Friday, November 17, 2006

Menggagas Dialog Elegan antara Indonesia dan Amerika Serikat

Amerika Serikat masih menaruh kecurigaan terhadap situasi keamanan wilayah Indonesia. Hal ini terbukti akan diberlakukan pengamanan ketat dari Amerika selama 6 jam di Indoensia tgl 20 Nopember 2006 di Istana Bogor. Ketidakpercayaan pemerintah AS ke aparat keamanan Indonesia, bisa di baca dari pengerahan pasukan AS secara berlebihan. Standar pengamanan pemerintah AS mengawal dan menjaga khusus presiden mereka bisa dipahami untuk mengantisipasi hal yang tidak mereka inginkan. Pemerintahan AS takut kecolongan dari gangguan teroris. Bagaimana meyakinkan negara adi kuasa tersebut bahwa Indoensia bukan sarang teroris yang seperti mereka kira?


Friday, November 03, 2006

Rasa Keberhasilan Mengatasi Krisis

Indonesia tengah mengalami krisis persoalan ekonomi, moral dan politik. Secara ekonomi, kemiskinan di Indonesia makin meningkat tajam. Angka pengangguran makin tinggi mencapai 40 juta jiwa usia kerja. Sementara, angkatan kerja yang tersedia kurang mampu mencari dan mengolah informasi yang dibutuhkan dalam memeroleh pekerjaan. Kompleksnya persoalan pengangguran menambah beban negara menjadi pemicu kerusakan tatanan sosial, maraknya tindak kekerasan di jalanan, pemerasan dan pencurian. Hal tersebut disebabkan oleh, satu sisi sebagian orang usia produktif harus memenuhi kebutuhan hidup yang tinggi, disisi lain mereka tidak mampu bekerja memenuhi kebutuhan secara halal dan baik. Akibatnya, banyak jalan pintas yang dilakukan dengan cara-cara jalanan, seperti pembalakan, persekongkolan dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagaimana cara keluar dari krisis yang melanda Indonesia? Bagaimana rasa keberhasilan bangsa kita keluar dari hempasan krisis?


Wednesday, November 01, 2006

Belajar Demokrasi di hari Lebaran

Suasana lebaran di Indonesia berjalan damai. Perbedaan penetapan hari raya idul fitri, disatu pihak merayakan idul fitri hari senin 22/10/2006, dan pihak lain merayakannya pada hari selasa, 23/10/2006. Penetapan lebaran oleh pemerintah disatu pihak berbeda dengan hasil rukyah setempat. Mayoritas masyarakat NU Jawa Timur mengabaikan keputusan pemerintah. Kedewasaan masyarakat untuk memilih berlebaran sesuai dengan pilihan mereka dengan penuh rasa aman merupakan indikasi meningkatnya kebebasan menjalankan agama sesuai dengan pilihan masyarakat. Betulkah demikian?


***

Belajar Demokrasi di hari Lebaran

Oleh: Najlah Naqiyah


Suasana lebaran di Indonesia berjalan damai. Perbedaan penetapan hari raya idul fitri, disatu pihak merayakan idul fitri hari senin 22/10/2006 dan pihak lain merayakannya pada hari selasa, 23/10/2006. Penetapan lebaran oleh pemerintah disatu pihak berbeda dengan hasil rukyah setempat. Mayoritas masyarakat NU Jawa Timur mengabaikan keputusan pemerintah. Kedewasaan masyarakat untuk memilih berlebaran sesuai dengan pilihan mereka dengan penuh rasa aman merupakan indikasi meningkatnya kebebasan menjalankan agama sesuai dengan pilihan masyarakat.

Perbedaan ini tidak membuat masyarakat bertengkar. Gema takbir di setiap masjid terasa indah, mengagungkan kebesaran Allah SWT. Rasa toleransi yang ditunjukkan oleh masyarakat adalah pembelajaran demokrasi yang patut diapresiasi. Indonesia yang garang, dengan berbagai ragam pertengkaran antar etnik, pertikaian antar suku dan segregasi antara kaya dan miskin yang makin melebar serta bencana alam telah mencabik-cabik anak bangsa selama ini, tidak terlihat pada saat lebaran. Kerukunan nampak di masyarakat saat lebaran merupakan langkah maju bagi budaya bangsa Indonesia. Suasana guyub, gembira dan ceria juga ditunjukkan pada acara silaturrahmi dari rumah ke rumah guna memperoleh maaf. Tidak ada masyarakat yang tidak tersenyum saat menyapa saudaranya.

Masyarakat seakan tidak hirau dengan perbedaan yang terjadi. Toleransi masyarakat jauh lebih nampak dewasa di desa yang tidak berpendidikan tinggi. Hal ini, jauh dengan pemandangan hiruk pikuk, beda pendapat para penguasa yang terjadi di meja-meja sidang partai politik. Sidang DPR tidak jarang yang berakhir dengan saling caci maki dan saling adu otot. Nuansa lebaran menjadi lain dari yang lain.

Lebaran diperingati secara berbeda oleh ummat Islam di Indonesia. Perbedaan penetapan hari lebaran ini berjalan damai. Perbedaan lebaran mengisyaratkan perbedaan faham yang mulai berani dimunculkan oleh masyarakat. Perbedaan lebaran menunjukkan perjalanan keagamaan yang beragam. Perbedaan tersebut merupakan rahmat lil alamin. Perbedaan sejatinya disikapi dengan terbuka dan menerima keanekaragaman paham. Perbedaan yang dikelola dengan baik membangun citra positif. Perbedaan merupakan ekspresi yang tercermin dari cara berpikir bebas yang mesti terjadi. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan.

