belum menikah saat remaja. Orang tua merasa malu anaknya tidak menikah dari pada tidak melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, seperti perguruan tinggi. Perempuan dirasa cukup berpendidikan setingkat sekolah menengah SMP/SMU. Bagi orang tua tradisional lebih puas menikahkan anak perempuan mereka, daripada menyekolahkan anak ke pendidikan tinggi. Bagi orang tua, juga tidak hirau bagaimana anak perempuan mereka akan menjalani kehidupan setelah menikah, pekerjaan apa yang akan dilakukan setelah menikah, dan bagaimana mengelola rumah tangga mereka?. Orang tua percaya, bahwa rezeki dan pekerjaan adalah takdir yang ditentukan oleh Allah SWT. Mereka kebanyakan menyederhanakan persoalan nasib, pasrah pada keadaan.

Para anak-anak perempuan miskin yang telah menikah, biasaya tinggal di rumah, dan sebagaian lain bekerja sebagai buruh tani atau buruh di pabrik. Keadaan ini memicu tingginya angka perceraian. Kegagalan membangun keluarga, bersumber dari percekcokan masalah keuangan, kesengsaraan berlangsung terus menerus, pembagian peran yang tidak adil, konflik, dan hilangnya komunikasi. Perceraian terjadi pada pasangan usia muda akibat ketidakmampuan mereka mengelola dua kepentingan secara dewasa. Lalu, bagaimana nasib para perempuan miskin yang gagal membangun rumah tangga mereka?.

Kemiskinan dan rasa malu membuka peluang anak-anak gagal pergi dari rumah. Perempuan merasa malu berstatus janda muda dan pengangguran. Perempuan pindah ke perkotaan mengadukan nasib. Mereka lari dari rumah dan pergi ke kota.
Tanpa bekal pendidikan dan keterampilan serta pengalaman kerja, perempuan terjebak penipuan kerja. Perempuan miskin tanpa bekal pendidikan dan keterampilan hidup, banyak terjebak dunia prostitusi dan narkotika. Perempuan dieksploitasi, dipaksa masuk jaringan kejahatan trafficking. Mereka rentan menjadi korban kekerasan


Di lain pihak, globalisasi memiliki tuntutan persaingan yang tinggi, dan penguasaan terhadap akses teknologi informasi dan transportasi. Mobilitas manusia modern cenderung menekankan pada sikap mandiri, memiliki banyak link kerja serta keterampilan pengetahuan. Perempuan dituntut mampu berkompromi dengan dunia global. Perempuan memilih bentuk-bentuk pekerjaan mengandalkan tenaga kasar, bekerja sebagai pelayan restoran, pelayan toko dan juga mendaftar tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Perempuan yang tidak mampu beradaptasi dengan keadaan global tidak memperoleh kesamaan dan keadilan. Bagaimana upaya-upaya memberdayakan gerakan perempuan ?. Ada tiga cara yang perlu dilakukan guna menyejahterakan perempuan, yaitu ;

Pertama, menguatkan organisasi yang peka kepentingan perempuan. Organisasi yang
memperjuangkan keberpihakan perempuan. Organisasi berupaya membangun wacana tafsir yang memihak kepentingan perempuan. Problem-problem sepanjang tahun 2006 masih rendahnya akses perempuan terhadap tafsir agama dan pengetahuan. Sedikit sekali perempuan mampu membangun wacana agama yang adil bagi perempuan. Perempuan kalah mempublikasikan penjelasan dari sudut pandang diri mereka sendiri mengenai aturan keluarga, masyarakat dan negara. Tokoh agamawan merebut wacana perempuan untuk membuat hukum keluraga dan masyarakat dipandang dari kacamata kepentingan patriarkhi. Misalnya, fatwa atas kasus-kasus yang memperbolehkan tindakan diskriminasi perempuan, seperti poligami, dan ketaatan penuh terhadap suami tanpa memberikan peluang berinisiatif. Fatwa diperbolehkannya poligami membuat sebagian perempuan pasrah dan menerima perlakuan yang tidak adil. Perempuan khawatir dan cemas dengan maraknya wacana diperbolehkannya poligami yang dilakukan oleh sebagian para tokoh agama dan masyarakat. Sementara tafsir agama yang memperbolehkan perempuan untuk menggugat cerai apabila mereka mengalami ketidakadilan dari suaminya tidak muncul di permukaan. Walau secara realitas, permintaan gugatan cerai oleh perempuan meningkat di pengadilan agama.

Kedua, Menyadarkan perempuan untuk berpartisipasi dalam banyak hal. Partisipasi perempuan terwujud apabila memperoleh akses pendidikan di sekolah, keluarga dan masyarakat. Pembelajaran bagi orang dewasa akan diperhatikan apabila isi pembelajaran berguna dalam kehidupan mereka setelah menyelesaikan pendidikan disekolah. (Caffarella, 1983; itweb@wpi.edu., 2005). Semakin tinggi pendidikan yang dimiliki, maka semakin mereka banyak berpartisipasi. Sebaliknya, perempuan berpendidikan rendah, partisipasi mereka rendah pula. Mereka tidak memiliki aspirasi mengelola kehidupan diri mereka sendiri, keluarga dan masyarakat. Rendahnya aspirasi perempuan telah memperkuat kooptasi ketidakadilan. Aspirasi rendah dan nyaris tidak mampu membuat keputusan bagi kemajuan hidup diri mereka.

Ketiga, Membuka peluang kerja bagi perempuan secara egaliter. Perempuan mesti diberikan kesempatan memperoleh akses pekerjaan sesuai bakat dan kemampuan. Tidak benar, perempuan dilarang bekerja di sektor publik. Jika perempuan memiliki kemampuan kerja di bidang mesin, akses pada pekerjaan tersebut perlu dibuka. Pandangan bahwa perempuan tidak pantas bekerja di bidang teknik dan mesin adalah pandangan kuno. Di zaman global, persaingan kerja tidak bergantung pada jenis kelamin, melainkan skill dan kemampuan. Untuk itulah, upaya mendidik perempuan dengan hal-hal yang berguna bagi kehidupan tidak perlu dibatasi. Memperbanyak pelatihan kerja membuka peluang partisipasi kerja lebih luas. Akhirnya, perempuan perlu lebih dimotivasi untuk belajar hal-hal yang berguna bagi kesejahteraan hidup mereka.

Selengkapnya...