Suara Hati Seorang Perempuan

Monday, December 25, 2006

Kegelisahan Penulis

Lama saya tidak menggoreskan pena tentang rasa dan hati serta pikiran. Saya tenggelam diantara selaksa malam dan sinar terang. Saya tidak kuasa menghadapi gelombang diam. Terkadang, rasa takut itu menghampiri, takut kehilangan bakat menulis. Takut rasa peka terus berlalu dari alur pikiran dan hati. Terkadang, ada kerinduan teramat sangat menenggelamkan diri ke dunia tulis menulis. Tetapi, kenapa semua itu sekarang terasa berat?

***

Kegelisahan Penulis

Oleh: Najlah Naqiyah



Lama saya tidak menggoreskan pena tentang rasa dan hati serta pikiran. Saya tenggelam diantara selaksa malam dan sinar terang. Saya tidak kuasa menghadapi gelombang diam. Terkadang, rasa takut itu menghampiri, takut kehilangan bakat menulis. Takut rasa peka terus berlalu dari alur pikiran dan hati. Terkadang, ada kerinduan teramat sangat menenggelamkan diri ke dunia tulis menulis. Aku ingin mengasah potensi terus menerus. Aku ingin menulis tentang segala rasa, perasaan dan pikiran. Mewujudkan keinginan tidaklah semudah yang saya angankan. Saya masih terlena dengan diam dan bermalas-malasan. Diam diantara sunyi dengan mengetik di kompi. Merenung dan berpikir mencari sebuah kebenaran.

Kala hening begini, saya teringat dengan William Faulkner, seorang penulis peraih hadiah Nobel. Saya pernah singgah ke rumahnya di Rowan Oak Center, Oxford Mississippi USA di bulan Mei 2006. Rowan Oak, adalah tempat tinggal penulis yang memenangkan Nobel Prize. Rumah bersejarah itu berdekatan dengan universitas Mississippi, tapi bukanlah milik universitas. “Rowan Oak adalah dunia pribadi milik William Faulkner, dalam kenyataan dan khayalan. Khayalannya berasal dari cerita daerah suku Indian, pelarian budak-budak, kolonel-kolonel tua, spinters yang memberikan pelajaran lukisan Cina dan kenangannya sendiri of coming age di selatan yang terpecah antara tradisional dan modern.

Faulkner menghabiskan waktu bertahun-tahun di Rowan Oak untuk menulis cerita-cerita dan novel di koran, puncaknya ia memperoleh hadiah Nobel Prize tahun 1950 untuk karyanya yang cemerlang. Ia adalah salah satu pengarang terkenal di dunia, dari berbagai forum, masyarakat dan media massa di penjuru dunia mengagumi karyanya.
Saya melihat rumahnya yang kini menjadi museum, seperti sebuah kenangan hidup seorang penulis yang telah menghabiskan waktu hidupnya dengan tulis menulis.

Saya berkunjung ke rumah Faulkner yang asri dan kondusif. Rumah yang sangat indah untuk merenung dan memperoleh ide. Rumah yang sepi, sunyi dari keramaian. Rumah itu dikerumini oleh pohon-pohon tinggi layaknya rumah tengah hutan. Disamping rumah ada aliran sungai bening. Di dalam rumahnya, Faulkner menuliskan ide-ide berlian. Rumah dengan buku-buku berderet rapi tertata diantara rak-rak lemari. Dan yang paling menarik perhatian saya ialah bagaimana keseharian hidup Faulkner di rumahnya ?

Keseharian Faulkner menulis cerita dan novel di rumahnya. Biasanya Faulkner menulis di taman dan di kamar pribadinya. Kamar pribadi Faulkner terasa sangat unik. Faulkner menuliskan setiap karya-karyanya di tembok kamar. Ia selalu menuliskan ide-idenya di tembok kamar dengan tangannya sendiri di dinding kamar pribadinya. Saya melihat seluruh kamar, penuh tulisan ide dan gagasan yang teringkas dari karya besar Faulkner. Ketika saya membaca satu persatu tulisan tangan di dinding kamar Faulkner, saya terpukau. Saya terpaku di depan dinding sambil membaca setiap tulisan yang ada sambil berkeliling. Saya merasakan kesungguhan Faulkner mengabdikan diri secara totalitas di dunia tulisan.

Saya mengagumi semangat dan komitmen serta kerja keras Faulkner. Saya salut sebagai penulis pemula dengan kobaran semangat Faulkner melahirkan karya. Setiap tahun selalu hadir karya tulis dari tangannya yang menerbitkan sebuah buku. Faulkner menunjukkan keseriusan melahirkan ide dan gagasan dengan segenap jiwa dan raga. Faulkner telah memilih jalan sepi untuk membaktikan diri pada karya tulis. William berjalan meretas hidup dengan menulis. Faulkner yang meninggal tetapi gagasannnya tetap bermakna dan hidup sepanjang zaman. Faulkner telah meninggalkan semangat bagi generasi selanjutnya. Mengikuti jejak Faulkner, banyak penulis terkenal seperti John Grisham, Larry Brown, Cynthia Shearer, dan Barry Hannah menjadikan Oxford tempat tinggal mereka.