Bagi masyarakat awam, perbedaan hari raya tidak menimbulkan konflik. Walaupun ada sebagian masalah yang terselubung. Realitas kesehariaan masyarakat petani dan buruh, lebih bersikap respek terhadap perbedaan yang terjadi. Mereka tidak perduli dan bersikap acuh tak acuh dengan segala perbedaan. Ekspresi yang mereka tunjukkan ada yang positif dan negatif. Ekspresi positif ditunjukkan dengan membiarkan perbedaan terjadi dan bersikap memahami pilihan masing-masing. Sedangkan ekspresi negatif muncul melalui kasak kusuk di balik meja. Secara samara terlihat mereka saling menggunjing satu dengan yang lain. Mengintai dan mematai-matai aktivitas satu dengan yang lain. Namun, secara umum, masyarakat tidak peduli dengan perbedaan yang terjadi, mereka cenderung mengikuti para kiai mereka yang menjadi panutan sehari-hari.

Demokrasi : kebebasan berekspresi.
Belajar demokrasi tidak harus pergi ke Amerika atau duduk di bangku sekolah atau perguruan tinggi bertahun-tahun. Belajar demokrasi bisa di capai dari realitas kesehariaan idul fitri di kampung. Pembelajaran demokrasi tersebut ialah saling memberikan maaf antara satu dengan yang lain. Kesediaan saling memaafkan merupakan bentuk rekonsiliasi yang menghantarkan pada rasa perdamaian. Kesediaan saling memberi maaf akan menghapus segala prasangka dan dendam serta kesalahan yang telah menimbulkan luka. Dosa yang paling banyak dilakukan manusia adalah kesalahan-baik kecil maupun besar-terhadap sesamanya yang disebabkan oleh hal-hal yang sepele antar manusia bisa bermusuhan, bertikai, hingga saling bunuh.

Idul Fitri merupakan momentum untuk saling memaafkan antarmanusia, baik secara individu maupun kolektif. Budaya saling memaafkan ini lebih populer disebut halal bihalal. Meski awalnya eksklusif milik umat Islam, kini telah menjadi fenomena nasional, telah dimiliki dan dilaksanakan semua kalangan, tak terkecuali non-Muslim. Fenomena ini wajar karena relevan dengan inklusivitas misi ajaran Islam. Kesediaan memaafkan merupakan bentuk eratnya hubungan kemanusiaan antar sesame. Kesediaan memberi maaf adalah kebutuhan manusia yang tidak luput dari salah dan dosa. Kesediaan memaafkan membuka komunikasi yang tertutup. Kesediaan rasa memaafkan menjadikan manusia kembali kepada fitrah dan kesucian. Kesediaan memaafkan memberikan pertanda bersemainya demokrasi yang menekankan pada saling pengertian dan pemahaman. Kesediaan mengakui dan memperbaiki kesalahan adalah bentuk perilaku yang perlu terus menerus dilakukan.

Idul fitri juga mengembangkan budaya saling sapa dan mengenal secara baik setiap pribadi orang lain. Melalui acara silaturrahmi dengan mendatangi rumah dan berkunjung membentuk saling pengertian dan keeratan hubungan sesama ummat. Tradisi silaturrahmi yang tercermin dalam peristiwa mudik lebaran, membawa hikmah merekatkan kembali nilai persaudaraan. Tradisi pulang kampung dan meminta maaf ke sanak keluarga terutama orang tua, saudara serta keluarga dan masyarakat merupakan bentuk nilai kasih sayang. Nilai rasa kasih sesama merupakan pilar demokrasi. Demokrasi membawa gagasan bertumbuhnya rasa perdamaian dan persaudaraan. Kunjungan dan saling memaafkan antara satu dengan yang lain wujud rasa damai diantara masyarakat.

Lebaran kali ini awal tradisi demokrasi yang bersemai di masyarakat. Cara masyarakat mengelola perbedaan secara dewasa, wujud penghargaan kebebasan berekspresi. Penghargaan yang tinggi atas setiap pilihan bebas tanpa tekanan, suasana kondusif bagi bertumbuhnya demokrasi. Gagasan saling mengerti dan bertoleransi atas pilihan satu dengan yang lain patut diapresiasi. Atas nama bangsa yang pluralistik meniscayakan adanya perbedaan yang terus terkelola dengan baik. Kita mesti belajar dari peristiwa pahit yang menghancurkan nilai persaudaraan akibat ketidakmampuan mengelola perbedaan, berakhir saling tikai dan bunuh. Masyarakat lelah bertengkar dengan hal-hal yang sepele, seperti pembakaran tempat-tempat ibadah, merusak fasilitas umum dan saling bunuh. Masyarakat belajar untuk bisa menjalani setiap perbedan dengan saling mengerti.

Lebaran yang diharapkan dapat membelajarkan demokrasi akan tercapai, apabila;
1.Masyarakat menyediakan lingkungan yang saling memaafkan antara satu dengan yang lain. Lingkungan saling maaf akan terbentuk apabila terbangun budaya yang selalu hadir dalam tingkah laku masyarakat untuk memohon maaf. Budaya maaf ini tercermin sekali misalnya, di saat hari raya idul fitri, dimana setiap orang saling menyapa dan meminta maaf. Lebaran ini merupakan tradisi unik yang bisa menjadi momentum tradisi saling memaafkan setiap hari disepanjang tahun. Alangkah indahnya apabila tercipta hubungan persaudaraan yang bersedia saling memaafkan antara satu dengan yang lain. Damai akan terasa di hati.
2.Pembelajaran yang bisa di petik adalah bertumbuhnya ekspresi masyarakat untuk bebas berpendapat, mengeluarkan gagasan secara lugas dan bertanggung jawab. Lebaran kali ini melatih masyarakat berani menetapkan keputusan kapan melaksanakan hari raya, meskipun pilihan mereka harus berbeda dengan pemerintah. Masyarakat berani mengekspresikan keyakinannya secara dewasa.
3.Memberikan penghargaan yang tinggi atas sesama manusia. Kita mesti memperlakukan dan menghargai orang lain sebagai mana kita ingin dihargai. Penghargaan yang tulus menunjukkan nilai kemanusiaan kita sendiri. Setiap orang lain memiliki persamaan secara universal. Setiap manusia ingin dihargai, dicintai dan diperlakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain.

