Kegelisahan Penulis
***
Kegelisahan Penulis
Oleh: Najlah Naqiyah
Lama saya tidak menggoreskan pena tentang rasa dan hati serta pikiran. Saya tenggelam diantara selaksa malam dan sinar terang. Saya tidak kuasa menghadapi gelombang diam. Terkadang, rasa takut itu menghampiri, takut kehilangan bakat menulis. Takut rasa peka terus berlalu dari alur pikiran dan hati. Terkadang, ada kerinduan teramat sangat menenggelamkan diri ke dunia tulis menulis. Aku ingin mengasah potensi terus menerus. Aku ingin menulis tentang segala rasa, perasaan dan pikiran. Mewujudkan keinginan tidaklah semudah yang saya angankan. Saya masih terlena dengan diam dan bermalas-malasan. Diam diantara sunyi dengan mengetik di kompi. Merenung dan berpikir mencari sebuah kebenaran.
Kala hening begini, saya teringat dengan William Faulkner, seorang penulis peraih hadiah Nobel. Saya pernah singgah ke rumahnya di Rowan Oak Center, Oxford Mississippi USA di bulan Mei 2006. Rowan Oak, adalah tempat tinggal penulis yang memenangkan Nobel Prize. Rumah bersejarah itu berdekatan dengan universitas Mississippi, tapi bukanlah milik universitas. “Rowan Oak adalah dunia pribadi milik William Faulkner, dalam kenyataan dan khayalan. Khayalannya berasal dari cerita daerah suku Indian, pelarian budak-budak, kolonel-kolonel tua, spinters yang memberikan pelajaran lukisan Cina dan kenangannya sendiri of coming age di selatan yang terpecah antara tradisional dan modern.
Faulkner menghabiskan waktu bertahun-tahun di Rowan Oak untuk menulis cerita-cerita dan novel di koran, puncaknya ia memperoleh hadiah Nobel Prize tahun 1950 untuk karyanya yang cemerlang. Ia adalah salah satu pengarang terkenal di dunia, dari berbagai forum, masyarakat dan media massa di penjuru dunia mengagumi karyanya.
Saya melihat rumahnya yang kini menjadi museum, seperti sebuah kenangan hidup seorang penulis yang telah menghabiskan waktu hidupnya dengan tulis menulis.
Saya berkunjung ke rumah Faulkner yang asri dan kondusif. Rumah yang sangat indah untuk merenung dan memperoleh ide. Rumah yang sepi, sunyi dari keramaian. Rumah itu dikerumini oleh pohon-pohon tinggi layaknya rumah tengah hutan. Disamping rumah ada aliran sungai bening. Di dalam rumahnya, Faulkner menuliskan ide-ide berlian. Rumah dengan buku-buku berderet rapi tertata diantara rak-rak lemari. Dan yang paling menarik perhatian saya ialah bagaimana keseharian hidup Faulkner di rumahnya ?
Keseharian Faulkner menulis cerita dan novel di rumahnya. Biasanya Faulkner menulis di taman dan di kamar pribadinya. Kamar pribadi Faulkner terasa sangat unik. Faulkner menuliskan setiap karya-karyanya di tembok kamar. Ia selalu menuliskan ide-idenya di tembok kamar dengan tangannya sendiri di dinding kamar pribadinya. Saya melihat seluruh kamar, penuh tulisan ide dan gagasan yang teringkas dari karya besar Faulkner. Ketika saya membaca satu persatu tulisan tangan di dinding kamar Faulkner, saya terpukau. Saya terpaku di depan dinding sambil membaca setiap tulisan yang ada sambil berkeliling. Saya merasakan kesungguhan Faulkner mengabdikan diri secara totalitas di dunia tulisan.
Saya mengagumi semangat dan komitmen serta kerja keras Faulkner. Saya salut sebagai penulis pemula dengan kobaran semangat Faulkner melahirkan karya. Setiap tahun selalu hadir karya tulis dari tangannya yang menerbitkan sebuah buku. Faulkner menunjukkan keseriusan melahirkan ide dan gagasan dengan segenap jiwa dan raga. Faulkner telah memilih jalan sepi untuk membaktikan diri pada karya tulis. William berjalan meretas hidup dengan menulis. Faulkner yang meninggal tetapi gagasannnya tetap bermakna dan hidup sepanjang zaman. Faulkner telah meninggalkan semangat bagi generasi selanjutnya. Mengikuti jejak Faulkner, banyak penulis terkenal seperti John Grisham, Larry Brown, Cynthia Shearer, dan Barry Hannah menjadikan Oxford tempat tinggal mereka.
Saya ingin seperti Faulkner yang memiliki semangat tinggi menjalani hari dengan bergelut dengan dunia tulis menulis. Saya ingin menekuni tulisan tentang perempuan dan segala perannya. Isu pemberdayaan perempuan meraih keadilan, kesetaraan gender, dan kesejahteran masyarakat. Tapi, lagi-lagi saya kalah melawan rasa malas. Saya masih terbelenggu oleh hasrat tidur, menonton televisi, dan berbelanja dari mal ke mal. Ketika saya bercermin pada diri Faulkner, betapa saya jauh dari kebiasaan menuliskan ide dan gagasan. Saya melihat diri saya kurang fokus ke dunia tulis menulis. Saya selalu saja ragu, apakah dunia tulisan akan membuat saya bisa tetap bertahan di tengah budaya materialisme di Indonesia. Sedangkan tuntutan ekonomi membuat saya berkeinginan untuk berbisnis, berdagang, mengurus rumah tangga dan mengajar di berbagai tempat mencari upah. Jika, sudah demikian, menulis jadi terabaikan dan saya merasakan resah, dan gelisah teramat dalam. Adakah budaya menulis bisa eksis dalam dunia kapitalisme?
Saya yakin, budaya tulis adalah budaya peradaban maju. Budaya tulis mewariskan ilmu bagi generasi mendatang. Budaya tulis akan mengekalkan ilmu pengetahuan. Tapi, hanya sedikit orang yang bergerak pada dunia tulisan. Hanya sedikit orang yang mau menghabiskan waktu membaca, berpikir, dan menuliskan ide gagasannya. Kebanyakan orang lebih menyukai berjalan-jalan, menghadiri pusat-pusat keramaian dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di waktu senggang.
Selengkapnya...