Saya ingin seperti Faulkner yang memiliki semangat tinggi menjalani hari dengan bergelut dengan dunia tulis menulis. Saya ingin menekuni tulisan tentang perempuan dan segala perannya. Isu pemberdayaan perempuan meraih keadilan, kesetaraan gender, dan kesejahteran masyarakat. Tapi, lagi-lagi saya kalah melawan rasa malas. Saya masih terbelenggu oleh hasrat tidur, menonton televisi, dan berbelanja dari mal ke mal. Ketika saya bercermin pada diri Faulkner, betapa saya jauh dari kebiasaan menuliskan ide dan gagasan. Saya melihat diri saya kurang fokus ke dunia tulis menulis. Saya selalu saja ragu, apakah dunia tulisan akan membuat saya bisa tetap bertahan di tengah budaya materialisme di Indonesia. Sedangkan tuntutan ekonomi membuat saya berkeinginan untuk berbisnis, berdagang, mengurus rumah tangga dan mengajar di berbagai tempat mencari upah. Jika, sudah demikian, menulis jadi terabaikan dan saya merasakan resah, dan gelisah teramat dalam. Adakah budaya menulis bisa eksis dalam dunia kapitalisme?

Saya yakin, budaya tulis adalah budaya peradaban maju. Budaya tulis mewariskan ilmu bagi generasi mendatang. Budaya tulis akan mengekalkan ilmu pengetahuan. Tapi, hanya sedikit orang yang bergerak pada dunia tulisan. Hanya sedikit orang yang mau menghabiskan waktu membaca, berpikir, dan menuliskan ide gagasannya. Kebanyakan orang lebih menyukai berjalan-jalan, menghadiri pusat-pusat keramaian dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di waktu senggang.
Selengkapnya...


Smack-Down dan Kekerasan Anak

Penulis menemukan gejala perilaku kekerasan oleh anak-anak. Kekerasan disebabkan akibat menonton smack down di televisi. Kekerasan meningkat terjadi di anak-anak sekolah dasar, dan sekolah menengah. Kekerasan membawa korban anak-anak menderita, prestasi menurun dan kekerasan meningkat. Penelitian oleh Guru di Bali tahun 2004, menemukan ada perbedaan pengaruh televisi terhadap kemajuan prestasi siswa SMP secara signifikan. Penelitian ini melihat fariasi prestasi yang dihasilkan anak-anak yang melihat televisi dan tidak melihat televisi saat usia SMP. Anak-anak yang tidak memiliki televisi dan tidak menonton televisi, prestasinya mengalami peningkatan. Sedangkan anak-anak yang memiliki televisi dan sering menonton televisi prestasinya menurun setelah tiga tahun. Lalu, bagaimana selanjutnya?



***

Smack-Down dan Kekerasan Anak

Oleh: Najlah Naqiyah


Penulis menemukan gejala perilaku kekerasan oleh anak-anak. Kekerasan disebabkan akibat menonton smack down di televisi. Kekerasan meningkat terjadi di anak-anak sekolah dasar, dan sekolah menengah. Kekerasan membawa korban anak-anak menderita, prestasi menurun dan kekerasan meningkat. Penelitian oleh Guru di Bali tahun 2004, menemukan ada perbedaan pengaruh televisi terhadap kemajuan prestasi siswa SMP secara signifikan. Penelitian ini melihat fariasi prestasi yang dihasilkan anak-anak yang melihat televisi dan tidak melihat televisi saat usia SMP. Anak-anak yang tidak memiliki televisi dan tidak menonton televisi, prestasinya mengalami peningkatan. Sedangkan anak-anak yang memiliki televisi dan sering menonton televisi prestasinya menurun setelah tiga tahun.

Kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak menjadi sorotan utama di media massa. Apa yang menimpa anak-anak terkesan layak publikasi dan laris di pasaran. Misalnya, heboh soal perebutan hak asuh anak-anak selebriti yang melakukan gugatan cerai, trafficking anak-anak, pengemis anak-anak, anak jalanan terlantar dan perilaku smack down anak-anak merenggut korban. Persoalan anak selalu menarik bagi para orang tua. Persoalan pengasuhan, perawatan anak dan kekerasan adalah topik aktual. Bagimana orang tua menentukan pola asuh anak, bersikap anak, dan bagaimana mendidik terbaik sebagai perhatian orang tua. Anak merupakan buah hati, tumpuan hidup dan kebanggaan orang tua. Sedapat mungkin para orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Alih-alih orang tua memanjakan anak dengan membebaskan anak menikmati televisi, video game, playstation, justru yang terjadi anak menjadi korban dari tayangan smack down. Dilema ini membuat orang tua seperti kecolongan akan dampak negatif televisi.