Akhirnya, ainti dari demokrasi ialah kesediaan untuk berdamai dengan Allah SWT, berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan orang lain. Kesemua itu bisa dilakukan apabila kita hidup dengan bersyukur (berterima kasih) dan bersedia menjalani demokrasi setiap hari. Mewujudkan kehidupan yang damai, bahagia dan adil.

Membaca Makna Nuzulul Qur’an

Ramadlan adalah bulan diturunkannya al-Quran. Turunnya al-Quran dari Allah SWT kepada Rasullullah SAW diperingati setiap tanggal 17 ramadlan setiap tahunnya oleh sebagian ummat Islam. Mengetahui sejarah penting kiranya, agar menambah keteguhan iman kita kepada kitab Allah SWT berupa al-Qur’an. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan akan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadinya pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa awal Islam. Pemalsuan terhadap al-Quran bukan tidakmungkin terjadi lagi, mengingat bebasnya dan maraknya ajaran-ajaran “nyeleneh” yang bermunculan. Wacana tentang sejarah al-Quran, seperti bagaimana al-Qur’an diturunkan, bagaimana para ulama’ menjaga al-Quran dari masa ke masa perlu diketahui oleh ummat Islam. Bagimana sejarah turunnya al-Qur’an tersebut? dan apa yang dapat kita ambil pelajaran dari sejarah turunnya al-Qur’an?


***


Membaca Makna Nuzulul Qur’an

Oleh: Najlah Naqiyah


Ramadlan adalah bulan diturunkannya al-Quran. Turunnya al-Quran dari Allah SWT kepada Rasullullah SAW diperingati setiap tanggal 17 ramadlan setiap tahunnya oleh sebagian ummat Islam. Mengetahui sejarah penting kiranya, agar menambah keteguhan iman kita kepada kitab Allah SWT berupa al-Qur’an. Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan akan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadinya pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa awal Islam. Pemalsuan terhadap al-Quran bukan tidakmungkin terjadi lagi, mengingat bebasnya dan maraknya ajaran-ajaran “nyeleneh” yang bermunculan. Wacana tentang sejarah al-Quran, seperti bagaimana al-Qur’an diturunkan, bagaimana para ulama’ menjaga al-Quran dari masa ke masa perlu diketahui oleh ummat Islam. Bagimana sejarah turunnya al-Qur’an tersebut? dan apa yang dapat kita ambil pelajaran dari sejarah turunnya al-Qur’an? Istilah turunnya al-Qur’an berasal dari kata “nazala, yanzilu nazlan” yang artinya turun. Sedangkan nuzul al-Qur’an adalah turunnya al-Quran kepada nabi Muhammad SAW. Turunnya al-Quran dari atas ke bawah menunjukkan ketinggian kedudukan al-Quran. Al-Qur’an menurut ahli tafsir ialah kalam allah yang diurunkan kepada nabi Muhammad secara mutawatir. Sedangkan menurut ahli fiqh ialah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad, menjadi mukjizat Nabi, lafadznya secara mutawatir yang ditulis dalam mushaf al-Quran diawali surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat an-naas.

Turunnya al-Qur’an membawa perubahan bagi manusia di muka bumi. Turunnya al-Qur’an sebagai putunjuk bagi manusia memperoleh jalan yang benar menuju cahaya iman dan Islam. Ayat pertama yang turun merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berkisar di seputar nasib manusia, asal usul dan tujuannya. Kapan dan dimana serta peristiwa yang terjadi pada saat ayat pertama dan terakhir diturunkan kepada Muhammad SAW. Para jumhur ulama’ menyebutkan bahwa ayat yang pertama kali turun ialah surat al-‘Alaq ayat 1-5.
Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al ‘Alaq 1-5).

Surat al-‘Alaq diturunkan ketika rasulullah saw berada di gua hira’ , yaitu sebuah gua dijabal nur, yang terletak kira-kira tiga mil dari kota Mekah. Ini terjadi pada malam senin, tanggal 17 ramadhan tahun ke 41 dari usia Rasulullah 13 tahun sebelum hijriyah. Bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 M. malam turunnya al-Quran pertama kali di ‘lailatul qodar” atau ‘lailatul mubarakah”, yaitu suatu malam kemuliaan penuh dengan keberkahan.

Pengajaran dengan pena

Surat al-‘Alaq 1-5 menjelaskan jawaban gelisah dan kerisauan yang dialami oleh nabi Muhammad SAW melihat realitas jahiliyah. Nabi risau dengan keadaan bangsa Arab yang kesuku-sukuan, menuhankan patung dan berhala serta bermusuh-musuhan. Nabi menepi dan bertahanus di gua hira’ sampai akhirnya turun wahyu. Allah memperkuat hati nabi Muhammmad bahwa hanya kepada Allah SWT manusia bersandar dari segala sesuatu. Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Pada ayat berikutnya Allah menunjukkan sifat Allah yang maha pemurah. Hanya kepada Allah manusia meminta segala sesuatu. Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah yang maha mulya.

Pada ayat Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam, menujukkan budaya tulis menulis. Al-Quran menunjukkan kemajuan manusia yang dicapai melalui budaya tulis menulis. Kala itu hanya dikenal dengan budaya lisan, berupa syair-syair, namun Allah mengajarkan manusia dengan pena. Suatu lompatan budaya al-Qur’an. Jika melihat realitas peradaban keilmuan dan pengetahuan dipelajari dari warisan buku-buku yang ditulis oleh para ilmuwan. Demikian, juga kitab al-Qur’an, ditulis dan terjaga hingga saat ini, sebagai satu-satunya kitab suci yang otentik dari segi lafadz dan periwayatannya.