Sebagian orang tua memosisikan televisi sebagai pengasuh, guru, kawan, sekaligus orang tua bagi anak-anak. Televisi telah masuk ke kamar-kamar anak-anak dan menjadi teman bermain anak mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Bagaimana menyikapi fenomena anak yang kian mencontoh perilaku kekerasan di televisi?


Smack down adalah tayangan bernuansa kekerasan. Smack down merupakan aksi adu otot, saling tinju dan pukul antara manusia, memicu anak meniru. Perilaku meniru (sifat imitatif) bagi anak-anak adalah wajar di usia perkembangan anak. Anak membutuhkan model untuk mereka tiru. Menurut anak, apa yang mereka lihat di televisi adalah orang hebat dan terkenal. Lalu, anak meniru perilaku smack down di televisi agar dianggap sebagai orang hebat. Anak-anak belum bisa berpikir jernih, apakah perilakunya berbahaya bagi dirinya dan juga orang lain. Anak mencoba menirukan apa yang mereka saksikan. Anak hanya memikirkan kesenangan dan bagaimana memamerkan kekuatannya ke orang lain.

Anak-anak sangat senang pamerkan kekuatannya di depan orang tua, teman dan orang lain yang mereka temui. Dunia anak-anak penuh sensasi, mereka senang mencoba hal-hal baru. Perilaku memicu anak mencoba meniru tayangan smack down dari televisi, maka anak sering melakukan perilaku smack down di dunia nyata anak untuk memamerkan kekuatannya ke orang lain. Smack down anak-anak telah menuai korban, seperti anak menderita sakit patah tulang, terkilir, terluka bahkan meninggal dunia.

Biasanya, anak melakukan smack down bersama kawan-kawannya saat istirahat di sekolah, di tempat bermain. Bahkan ada juga anak-anak penggertak (bully) melakukan tindak kekerasan terhadap anak lain untuk menekan, mengintimidasi dan melukai. Anak-anak dengan sifat penggertak memiliki cirri-cirisebagai berikut, bertubuh lebih besar dari usia sebaya, senang menyaksikan orang lain ketakutan, mengadu kekuatannya dengan adu otot dan saling memukul, menendang ke anak yang lebih kecil.

Bagaimana jalan keluar agar anak-anak tidak melakukan kekerasan smack down? Pertama, masyarakat mesti ikut mengkontrol acara televisi agar menghentikan tayangan kekerasan. Anak-anak tidak bisa dibiarkan menyaksikan kekerasan setiap saat. Menjelaskan ke anak-anak agar tidak menonton smack down tidaklah mudah, apalagi bagi anak-anak yang terbiasa melihat televisi. Untuk itu, peran masyarakat mengkontrol dan ikut berpartisipasi menentukan ragam acara di televisi perlu dilakukan. Orang tua dan masyarakat perlu melakukan kritik terus menerus terhadap acara pertelevisian yang ada. Jika, masyarakat hanya bersifat pasif, maka akan terjadi tayangan yang merugikan masyarakat.

Kedua, Orang tua memerlukan banyak kesabaran untuk mendampingi anak melihat televise. Pendampingan orang tua saat anak menonton televise perlu dilakukan. Orang tua mesti sebanyak mungkin bersama dan mendampingi anak saat melihat televisi. Setelah melihat bersama, para orang tua bisa berkomunikasi dengan anak tentang dunia anak, bagaimana imajinasi mereka setelah melihat filim di televise. Orang tua perlu bercerita dan mempengaruhi anak untuk menanamkan nilai agama dan budaya setempat. Orang tua perlu mengcounter nilai-nilai yang terdapat di filim, muatan smack down yang penuh dengan kekerasan, kebebasan, kapitalisme, kepongahan, kesenangan hiburan dengan nilai-nilai agama yang syarat dengan kelembutan, kesederhanaan, kebaikan dan kesejahteraan bagi sesama.

Ketiga, Pemerintah perlu memberikan kebijakan bagi pihak pertelevisian untuk memberikan batasan, mana konsumsi tontonan umum, mana tontontan khusus bagi orang dewasa. Tanpa aturan, maka televisi hanya akan menjadi biang sampah bagi masyarakat memicu melakukan kekerasan. Kebijakan memberikan batasan bagi program televisi sudah banyak dilakukan di luar negeri, seperti Amerika Serikat. Tidak semua orang bisa menonton acara film untuk orang dewasa. Ada tarif khusus atau kode tertentu yang hanya bisa diakses oleh orang tua dengan merahasiakan kode nomornya terhadap anak-anak di bawah umur.
Selengkapnya...