Di Indonesia, tradisi tulis menulis masih langka, banyak ilmu yang bertebaran di masyarakat, tapi hanya sedikit orang yang mau mengumpulkan dalam tulisan, hingga sejarah kelam kerap terjadi berulang-ulang. Misalnya, pertikaian antar suku, korupsi dan pembalakan hutan adalah tradisi yang membuat bangsa ini tercabik-cabik, akhirnya, kebodohan cenderung terulang dari masa ke masa. Kita jarang belajar dari sejarah, karena kita tidak tahu sejara dan tidak punya tulisan yang bisa dipelajari dari sejarah bangsa ini. Selayaknya, para manusia bisa mengambil pelajaran dari turunnya wahyu pertama, untuk mengingatkan manusia agar belajar tentang tulis menulis. Menuliskan pengetahuan yang ada di alam semesta. Mengkaji makna butiran-butiran mutiara al-Qur’an sebagai landasan teori dasar pengetahuan. Tidak bsa dipungkiri, bangsa yang memiliki peradaban maju, adalah bangsa yang memiliki tradisi tulis menulis yang kreatif. Sehingga generasi mendatang bisa belajar dari buku-buku yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya.

Saturday, July 15, 2006

Memerangi Kebodohan dan Rasa Takut

Realitas Indonesia tidak kunjung keluar dari krisis. Krisis inilah yang membuat Indonesia tidak bisa lepas dari hutang luar negeri. Sebagai kompensasinya, Indonesia harus rela menyerahkan pembangunannya pada tangan-tangan Asing. Masalahnya kemudian, bagaimana mungkin orang asing akan membuat kebijakan yang bijaksana, apabila mereka tidak memiliki pengetahuan tentang Indonesia? Tidak mungkin. Akibat turut campurnya negara asing pada kebijakan pemerintah Indonesia tanpa tahu keadaan Indonesia yang sebenarnya, hanya akan menjerumuskan rakyat pada kemiskinan. Campur tangan orang asing mengatur dalam negeri ini menunjukkan semakin rendahnya bergaining position pemerintah dengan negara-negara donor. Bagaimanapun, negara asing memiliki kepentingan terselubung untuk memanfaatkan negara Indonesia bagi kesejahteraan bangsa mereka. Lalu, bagaimana kelanjutannya?


***

Memerangi Kebodohan dan Rasa Takut

Oleh : Najlah naqiyah


Realitas Indonesia tidak kunjung keluar dari krisis. Krisis inilah yang membuat Indonesia tidak bisa lepas dari hutang luar negeri. Sebagai kompensasinya, Indonesia harus rela menyerahkan pembangunannya pada tangan-tangan Asing. Bagaimana mungkin orang asing akan membuat kebijakan yang bijaksana, apabila mereka tidak memiliki pengetahuan tentang Indonesia? Akibat oleh turut campurnya negara asing pada kebijakan pemerintah Indonesia tanpa tahu keadaan Indonesia yang sebenarnya, hanya akan menjerumuskan rakyat pada kemiskinan. Campur tangan orang asing mengatur dalam negeri ini menunjukkan semakin rendahnya bergaining position pemerintah dengan negara-negara donor. Bagaimanapun, negara asing memiliki kepentingan terselubung untuk memanfaat negara Indonesia untuk kesejahteraan bangsa mereka. Realitas ketergantungan pada negeri asing membuat rakyat jelata semakin dirugikan. Misalnya, kebijakan free market (pasar bebas) yang tengah dikampanyekan oleh negara maju, telah membuat negara berkembang sangat bergantung pada pinjaman luar negeri. Kebijakan pasar bebas, sesungguhnya hanya akan membuat pengusaha lokal kalah bersaing. Pengrajin semakin kalah bersaing karena modal dan pengetahuan mereka terbatas. Akibat yang sangat nyata, kini Indonesia mengalami dekadensi moral dan spiritual. Meningkatnya pemalsuan produk, pencurian uang dan pembakaran pasar-pasar merupakan fenomena yang muncul. Pemalakan hutan, persekongkolan kejahatan dan korupsi merupakan penyakit kronis bangsa Indonesia. Selama lingkungan korup, maka rakyat tidak akan bisa berkembang. Lingkungan korup akan semakin membuat rakyat represif dan terancam kemiskinan.

Ketakutan telah mendera rakyat Indonesia. Rakyat takut terancam kelaparan, bencana alam yang disebabkan oleh keserakahan manusia. Rakyat taku akan terjadinya kekerasan yang dikreasikan untuk menindas dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Mengapa rakyat diselimuti ketakutan tiap waktu? Ketakutan tersebut disebabkan oleh sikap jahat dan tidak mencintai sesama manusia. Sikap serakah telah membuat penebangan pohon sembarang tempat. Hutan menjadi gundul, sehingga mengakibatkan banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Tanah menjadi tandus karena kekayaan alam dikeruk tanpa kebijaksanaan. Peristiwa bencana alam yang disebabkan oleh ulah sekelompok orang telah mengakibatkan kerusakan ekosistem. Contoh, kasus Lumpur panas Lapindo telah merugikan masyarakat Sidoarjo.

Penguasa Indonesia tidak memberikan rasa aman bagi perkembangan rakyat untuk bebas berekspresi. Tekanan dan hegemonik kerap kali memicu kekerasan. Meningkatnya tindak kekerasan mengancam jiwa penduduk. Contoh, kasus pembakaran rumah-rumah kumuh untuk dijadikan pasar modern adalah bentuk pengebirian hak hidup orang miskin. Kasus pemihakan penguasa pada kapitalisme telah meminggirkan rakyat jelata dari kemajuan. Rakyat jelata makin sulit memperoleh akses invormasi pengetahuan, karena pendidikan semakin mahal dan terkotak-kotak. Para pemilk modal bersatu dengan aparat untuk memonopoli perdagangan. Sikap monopoli makin nyata dengan semakin banyaknya mall-mall di perkotaan merambah ke pasar-pasar tradisional.

Lingkungan yang korup tidakmemberikan kesempatan orang lain untuk berkembang. Lingkungan korup hanya akan meningkatkan kebodohan bagi masyarakat. Bentuk kebodohan yang terjadi adalah akibat mahalnya akses ekonomi, sosial dan pendidikan. Masyarakat didera oleh keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Korban dari kemiskinan adalah meningkatnya anak-anak berhenti sekolah karena tidak memiliki biaya. Segregasi tempat tinggal antara komplek orang kaya dan orang miskin. Adanya perbedaan perlakuan pada rakyat miskin dengan orang kaya. Rakyat miskin menjadi kelas buruh yang bisa dipermainkan nasibnya oleh kekuasaan. Apabila, keadaan ini dibiarkan terus menerus, maka akan mengulang sejarah penjajahan yang terjadi di Indonesia. Penjajahan telah membuktikan bahwa rakyat tidak sejahtera, dan menderita.

Lalu, bagaimana memerangi rasa takut dan kebodohan agar penjajahan tidak terulang?
Pertama, Indonesia mesti memiliki rasa keberhasilan untuk membawa negeri yang baik dan sejahtera. Rasa kemampuan diri menjalankan tujuan yang telah ditetapkan. (Bandura;2002). Dalam hal ini dikaitkan pada sistem pemerintahan yang bersih. Bangsa Indonesia perlu memiliki kepercayaan diri untuk bisa mengatur dan mengorganisasikan bangsa agar mampu mewujudkan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945 secara benar. Untuk memperoleh rasa kemampuan diri agar berhasil perlu melihat pengalaman keberhasilan bangsa Indonesia menangani situasi krisis ekonomi, sosial dan pendidikan di masa lalu. Bila Indonesia memiliki dan tahu sejarah maka tidak akan mengulang peristiwa kekerasan yang menyebabkan darah rakyat mengalir. Sejarah kebangsaan harus diungkapkan secara benar dan disampaikan pada seluruh anak bangsa, agar mereka tidak mengulang kembali sejarah yang sama jeleknya. Kejahatan korupsi harus di ungkap secara jujur agar Indonesia tidak terantuk kedua kalinya.

Kedua, Menghilangkan kebodohan dan rasa takut diatasi melalui kurikulum pendidikan yang membebaskan. Kurikulum pendidikan memiliki peran besar untuk berpartisipasi memajukan bangsa. Pendidikan sejatinya menerangi jalan setiap rakyat dengan mudah. Pendidikan diharapkan bisa membangkitkan rasa berani menatap masa depan dengan kemampuan yang dimiliki. Rasa takut ditimbulkan oleh ketidakmampuan mengatasi masalah. Dengan ilmu pengetahuan, akan berani menentukan keputusan yang penting dalam pengambilan kebijakan besar bagi kepentingan masyarakat. Pendidikan mestinya di desain untuk membelajarkan anak-anak yang terdidik. Belajar yang memberikan rasa bebas dari takut, dan memerangi penderitaan yang dijumpai di jalan kehidupan.

Ketiga, Hidup bersama dan saling toleransi adalah proses yang niscaya hadir ditengah multicultural Indonesia. Pembauran antar etnik, ras dan suku akan semakin memperkokoh bangsa ini menghadapi tantangan global. Apabila ada perbedaan dan pertengkaran diantara penduduk, perlu digagas suatu lembaga rekonsiliasi untuk mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.

Akhirnya, ketiga jalan tersebut, yaitu kemampuan diri, pendidikan dan kebersamaan menjadi jalan peretas pembebasan dari rasa takut dan keluar dari kebodohan. Kesemuanya itu membutuhkan perjuangan yang berlangsung sepanjang hayat mencapai nilai keadilan.

Saturday, June 17, 2006

Konseling Untuk Korban Bencana Gunung Merapi.

Peristiwa bencana alam merupakan salah satu penyebab munculnya krisis bagi jiwa manusia. Bencana alam akibat meletusnya gunung merapi di Yogyakarta menyisakan trauma bagi penduduk sekitar lereng gunung merapi. Trauma gempa bumi oleh gunung merapi mengakibatkan penduduk kehilangan keluarga, rumah dan pekerjaan. Kondisi batin mereka sedih, hancur dan khawatir akan terjadinya gempa. Gunung merapi seolah sedang jadi "lakon". Gunung yang mempunyai ketinggian 2968 m dari permukaan laut dan terletak lebih kurang 25 km dari Yogyakarta itu, belakangan memang tak pernah absen menghiasi hampir semua media, cetak maupun elektronik. Sekian ribu nyawa melayang dalam sedetik. Sekian rumah roboh dan luluh lantak. Orang-orang tahu pahit getirnya musibah bencana alam. Sementara itu ribuan pengungsi kebingungan. Mereka baru saja pulang ke rumahnya kemarin pagi, kembali ke pengungsian sore harinya.

***


Konseling Untuk Korban Bencana Gunung Merapi


Oleh : Najlah Naqiyah


Peristiwa bencana alam merupakan salah satu penyebab munculnya krisis bagi jiwa manusia. Bencana alam akibat meletusnya gunung merapi di Yogyakarta menyisakan trauma bagi penduduk sekitar lereng gunung merapi. Trauma gempa bumi oleh gunung merapi mengakibatkan penduduk kehilangan keluarga, rumah dan pekerjaan. Kondisi batin mereka sedih, hancur dan khawatir akan terjadinya gempa. Gunung merapi seolah sedang jadi "lakon". Gunung yang mempunyai ketinggian 2968 m dari permukaan laut dan terletak lebih kurang 25 km dari Yogyakarta itu, belakangan memang tak pernah absen menghiasi hampir semua media, cetak maupun elektronik. Sekian ribu nyawa melayang dalam sedetik. Sekian rumah roboh dan luluh lantak. Orang-orang tahu pahit getirnya musibah bencana alam. Sementara itu ribuan pengungsi kebingungan. Mereka baru saja pulang ke rumahnya kemarin pagi, kembali ke pengungsian sore harinya. (15-Juni-2006).

Korban akibat bencana telah menyebabkan derita dan tangis korban.
Data sementara jumlah siswa yang meninggal akibat bencana gempa bumi di Klaten mencapai 49 orang dan guru meninggal sebanyak 15 orang. Namun jumlah tersebut kemungkinan bisa bertambah karena Dinas P dan K Klaten masih terus melakukan pendataan. (Kantor Dinas P dan K Kabupaten Klaten, Kamis (8/6). Korban gempa lain, meninggal tujuh orang korban gempa akibat tetanus. Terlambatnya melakukan sosialiasi suntikan antitetanus telah merenggut masyarakat.(16-Juni-2006). Korban terus bertambah seiring kondisi alam makin mengganas, meluluhlantakkan perkampungan di lereng merapi. Meluluhkan harapan masyarakat untuk hidup tenang dan sejahtera.

Sudah sebulan awan panas mengancam Yogyakarta. Masyarakat takut terhadap luncuran awan panas (weddus gembel) yang terlihat seperti menuju kampung mereka. Luncuran awan panas yang terjadi, dilaporkan sudah mencapai kawasan permukiman di Dusun Kaliadem. Sebelumnya, PVMBG memperkirakan awan panas skala besar tidak akan terjadi, mengingat adanya cekungan di puncak Merapi sebagai penahan. Sejak pukul 13:00, terjadi beberapa kali luncuran awan panas yang cukup jauh ke arah Kali Gendol. Jaraknya mencapai enam kilometer dari puncak Merapi. Warga Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten, yang desanya berlokasi di tepi Kali Gendol ketakutan. Akibatnya, warga benar-benar ketakutan, lava pijar dan awan panas yang mengarah ke Kali Gendol tampak seperti mengarah ke desa mereka. Akibatnya, warga yang belum pernah mengungsi sekarang ikut mengungsi,'' kata Komandan SAR Klaten, Drs Anang Widayaka, di Ngemplakseneng.(16-Juni-2006).

Membantu para korban bencana tidak cukup dengan menyalurkan bantuan berupa materi saja. Kebutuhan rasa aman sama pentingnya dengan bantuan dana yang selama ini diberikan. Kebutuhan untuk diperhatikan, didengarkan dan didampingi saat korban mencari jalan keluar dari bencana penting dilakukan. Salah satu cara membantu korban dengan memberikan konseling pasca bencana terhadap korban letusan gunung merapi.

Upaya Konseling Korban Bencana

Upaya konseling terhadap korban bencana selayaknya diberikan. Para korban memerlukan bantuan mengatasi perasaan kehilangan orang yang dicintai. Mereka butuh menata masa depan yang tak menentu akibat lingkungan baru. Banyak orang yang kehilangan, dan hancur semangatnya ketika orang dekat mereka meninggal. Upaya konseling singkat berfokus pada solusi menjadi alternative menolong orang-orang yang cemas dan penuh rasa takut ditengah bencana. Bagaimana bentuk konseling singkat berfokus solusi dilakukan?

Pertama, konselor menanyakan keadaan korban tentang perasaan mereka. Apa keluhan dan kesakitan yang tengah mereka hadapi. Bagaimana sedihnya kehilangan keluarga dan harta benda yang mereka cintai. Konselor mesti mengetahui persis kerisauan-kerisauan yang dihadapi oleh korban pasca gempa. Ketakutan yang tengah menimpa jiwa mereka dan bersikap empatik atas penderitaan yang tengah dihadapi.

Kedua, setelah menanyakan tentang kerisauan dan ketakutan yang dialami oleh Korban, selanjutnya konselor melangkah pada pertanyaan yang berfokus solusi. Konselor segera mengalihkan pada upaya solusi yang akan dilakukan oleh korban. Bagaimana korban menyikapi situasi krisisnya. Korban diajak untuk berpikir rasional tentang langkah-langkah yang akan mereka lakukan menghadapi situasi sulit. Misalnya, bagaimana korban akan terus eksis di saat kehilangan orang tua mereka? Upaya apa yang akan di tempuh untuk meneruskan pendidikan mereka? Dan langkah apa yang akan dilakukan saat ini mengatasi kesedihannya? Dengan kolaborasi antara korban dan konselor, akan mempercepat upaya bangkit dari kegelisahan.

Ketiga, Konselor membantu korban menemukan kekuatan diri mereka untuk melangkah maju. Misalnya, konselor menanamkan nilai berani mengambil resiko untuk tinggal di tempat baru yang lebih aman dari sasaran weddus gembel atau hujan debu. Dengan menemukan insight (pengetahuan) pada diri korban bencana, akan meringankan beban mereka dari keputus asaan. Para korban akan tegak berdiri menerima realitas mereka yang kehlangan sanak saudara dan rmah serta pekerjaan. Para korban menemukan cara untuk melanjutkan hdup yang telah hancur disambar gunung merapi. Membantu mengajak mereka untuk menyikapi hidup secara tepat sesuai kenyataan.

Bagaimana pun, bencana dapat terjadi dimana saja, baik di pesisir pantai atau di puncak atau di lereng gunung. Bantuan konseling semakin diperlukan mengatasi problem bencana alam.

Friday, June 16, 2006

Upah Perempuan Dibayar Lebih Rendah: Mengapa?

Era global dan pasar bebas kini menuntut perempuan memasuki bursa kerja. Ironisnya, Perempuan dibayar lebih rendah dari pekerja laki-laki. Namun demikian, syahwat perempuan untuk bekerja di sektor publik makin meningkat. Berbagai perusahaan membuka diri menerima para pekerja perempuan profesional agar terlibat memajukan bisnis. Perempuan berbondong-bondong mengajukan lamaran dan memadati setiap bursa kerja. Perempuan berlomba meraih peluang membangun kesejahteraan dengan meningkatkan kinerja. Kesejahteraan menjadi wacana aktual di berbagai seminar-seminar karier dan usaha. Tantangan perempuan memilih pekerjaan yang sesuai bagi diri mereka sangat terbuka lebar. Persoalannya ialah, bagaimana melindungi agar perempuan memperoleh gaji yang sama dengan laki-laki?

***


Upah Perempuan Dibayar Lebih Rendah: Mengapa?

Oleh: Najlah Naqiyah


Era global dan pasar bebas kini menuntut perempuan memasuki bursa kerja. Ironisnya, Perempuan dibayar lebih rendah dari pekerja laki-laki. Namun demikian, syahwat perempuan untuk bekerja di sektor publik makin meningkat. Berbagai perusahaan membuka diri menerima para pekerja perempuan profesional agar terlibat memajukan bisnis. Perempuan berbondong-bondong mengajukan lamaran dan memadati setiap bursa kerja. Perempuan berlomba meraih peluang membangun kesejahteraan dengan meningkatkan kinerja. Kesejahteraan menjadi wacana aktual di berbagai seminar-seminar karier dan usaha. Tantangan perempuan memilih pekerjaan yang sesuai bagi diri mereka sangat terbuka lebar. Persoalannya ialah, bagaimana melindungi agar perempuan memperoleh gaji yang sama dengan laki-laki?

Tingginya minat perempuan bekerja diperkantoran dan perusahaan membuktikan adanya gerakan perubahan peran domestik ke peran publik. Ditengah perubahan itulah, perempuan memperoleh tantangan besar memperjuangkan hak-hak pribadi mereka. Hak mendapatkan upah yang sama dengan laki-laki, hak memperoleh kesejahteraan dan keselamatan kerja serta hak mendapatkan kehidupan ekonomi secara layak. Untuk mendapatkan hak-hak pribadinya, perempuan tidaklah mudah. Problem budaya dan kultur semakin menambah peliknya kapitalisme yang menghegemonik. Nilai feodalisme, yang menganggap perempuan lebih rendah, tenaganya lebih lemah dari lelaki seakan menguatkan para pengusaha kapital menghargai kinerja dan jasa perempuan secara lebih rendah dari laki-laki. Wacana agama yang menyebutkan bahwa perempuan tidak memiliki kewajiban memenuhi nafkah keluarga, menjadi pembenar bagi para pengusaha kapital membayar upah perempuan dibawah pekerja laki-laki. Kultur feodalisme, perempuan dihadapkan pada budaya bisu dan diam akan segala ketidakadilan yang dirasakan. Perempuan yang melawan dan menuntut hak-haknya, seakan hanya akan tinggal nama, contoh kasus Marsinah, seorang buruh pabrik yang meninggal akibat sikap kritisnya menuntut perbaikan upah. Persoalannya ialah, rasa takut yang mendera perempuan, membuat mereka bungkam menuntut keadilan dan kesetaraan upah. Bagaimana memberdayakan perempuan memperoleh upah yang sama dengan laki-laki?

Persaingan dan kesempatan menggapai pekerjaan sangat pelik. Dilain pihak, kesamaan upah dengan pekerja laki-laki menjadi perjuangan gerakan perempuan yang relefan seiring meningkatnya akses perempuan di dunia pekerjaan. Dinamika gerakan perempuan terus melaju. Tuntutan hak-hak sipil bagi peran perempuan terus digugat. Tuntutan tersebut seiring dengan kemajuan kehidupan masyarakat. Tuntutan terhadap kesejahteraan keluarga, pendidikan dan pekerjaan menjadi wacana utama bagi terpenuhinya hak-hak sipil. Kesamaan kesempatan akses tidak terpenuhi akibat tirani hegemonik kapitalis. Perbudakan gaya baru dengan wujud segregasi kaya dan miskin menjadi penegas pemisahan kesamaan akses bagi kaum buruh. Keadaan ini mengingatkan saat perbudakan yang terjadi. Dulu, perbudakan disebabkan oleh perbedaan kulit hitam dan kulit putih. Orang kulit hitam harus menjadi hamba sahaya yang dijual, tidak dibayar kinerjanya, tidak memperoleh pendidikan dan hidup dalam ketakutan. Sekarang, Perbudakan muncul kembali dengan baju yang berbeda tetapi memiliki kesamaan perlakuan penindasan. Yaitu perbudakan yang disebabkan oleh orang-orang kaya dan orang-orang miskin. Perlakuan ke pekerja perempuan miskin, seperti perlakuan pada budak hitam tempo dulu. Bagaimana tidak? Perempuan miskin yang bekerja sebagai buruh di suatu pabrik yang bekerja selama sehari hanya memperoleh upah berkisar Rp 10.000,- sedangkan pekerja laki-laki dengan pekerjaan yang sama memperoleh upah Rp 12.500,-. Perbedaan itu terlihat nyata dan banyak terjadi dikomunitas pekerja perempuan. Siapapun yang miskin baik laki-laki atau perempuan tidak akan mampu mendapatkan akses ekonomi dan pendidikan yang layak, apabila eksploitasi pekerjaan tetap berlangsung. Bahkan, banyak para pembantu rumah tangga yang umumnya para perempuan muda tidak dibayar oleh majikan. Keadaan ini menambah miris, apabila terjadi pada perempuan yang bekerja pada sektor pekerjaan yang eksploitatif. Misalnya, pekerjaan pabrik yang mengandalkan keterampilan tangan, mengelinting rokok, atau menjahit pakaian. Mereka memperoleh upah dibawah pekerja laki-laki pada banyak perusahaan. Ironinya, tenaga perempuan semakin dibutuhkan oleh perusahaan bermodal besar dengan alasan pekerja perempuan lebih murah. Alasan ini berlaku pada hukum ekonomi kapitalisme. Bagaimana mengusahakan biaya produksi rendah, dan mengeruk laba setinggi-tingginya. Tenaga perempuan sebagai alibi dengan membayar murah keringat para buruh perempuan guna memperoleh laba yang tinggi. Kenyataan ini menodai perjuangan keadilan yang didengungkan oleh sistem demokrasi yang tengah dipuja oleh banyak orang.

Perbedaan kaya dan miskin juga terjadi pada akses pendidikan. Akses memperoleh kualitas pendidikan adalah hak setiap individu. Misalnya, Tuntutan kesejahteraan keluarga untuk bidang kesehatan dan pendidikan. Kini akan terlihat nyata bagaimana komplek sekolah elit yang kaya fasilitas hanya bisa diakses oleh orang-orang yang memiliki ekonomi menengah keatas, sedangkan sekolah negeri yang miskin fasilitas diakses oleh orang-orang dari ekonomi kelas rendah.

Lalu bagaimana mewujudkan rasa adil bagi upah pekerja perempuan? Pertama, Kemauan untuk menyamakan upah pekerja laki-laki dan perempuan. Persamaan upah antara pekerja laki-laki dan perempuan adalah wujud keadilan. Sebaliknya, Perbedaan upah yang disandarkan pada jenis kelamin yang menganggap perempuan lebih lemah dan lebih rendah dari laki-laki adalah pandangan yang tidak adil. Keadilan akan terwujud, apabila ada kesamaan dalam menghargai kinerja baik laki-laki dan perempuan secara profesional.

Kedua, Gerakan organisasi pemberdayaan yang menyurakan isu persamaan upah. Gerakan ini menjadi nilai penting bagi perjuangan pergerakan perempuan pada sektor ekonomi. Perempuan mesti dinilai sebagai manusia yang sama dengan laki-laki. Perempuan memiliki tenaga dan mampu mengusahakan kinerja yang maksimal secara profesional. Sebagai manusia, perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama besarnya untuk memperoleh keterampilan dan mengusahakan kinerja yang profesional. Kesempatan untuk memperoleh hak-hak yang sama atas upah mereka adalah hak setiap pekerja perempuan.

Ketiga, Meningkatnya gerakan kerja oleh kaum perempuan di sektor publik, menuntut perempuan mesti belajar secara terus menerus. Pekerja di bidang tertentu akan membutuhkan inovasi, kreativitas serta kecerdasan yang selalu baru. Peran perempuan yang bekerja di perusahaan atau di perkantoran mesti mengejar ketertinggalan mereka. Menguatnya tuntutan profesionalisme meniscayakan adanya kompetisi makin tinggi antara pekerja satu dengan yang lain.

Keempat, Sikap profesionalisme yang tinggi bagi pekerja perempuan. Mengapa pekerja perempuan mesti profesional? Tuntutan perusahaan global menekankan efisiensi pegawai/pekerja. Tuntutan efisiensi semakin nyata dengan rampingnya jumlah tenaga kerja yang semakin kecil dengan kemampuan profelional. Kenyataan inilah yang menyebabkan perempuan mesti bersaing ketat. Misalnya, saat penerimaan pekerja di perusahaan. Perusahaan membutruhkan satu pekerja dengan jumlah pelamar laki-laki dan perempuan sangat banyak peminatnya. Secara matematis, perusahaan akan merekrut satu orang tersebut akan diberikan pada laki-laki daripada perempuan. Mengapa? Perempuan akan banyak mengalami cuti, saat menstruasi dan melahirkan serta merawat anak-anak mereka. Pada saat inilah, sikap profesionalisme perempuan mesti teruji dengan laki-laki. Bagi perempuan yang memiliki kemampuan professional yang lebih tinggi dari kemampuan laki-laki dan bisa memilih resiko akan memperoleh peluang pekerjaan. Ketika proses wawancara berlangsung, maka sikap tegas perempuan berani mengambil resiko dari setiap pilihan mereka menjadi suatu yang tidak mudah bagi perempuan.

Terkadang, memilih peran domestik atau peran publik menjadi problem pelik bagi perempuan karier. Pada saat peran domestik tengah menunggu tangan-tangan kasih perempuan sebagai ibu hamil, menyusui dan merawat anak-anak serta pekerjaan rumah tangga lainnya akan membuat perempuan berpikir lebih arif untuk meneruskan karier bekerja di perusahaan atau cuti sementara waktu. Pilihan cerdas perempuan itu merupakan hal yang unik bagi perempuan untuk mengambil keputusan sesuai keinginan masing-masing. Sikap gamang, tidak menentu terkadang membuat pekerja perempuan dihargai dengan lebih rendah. Sebaliknya, sikap berani menuntut hak-hak pembayaran upah yang sama dengan laki-laki akan meniscayakan perempuan lebih sejahtera bekerja secara professional. Akhirnya, perempuan perlu belajar melawan rasa takut mereka untuk memperoleh hak-haknya.